Title : Love
Author : Choi Ra Ra a.k.a =DhoRha=
Cast : - Kim Dong Hyun
- No Min Woo
- Choi Ra Ra #eksis
Genre : ga tau apa #plakk
Lenght : One Shoot
NB : Ini FF pertama saya, mianhe kalo jelek.
HAPPY READING
All Author POV
“Masih lamakah?”
Seorang
namja berjalan mendekati namja yang lebih muda darinya. Figure lebih
muda terus asyik berkutat dengan kuas dan kanvasnya. Tak lama ia menoleh
dan mendapati figure yang lebih tua darinya itu sudah duduk di
sampingnya.
“Masih lama?”
Mengulang
pertanyaannya lagi karena tak juga mendapat jawaban. Figure lebih muda
tersebut tersenyum lalu mengangguk. Merapatkan kanvas pada dadanya.
Seolah takut figure lebih tua itu melihat hasil lukisannya.
“Wae? Ga boleh lihat lagi, eum?”
Mencoba
mengintip lukisan diatas kanvas meski ia tahu itu mustahil. Figure
lebih muda tersebut memang selalu menyembunyikan hasil lukisannya. Tak
membiarkan seorangpun tahu apa yang sedang ia lukis sampai lukisan itu
benar-benar selesai. Namun akhir-akhir ini berbeda. Figure lebih muda
ini sama sekali tak mau menunjukkan hasil karyanya. Entah apa yang ia
lukis disana hingga ia tak ingin siapapun tahu.
“Apa kau melukis seorang yeoja?”
Kembali
bertanya karena tak mendapat sambutan baik dari usahanya. Figure lebih
muda itu menggelen pelan. Memasukkan kanvasnya ke dalam tas yang
berukuran lumayan besar.
“Kau menggangguku, hyung. Kajja, kita pulang saja!”
Beranjak
dari duduknya sambil mempoutkan bibir. Kesal karena aktivitas yang
paling disukainya terganggu. Berjalan mendahului figure lebih tua yang
datang dengan sengaja untuk menjemputnya.
“Kajja!”
Merebut
tas yang menggantung dilengan kanan figure lebih muda. Balas mendahului
figure itu. Figure lebih muda itu hanya mendengus kesal. Sesekali
menendang kerikil di depannya. Figure lebih tua itu tersenyum kecil
menyadari tingkah figure lebih mudanya.
Kim Donghyun, nama
figure lebih tua itu dan figure lebih mudanya bernama No Minwoo. Rumah
mereka yang berhadapan membuat mereka dekat sejak kecil. Mereka terlihat
seperti saudara. Apalagi dengan sikap Minwoo yang sering bermanja pada
Donghyun. Sebagai anak tunggal dengan aktivitas orang tuanya yang padat
membuat ia merasa kesepian. Beruntung ia mempunyai tetangga yang baik
hati seperti Eomma Donghyun hingga ia pun tak merasa kehilangan sosok
Ibu.
Donghyun menunggu Minwoo di pintu pagar rumahnya.
Minwoo nampak memperlambat langkahnya melihat Donghyn yang malah asyik
bersandar pada pagar. Padahal awalnya ia ingin Donghyun membelikan ia
ice cream atau apapun yang akan membuatnya berhenti marah, seperti
biasanya. Namun hari ini nampaknya harapan itu hanya harapan kosong.
Jelas ia melihat Donghyun sama sekali tak merasa bersalah.
Kembali
mempoutkan bibirnya seraya merebut tasnya dari genggaman Donghyun.
Menyeret langkah menuju rumahnya sendiri. Masih kesal karena Donghyun
belum memanggilnya untuk makan malam atau setidaknya sekedar minta maaf.
Donghyun
memperhatikan Minwoo yang dengan malas pulang ke rumah. Ia terkekeh
kecil menyaksikan Minwoo yang ia rasa menunggu panggilannya untuk
berbalik dan makan malam bersamanya. Awalnya ia ingin membelikan Minwoo
ice cream untuk meredakan emosi Minwoo. Tapi ia terlalu gemas melihat
tingkah Minwoo yang seperti anak kecil jika sudah marah. Jadi ia
mengurungkan niatnya dan membiarkan Minwoo menunggu hadiahnya yang lain.
***
“Hyung, gomawo!”
Memeluk
tubuh figure lebih tua dihadapannya. Kim Donghyun. Ia baru saja
memberikan figure lebih muda itu kanvas dan cat baru. Raut wajah Minwoo
yang semula kesal dengan kedatangan Donghyun ke rumahnya kini berubah
senang. Tak hentinya ia tersenyum seraya melukis diatas kanvas barunya.
Donghyun hanya tersenyum kecil melihat tinggah Minwoo yang kekanakan.
***
Donghyun
mengamati benda dalam di tangannya. Sebuah kalung berliontin ‘M’.
Sengaja ia beli sebagai kado ulang tahun Minwoo. Namun bulan sudah
berganti berkali-kali sejak ulang tahun Minwoo berlangsung. Dan kalung
itu belum jatuh juga pada sang pemilik. Memberi kesan kalau kalung itu
memang takkan menjadi milik siapapun.
Tok Tok Tok
Mendengar
ketukan pintu dari luar kamarnya. Beranjak dari posisi tidurnya dan
berjalan ke arah pintu. Membukanya dengan malas karena ia tahu siapa
yang akan datang. Siapa lagi kalau bukan ibunya? Ia tahu kalau ibunya
hanya akan bertanya tentang pendamping hidupnya. Sudah hampir 23 tahu,
ia sama sekali belum pernah berpacaran. Ibu mana yang tidak khawatir?!
“Surprise!!!!”
Reflek
menutup telinganya mendengar suara nyaring dari dua orang di
hadapannya. No Minwoo dan .. Seorang yeoja? Mengernyitkan dahi. Mencoba
mengenali siapa pemilik wajah cantik dihadapannya. Nihil. Benar-benar
tak mengenalinya. Hingga sadar kalau dua orang dihadapannya itu sudah
memasuki kamarnya dan mengacak tempat tidur yang belum lama ini ia
rapikan.
“Nuguseyo?”
Bertanya
pada yeoja yang kini sudah berada dihadapannya. Masih mencoba mengenali
siapa gerangan yeoja yang dengan sembarangan memasuki kamar seorang
namja.
“You don’t know me?”
Balik
bertanya pada sosok namja dihadapannya yang terlihat bingung. Tersenyum
kecil mendapati sosok dihadapannya ternyata benar-benar tak
mengenalinya.
“Hyung, kau lupa padanya? Bukankah dulu kalian sangat akrab?”
Minwoo
mulai ambil suara dan menelantarkan kaleng minuman dan snack yang ia
bawa. Menatap Donghyun yang mencoba menggqali ingatannya.
“Choi Rara?!”
Mencoba
ngengucapkan sebuah nama yang menjadi tabu baginya sejak 6 tahun
terakhir. Cinta pertamanya yang kandas bahkan sebelum ia memulainya.
Choi Rara, sepupu No Minwoo yang 6 tahun lalu harus ikut ayahnya ke
Jepang, tentu saja karena pekerjaan ayahnya. Meninggalkan Donghyun yang
saat itu sebenarnya ingin menyatakan perasaannya.
“Kyaa, oppa ternyata masih ingat padaku,”
Memeluk
Donghyun erat mendengar namanya disebut. Ia senang Donghyun masih
mengingatnya meski ia dan Donghyun sudah tak bertemu selama 6 tahun.
“Jadi kau yeoja bawel dan menyebalkan itu?”
Donghyun
melayangkan tatapan sinisnya. Sedikit memberi pelajaran pada figure
cantik dihadapannya. Sedang figure cantik itu mulai menunduk. Raut
wajahnya menunjukkan kalau ia merasa sangat bersalah. Sedikit mengingat
masa lalu. Dimana ia mengingkari janjinya untuk bertemu Donghyun di
taman dan pergi tanpa pamit ke Jepang. Membuat Donghyun menunggunya di
taman dan terkena flu karena tiba-tiba saja turun salju.
“Hyung, Noona, itu sudah enam tahun bukan? Sudahlah!”
Minwoo
mencoba menengahi. Figure paling muda itu mencoba menenangkan noonanya
dengan mengelus punggungnya. Namun matanya juga tak lepas dari Donghyun
yang nampak tersenyum tipis melihat keduanya. Mengernyit bingung dengan
sikap seseorang yang ia anggap kakak itu.
“Bwahahaha,”
Tawa Donghyun pecah setelah melihat raut cemas dari wajah Minwoo dan tentu saja kesedihan dari Rara.
“Oppa! Kau senang sekali membuatku sedih,”
Rara
mempoutkan bibirnya dan melempar Donghyun dengan bantal disampingnya.
Donghyun meringis mendapat lemparan jitu dari cinta pertamanya itu.
Meski pada kenyataannya lemparan bantal itu tak membuatnya sakit sama
sekali.
“Kalian kekanakan!”
Berucap
pelan melihat kejadian konyol di hadapannya. Sedikit iri, mungkin.
Karena wajahya kini tak sebahagia tadi. Ada raut cemas bercampur luka
disana.
“Kau yang masih anak-anak! Hahaha,”
Donghyun
dan Rara membalas ucapan Minwoo berbarengan. Tertawa bersama karena
pikiran yang sejalan. Sedangkan yang dikatai hanya menampakkan wajah
sedih. Tak rela karena tak mendapat teman kelompok untuk melawan ucapan
mereka. Dua lawan satu, sudah pasti dia yang kalah. Apalagi ia tak
terlalu pandai bicara.
“Maafkan kami saengi, tadi cuma refleks,”
Rara
mencoba meluluhkan adik sepupunya itu. Membalas apa yang dilakukan
Minwoo padanya tadi. Memeluk Minwoo dan mengelus punggungnya lembut.
Minwoo tersenyum kecil lalu meleletkan lidahnya ke arah Donghyun.
Sungguh kekanakan.
***
“Noona akan pergi lagi?”
Minwoo
mengeratkan pelukannya pada tubuh Rara. Rara hanya menganggukan
kepalanya. Tangisnya sudah pecah sejak tadi. Ia benar-benar sedih karena
harus meninggalkan Minwoo, terutama Donghyun. Sama seperti enam tahun
lalu. Ia juga tak berpamitan padanya. Terlalu takut tak bisa kembali ke
Jepang. Sungguh ia hanya ingin di Korea saja. Bersama Minwoo dan
Donghyun.
“Noona tak beritahu hyung lagi? Ia pasti marah,”
Mencoba
mengingatkan noona-nya tentang kejadian enam tahun silam. Mengingat
Donghyun benar-bena frustasi saat itu. Tak ingin hyung yang disayanginya
itu kembali bersedih. Egois memang. Tapi itu semua karena ia sayang
keduanya. Terlebih Donghyun-nya. Ah, seandainya bisa ia mengatakan hal
itu.
“Kau jahat noona. Kau tahu kan kalau dia menyukaimu,”
Menatap
manik coklat milik Rara. Mencari jawaban tentang perasaan Rara
sesungguhnya. Ia benar-benar tak mengerti tentang sepupunya satu ini.
Kadang ia menunjukkan ketertarikannya pada Donghyun. Tapi ia sering
sekali membuat Donghyun terluka. Hal yang tak mungkin dilakukan jika kau
mencintai seseorang.
“Dan aku juga tahu kalau kau menyukainya, No Minwoo,”
Berkata
dalam hati. Tak mungkin mengungkapkannya karena takut melukai figure
tampan dihadapannya. Ia benar-benar berusaha untuk berpikir kalau ini
hanya pikiran buruknya saja.
-On Of Flashback–
“Rara kau mau ice cream?”
Donghyun
menyodorkan cup ice cream rasa cokelat pada Rara. Rara menerimanya
dengan riang. Senang jika orang yang begitu ia sukai memperhatikannya.
“Hyung, aku juga mau,”
Minwoo
merengek sambil menarik ujung baju Donghyun. Rara memandangnya lucu.
Minwoo-nya begitu imut ketika merengek dan menunjukkan puppy eyes andalannya. Donghyun kembali ke kedai ice cream dan membelikan satu lagi ice cream untuk dongsaeng kesayangannya.
“Noona menyukai hyung?”
Tiba-tiba
saja Minwoo bertanya seperti itu. Rara yang sedang memakan ice
cream-nya menoleh. Tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan
sepupunya itu. Ia masih 10 tahun bukan?!
“Wae? Kau menyukainya?
Tanya Rara usil. Lalu melambai ke arah Donghyun yang berjalan ke arahnya. Menunjukan deretan giginya yang rapi.
“Eum. Aku menyukai hyung. Aku ingin menikah dengan hyung suatu hari nanti,”
Minwoo
berucap dengan gembira. Hati Rara mencelos. Menghentikan kegiatannya
melambai pada Donghyun. Tak menyangka Minwoo akan mengatakan hal seperti
ini. Ia tahu kedekatan dua orang itu. Tapi ia tak pernah berfikir
sebelumnya kalau Minwoo akan memiliki perasaan seperti ini.
“Wae noona? Tidak boleh? Noona juga menyukainya?”
Minwoo
memandang Rara dengan imut. Sesekali mengerjapkan matanya. Detakan
jantung Rara melonjat cepat seolah akan meledak. Sakit yang luar biasa
parahnya yang baru pertama kali ia rasakan.
“Minwoo-ya, ini untukmu!”
Suara Donghyun memecah lamunannya dan saat itu, gelap. Rara pingsan
- Flashback End –
“Gwenchana Minwoo-ya. Biarkan dia membenciku hingga lupa semua tentangku seperti kemarin,”
Jawab
Rara akhirnya. Menutupi sakitnya. Ia begitu menyayangi Minwoo. Takkan
biarkan sepupu yang sudah ia anggap adik itu bersedih karena harus
mengalah padanya. Bukankah mereka berdua sangat dekat? Namja tampan
dengan namja cantik di sisinya. Biarkanlah ia mengalah dan kembali ke
Jepang, ke tempat dimana seharusnya ia berada. Tempat dimana ada
seseorang menantinya. Tak peduli ia suka atau tidak. Jodohnya. Jodoh
pilihan orang tuanya. Takdirnya kelak.
Memeluk Minwoo sekali lagi.
Begitu rindu dengan sepupunya itu padahal ia belum beranjak sama
sekali. Mengecuk pucuk kepala Minwoo lama. Tahu kalau ia mungkin takkan
kembali ke Korea. Takkan bertemu Minwoonya jika Minwoo tidak pergi
sendiri ke Jepang.
“Kau harus bahagia, eoh?”
Melangkah
pergi meninggalkan Minwoo yang sedang berkaca menatap kepergian sosok
noona, bahkan ibu baginya. Sedikit menyadari kepergian noona-nya itu
karenanya. Karena dia yang terlalu rapuh. Karena dia yang tak bisa
meninggalkan hyung yang disayanginya. Sedikit menyesal. Kenapa harus
suka? Bukankah mereka sama. Mereka pria. Mereka...
“Minwoo-ya!”
Suara
yang begitu familiar di telinganya. Berbalik melihat makhluk Tuhan
paling tampan yang pernah dilihatnya. Donghyun. Kim Donghyun. Hyung-nya.
“Dia sudah pergi hyung,”
Berucap
lirih. Menyesal tidak tahu sejak awal tentang perasaannya yang salah
dan tentang, noona-nya. Tak ingat kalau dulu ia pernah bilang pada noona
tercintanya kalau ia ingin menikah dengan sosok dihadapannya. Bodoh.
Mengutuk dirinya sendiri.
“Dia takkan pulang?”
Menitikkan
air mata yang sudah enam tahun ini tak juga jatuh dari matanya. Begitu
sedihkah? Terlalu berhargakah? Padahal sempat lupa. Atau pura-pura lupa?
Mendudukan tubuhnya pada kursi di dekatnya. Tak mampu menahan beban
tubuhnya sendiri saking syoknya. Kembali kehilangan orang yang ia
cintai. Atau berusaha ia lupakan? Tapi ingat lagi bukan? Teringat kata
eommanya, “Orang yang tak bisa dilupakan akan terlupakan, tapi kemudian teringat lagi,”.
Membenarkannya. Ia sudah melupakan gadis itu. Choi Rara. Benar-benar
melupakannya hingga kemarin. Saat bertemu dengannya sekali lagi.
Membiarkan otaknya mengingat siapa gadis dihadapannya. Sedikit senang
karena rindunya terlepaskan. Tapi.. Tapi semuanya...
“Hyung,”
Mendongkak melihat seseorang yang memanggilnya lirih. Minwoo. Dongsaengnya. Sepupu dari orang yang dicintainya.
“Saranghae,”
Memeluk
tubuh kurus Minwoo. Semakin erat. Membuat sang pemilik sesak. Sekaligus
bahagia. Tak menyangka dengan yang dikatakan figure tampan yang
memeluknya. Mengembangkan senyum seraya membalas pelukan itu. Tak peduli
dengan rasa sesak yang ia rasakan tadi. Ia terlalu bahagia.
Drrttt. Drrtt.
Membuka pesan pada ponselnya.
From : Nae Cheonsa
“Gomawo oppa. Saranghae...”
To : Nae Cheonsa
“Bayar ini dengan kau harus bahagia”
***
“Tak
peduli harus sakit, aku akan buat kau bahagia. Tak peduli menyakiti
orang lain, aku akan buat kau bahagia. Termasuk merelakan orang yang
kucintai. Itu janji cintaku untukmu, No Minwoo”
=Choi Rara=
“Tak peduli jika sakit, atau dibuang sekalipun, aku akan tetap melakukannya. Itu janji cintaku, Choi Rara”
=Kim Donghyun=
“Cinta itu hanya menunggu. Entah bagaimana caranya, ia pasti akan datang. Itu cinta menurutku, Kim Donghyun”
=No Minwoo=
Jumat, 29 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar