Jumat, 29 Juni 2012

Boyfriend FacFiction - Mom and Me


Title : Mom and Me

Author : =DoRha=

Genre : Family

Lenght : One Shoot

Cast : No Minwoo a.k.a Kim Minwoo (Donghyun’s son)

Kim Donghyun a.k.a Kim Donghyun (Minwoo’s Father)

Choi Rara a.k.a Kim Rara (Donghyun’s wife a.k.a Minwoo’s step mother)

Dan yang malas saya sebutkan satu-satu #plakk

Note : Abal! Bagi yang ga mau baca mending baca sampe akhir dan bash saya! #author gila

HAPPY READING ^^

Minwoo’s POV

Aku menyusuri jalanan kompleks menuju rumah. Sebenarnya aku sangat malas untuk pulang. Tapi karena nyonya cerewet itu terus menelponku dan menyuruhku pulang, apa daya. Aku pulang juga. Lagi pula dari tadi Jo twins sudah mengusirku agar pergi dari rumah mereka. Teman macam apa mereka?! Temannya susah bukan dibantu malah diusir. Huh..

“Aish, Minwoo kau kemana saja, eoh?!” tanya nyonya cerewet itu a.k.a Choi Rara yang sekarang berganti marga menjadi Kim karena menikah dengan appaku! Kau dengar?! APPAKU!!!

Ck.

Miris sekali hidupku. Kau tahu, umurnya itu tak jauh beda denganku. Kami hanya terpaut 3 tahun. Aku 17 dan dia 20. Harusnya dia menjadi noonaku saja bukan!? Tapi entah apa yang appa miliki hingga nyonya cerewet ini sangat mencintainya dan ingin sekali menikah dengannya. Kim Donghyun, kalau saja kau bukan appaku, aku pasti sudah memenggalmu. Seandainya kau tahu kalau di sekolah aku sering mendapat ejekan karena dirimu dibilang pedofil. Oh My...

“Minwoo, kau makan malam dulu, ne? Appamu tidak pulang hari ini karena ada meeting diluar kota,” ucap nyonya cerewet itu padaku sambil berjalan dibelakangku. Aigoo, ia benar-benar seperti anak kecil kau tahu?! Jika appa ada di rumah, ia mengikuti appa kemanapun seperti anak kecil yang mengikuti induknya. Dan jika appa pergi, akulah korbannya!

“Minwoo, kau seharusnya menjawab jika orang lain bicara padamu,” ucapnya lagi. Ah, dasar cerewet.

“Memangnya kau bertanya padaku?” tanyaku.

“Memangnya tidak yah?! Tapi bukannya tadi aku memintamu untuk makan?” Ia memiringkan kepalanya dan menggigit jari telunjuknya. Kebiasaanya jika ia sedang berfikir. Ck. Dia bukan hanya kekanakan tapi dia juga bodoh.

“Ah, aku bingung. Tapi sebaiknya kau memberikanku jawaban atas permintaanku,” See? Benarkan kalau yeoja dihadapanku ini bodoh?!

“Memangnya kau minta apa?” tanyaku lagi. Menggodanya seperti ini adalah kesenangan sendiri untukku. Wajah bodohnya itu selalu membuatku ingin tertawa.

“Aku tidak minta apa-apa sih” ucapnya. “Tapi aku menyuruhmu makan, kan?” ia tampak ragu dengan perkataannya sendiri.

“Baiklah. Aku akan makan nanti,” seruku dari dalam kamar. Terlalu lama menunggunya berfikir akan membuatku mati cepat karena frustasi tahu!

Ku ganti seragamku dengan baju yang sudah disiapkan nyonya cerewet itu. Dia memang selalu menyiapkan perlengkapanku dengan appa. Seperti ibu sungguhan. Ah, dia memang eommaku sekarang.

Menuruni tangga karena kamarku yang berada di lantai dua. Ku lihat kalau nyonya cerewet itu sedang menyiapkan makanan di meja. Meski usianya masih muda, dalam urusan rumah tangga, dia cukup cakap. Memasak, membersihkan rumah, mencuci ia lakukan sendiri. Dulu, sebelum ia datang, aku dan appa pasti kerepotan. Appa paling tidak suka ada orang lain di rumahnya, jadi kami tak bisa menyewa pembantu.

“Minwoo-ah, kyeopta!” serunya riang. Ia segera menghampiriku dan menarikku duduk di kursi makan. Ia merogoh saku di celemeknya. Ia mengambil handphone ternyata.

“Ayo lihat kesini! Kau tampan sekali dengan baju yang baru aku dan appa belikan. Aku akan mengirim fotomu padanya,” ucapnya panjang lebar. Aku terpaksa tersenyum karena tak tega membiarkan wajahnya yang berseri-seri ini menjadi kusut karena satu perkataanku yang menyakitkan. Ah, kau perlu tahu hal lain tentangnya. Ia sedikit sensitif dengan kata-kata kasar. Ia akan menangis dalam waktu lama jika kau mengucapkan kata-kata kasar padanya.

“Sudah. Appamu pasti senang sekali,” Ia memasukan handphonya kembali dan ikut duduk bersamaku.

“Ayo makan!”

***

“Yuhuuu! Minwoo!!!” Kudengar suara nyonya cerewet di telingaku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada nyonya cerewet itu disini. Ah, benar juga. Masa ia nyonya cerewet itu ada disini. Dia pasti sedang kuliah sekarang.

Pletak

Sebuah jitakan maha dahsyat mendarat di kepalaku.

Argh.. Siapa yang melakukan ini.

“Ya! Adeul! Sudah aku bilang untuk membalas sapaan dari orang lain!” Ku dengar lagi suara nyonya cerewet itu. Kini aku menengok ke belakang.

Kyaaaa!!!

Ia benar-benar seperti hantu. Ada dimana-mana!

“Kau! Kenapa ada disini?” Tanyaku, sedikit berteriak. Kaget melihat ia sudah ada di sekolahku.

“Hehe. Aku mau mengajakmu belanja. Let’s Go!” Ia merangkul pundakku dan mengajakku menuju mobil barunya yang appa belikan sebulan lalu karena dia mendapat drive license. Ck.

Kami sudah berada di pusat perbelanjaan sekarang. Seperti yang kalian ketahui, menemani yeoja belanja adalah hal terburuk setelah kalah bermain game! Dan kini aku sedang merasakannya. Berjalan kesana kemari mencari barang yang ingin ia beli. Tapi sampai detik ini, setelah dua jam berputar-putar, ia sama sekali belum membeli apapun! BELUM MEMBELI APAPUN!!!

Untung saja sebelum ia memulai acara belanjanya, ia sudah mengisi perutku dengan banyak makanan. Hingga aku takkan berbicara banyak dan kembali menghabiskan energiku.

“Chagiya, apa ini bagus untuk appa?” Ia memperlihatkan kemeja lengan panjang bermotif kotak.

“Appa itu sudah tua. Tidak cocok dengan baju seperti ini,” ketusku. Aku benar-benar lelah.

“Jinja?! Bagaimana kalau polos seperti ini?”

“Appa sudah punya banyak di rumah,”

“Yang ini?”

“Tidak,”

“Ini?”

“Tidak,”

“Ah, yang ini?”

“Tidak,”

“Kalau begitu kau saja yang pilih!” bentaknya kesal. Ia menggembungkan pipinya imut. Ck, nyonya cerewet ini. Pegawai toko ini hanya terkekeh melihat kami. Ah, kau membuatku malu nyonya cerewet.

“Yang ini saja!” Aku mengambil baju asal.

“Minwoo pabo! Ini kan yang tadi aku tunjukan padamu!” Ia mendengus kesal. Mengerucutkankan bibirnya lalu membayar baju-baju yang dipilihnya tadi. Semoga setelah ini kami bisa pulang.

Ternyata ia masih belum mau pulang. Sekarang ia mencari baju untukku. Ck. Aku bisa membeli bajuku sendiri. Tidak perlu diantar seperti ini. Mengelilingi mall satu kali lagi. Ini lebih melelahkan dibanding berlatih dance 5jam nonstop!

“Aku ingin pulang,” rengekku akhirnya.

“Ne? Tidak bisa chagi,” ucapnya.

“Wae?” tanyaku.

“Kan kita mau makan malam di luar bareng appamu. Makanya aku ajak kau kesini biar tidak kesal menunggu di rumah. Lagipula tinggal se-jam lagi. Ayo kau cari baju saja. Biar bisa ganti,” jawabnya panjang dan lebar dan tinggi dan luas dan...

Sekarang aku tengah berada diantara seorang yeoja bodoh dan namja gila. Benar-benar membuatku tak berselera untuk makan. Meskipun wajah appaku tidak setua umurnya, tetap saja dia sudah tua. Tidak perlu bermesraan seperti anak remaja yang sedang kasmaran seperti ini. Dan yeoja ini, apa dia tidak malu jalan sama om-om. Yah meskipun ini om-om sudah menjadi suami sahnya.

“Chagi, kenapa ga dimakan?” tanya nyonya cerewet ini.

“Mau eomma suapin?!” tawarnya dengan mata berbinar seperti memenangkan undian senilai jutaan won.
“Aku tidak lapar,” seruku seraya memalingkan wajahku.

“Tapi nanti kau sakit. Makan sedikit saja, ne?” Ia menyodorkan makanannya ke mulutku. Aku melirik appa yang tengah terkekeh. Aish appa, harusnya kau menolong anakmu ini!

“Shireo!” Aku menepisnya menyebabkan sendok itu terjatuh ke lantai.

“Minwoo..” suaranya bergetar ketika mengucapkan namaku. Lalu berlari meninggalkanku dan appa yang terpaku tak tahu harus melakukan apa.

“Mianhe appa,” ucapku akhirnya.

“Gwenchana. Kita sama-sama tahu kan kalau dia itu sensitif?! Kau teruskan makanmu, appa akan mengejar Rara,”
Aku pulang sendiri karena appa dan nyonya cerewet itu pergi entah kemana. Lagi-lagi aku harus berjalan sendiri ke rumah. Melangkahkan kakiku pelan. Aku merasakan kakiku melayang. Terlalu lelah berkeliling mall, mungkin.

“Masuklah!” Ku tengok sumber suara. Nyonya cerewet itu dengan mobil barunya. Segera aku berlari dan masuk ke dalam mobil. Rumahku masih cukup jauh jika harus berjalan seperti tadi.

“Mianhe,” ucapku memecah keheningan yang tercipta sejak nyonya cerewet ini menginjak pedal gasnya. Ia tidak membalas ucapanku.

“Apa kau marah?” tanyaku. Ia masih diam.

“Kau bilang jika ada orang bertanya kau harus menjawabnya. Kenapa sekarang kau tak menjawab pertanyaanku?” tanyaku lagi. Ia masih teguh dengan pendiriannya. Aku menyerah. Mungkin ia benar-benar marah padaku.

***

Jam weker di sebelahku sudah menunjukkan angka 6. Tumben sekali nyonya cerewet itu belum berkoar memanggilku. Biasanya jam segini aku sudah harus rapi dan berada di meja makan. Tapi membangunkanku saja tidak. Apa dia lupa kalau ada namja imut yang sedang menunggunya di kamar ini?!

“Minwoo! Ayo sarapan!” ucap appa setelah berhasil membuka pintu kamarku. Padahal ku kira nyonya cerewet itu yang datang. Aku segera turun dan duduk di kursi makan.

Nyonya cerewet itu tidak masak apapun hari ini. Ia hanya menyiapkan roti dengan selai strawberry dan susu. Aku juga tidak tahu keberadaannya sekarang. Ia tidak sarapan bersama kami. Ah, dia benar-benar marah ternyata. Padahal biasanya dia sudah kembali dengan kebiasaannya yang cerewet dan menyebalkan. Eh?! Kenapa aku jadi merindukannya begini?!

Aku berangkat sekolah diantar oleh appa. Appa bilang nyonya cerewet itu sudah pergi ke kampusnya pagi-pagi sekali. Ini bukan kebiasaan nyonya cerewet itu sama sekali. Dia tidak pernah berangkat mendahului kami. Jikapun ia harus pergi pagi, ia akan pergi bersama kami. Tak peduli jika ia harus terlambat. Karena yang terpenting baginya adalah kami, keluarganya.

***

Sudah tiga hari sejak ia marah padaku. Ia sama sekali tak mau bicara padaku. Jika kami berpapasan ia segera pergi menghindariku. Saat makan juga. Ia lebih suka diam tak menanggapi ucapanku atau appa. Benar-benar bukan Rara yang ku kenal. Meski aku tahu dia sangat sensitif, dia juga paling mudah memaafkan orang lain. Tak perlu minta maaf juga dia akan tetap bersikap baik padamu. Tapi...

“Minwoo-Ah, waeyo?” Tanya appa padaku. Aku hanya menggeleng pelan dan melanjutkan kegiatanku, mengganti-ganti channel.

“Kau tidak pusing mengganti channel teru seperti itu?” Tanya appa lagi. Lagi-lagi, aku hanya menggeleng pelan. Aku sama sekali tak memperhatikan tivi ini appa.

“Kau memikirkan Rara, eoh?” Tanya appa lagi. Ku gelengkan kepala lagi.

“Lalu kau kenapa?”

Ku tinggalkan appa di ruang tengah dan pergi ke kamarku. Sepertinya appa ketularan nyonya cerewet itu. Ia kan biasanya tak pernah memperhatikan aku seperti itu. Kenapa sekarang tiba-tiba ia peduli padaku?

Ku hempaskan tubuhku di single bed yang nyonya cerewet itu belikan saat ia belanja beberapa bulan lalu. Jika ku pikir lagi, banyak sekali benda di rumah ini yang ia ganti. Beberapa hal yang tidak ia ganti hanya tata letak dan foto-foto eomma. Seandainya eomma masih ada disini, mungkin appa tak perlu menikah dengannya.

Tok tok tok

Pintu kamarku di ketuk. Terdengar suara appa mengajakku makan siang diluar. Mungkin ini kesempatan bagus untukku minta maaf pada nyonya cerewet itu.

Kuganti bajuku dengan baju yang dibelikan nyonya cerewet itu kemarin. Semoga saja ini bisa meluluhkan hatinya. Dia kan paling suka jika aku memakai barang pemberian darinya. Haha. Kau benar-benar jenius Kim Minwoo!!

***

Makan siang kali ini menjadi makan siang paling buruk dalam hidupku. Kami semua saling diam. Meski beberapa kali appa membuka pembicaraan, tak ada satupun dari aku atau nyonya cerewet itu yang menjawabnya. Terdengar dengusan kesal dari hembusan nafas appa. Jangan sampai appa marah lagi.

“Ya! Mau sampai kapan kalian seperti ini?” Tanya appa sedikit ketus. Meletakkan sendok dan garpunya kasar. Aku hanya diam. Nyonya cerewet itu juga. Tapi kulihat matanya mulai berkaca. Ingin menangiskah?!

“Masih diam?” sinis appa. Aku menundukkan wajahku. Aku tak tahu harus bicara apa.

“Kim Minwoo, kau tak mau bicara?” Tanya appa lagi. Aku masih diam.

“Kim Rara?”

Aku bangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan mereka. Entahlah. Aku malas berada disana. Udara disana membuatku sesak.

Minwoo POV End

Rara POV

Makan siang kali ini makan siang paling panjang seumur hidupku. Minwoo diam saja kursinya sedangkan Donghyun oppa membuka pembicaraan yang membuatku malas untuk terlibat. Ah, sampai kapan ini akan terjadi?

“Ya! Mau sampai kapan kalian seperti ini?” Tanya Donghyun oppa ketus. Aku diam saja. Rasanya ingin menangis saat ini juga. Tapi kalau tidak ingat Minwoo akan meledekku si cengeng, aku hanya bisa menahan tangisku sekarang.

“Masih diam?” sinis Donghyun oppa. Aku menundukkan wajahku. Aku benar-benar ingin menangis.

“Kim Minwoo, kau tak mau bicara?” Tanya Donghyun oppa lagi. Dengan pandanganku yang mulai kabur karena air di pelupuk mataku, ku lihat masih saja diam.

“Kim Rara?” Aku? AH, aku harus bicara appa. Aku sendiri tak tahu kenapa atmosfer disekitar sini terasa tak baik.
Air mataku jatuh ketika ku kedipkan mataku. Minwoo langsung pergi. Ah, sudah ku duga kalau Minwoo benci dengan sikapku yang cengeng. Tapi aku bisa apa. Aku sudah berusaha  menahan  tangis ini. Tetap saja terjatuh. Ku hapus airmata ini dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemana-mana.

“Hei, kau menangis?” tanya Donghyun oppa. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Ia mencim kedua mataku.

“Gwenchana, Minwoo tidak benar-benar marah padamu,” ucapnya kemudian. Aku hanya mengangguk.

Aku bangkit dari dudukku.

“Mau kemana?”

“Aku harus mencari Minwoo oppa. Dia belum makan apapun sejak kemarin,”

Ku langkahkan kakiku keluar restoran, mencari keberadaan Minwoo.

Rara POV End

Minwoo POV

Kriiiuuukkk..

Aduh. Aku lapar sekali. Sejak selamam aku belum makan apapun. Itu semua karena nyonya cerewet itu. Masa dia tidak masak apapun. Tadi pagi juga hanya ada roti. Aku benci saat dia marah seperti ini. Aku jadi kelaparan.

“Ini,” seseorang menyodorkan kotak makan padaku. Aku mendongkak. Kutemukan nyonya cerewet itu sedang tersenyum padaku. Aku mengerjapkan mataku. Mengucek mataku pelan. Aku mimpi, eoh?

“Ya! Aku sudah pegal! Ambil ini!” Ia menaruh kotak itu di pangkuanku. Kulihat ia punya kotak yang sama. Apa dia sengaja membelikannya untukku?! Tapi kan dia sedang marah padaku.

“Tidak dimakan?” Ia mengerjapkan matanya imut.

“Ye? Ani. Selamat makan!” ucapku.

Aku memakan makanan itu pelan. Rasanya sedikit canggung setelah beberapa hari ini tidak bicara padanya.

“Minwoo-ah, mianhe,” lirihnya. Aku menoleh ke arahnya. Ia menaruh sumpitnya diatas kotak itu. Memandang kotak itu hambar.

“Aku tahu. Aku seharusnya tidak boleh memaksamu menerimaku. Aku bahkan belum pantas menjadi seorang istri, apalagi ibu,”

Deg...

Apa maksudnya?

Aku memang agak sedikit kecewa ketika appa mengenalkan ia sebagai kekasihnya. Apalagi, aku sudah kenal nyonya cerewet ini sebelumnya. Tapi aku juga tak berhak melarang mereka kan? Eomma sudah meninggal sejak aku masih kecil. Appa pasti merasa kesepian setelah ditinggal eomma. Ketika memperkenalkan dia, appa kelihatan senang sekali. Jadi aku bisa apa?!

“Tapi aku mencintai appamu dan kau juga. Aku sayang kalian berdua,”

“Kau boleh membenciku jika itu membuatmu senang. Tapi kau harus tahu, kalau aku benar-benar menyayangimu. Bukan karena kau adalah anak Donghyun oppa, tapi karena kau, bocah kecil yang selalu menggangguku,”

Nyonya cerewet! Aku tak pernah membencimu, kau tahu?! Hanya saja aku sedikit cemburu karena kau malah menyukai appaku bukan aku. Seandainya kau tahu kalau sebenarnya sejak dulu aku menyukaimu. Sungguh, ketika appa mengenalkanmu sebagai kekasihnya aku shock, kecewa dan tentu saja cemburu. Tapi bukan berarti aku tidak menerimamu, nyonya cerewet. Bukan berarti aku membencimu.

“Hah. Seharusnya aku mengikuti kata appa untuk tidak menikah dengan appamu. Aku tidak tahu kalau kau akan benar-benar membenciku seperti ini,”

Ia tersenyum miris.

“Eomma,”

Ia mendongkakkan kepalanya. Terkejut, mungkin.

“Kau ingin aku menyebutmu eomma kan?”

Ia menoleh padaku. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutan.

“Baiklah. Aku akan memanggilmu eomma,”

Ia mengerjapkan matanya lagi. Aish, ia lebih mirip bocah berusia 5 tahun dibanding yeoja berusia 20 yang sudah memiliki suami dan anak. Dan aku lebih cocok menjadi oppanya jika seperti ini.

Hup..

Ia memelukku.

“Chagiya! Saranghae!!!” serunya dari balik punggungku. Aku rasa, kami lebih mirip sepasang kekasih dibanding ibu dan anak. #evil laugh

Minwoo POV End

Rara POV

“Minwoo-ah, mianhe,” lirihku. Aku menaruh sumpitku diatas kotak makanan. Memandang kotak itu hambar.

“Aku tahu. Aku seharusnya tidak boleh memaksamu menerimaku. Aku bahkan belum pantas menjadi seorang istri, apalagi ibu,”

Ucapku.

Aku benar-benar sadar dengan masalah ini. Umurku baru saja memasuki 20 tahun. Hanya terpaut tiga tahun darinya yang sudah berusia 17. Lebih mudah diterima jika ia adalah dongsaengku.

“Tapi aku mencintai appamu dan kau juga. Aku sayang kalian berdua,”

Akuku. Aku benar-benar menyayangi mereka berdua. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau aku akan mencintai appa dari bocah nakal ini. Sampai tiba hari itu, ketika aku dipertemukan dengan anaknya. Aku kaget luar biasa karena melihat bocah jail itu ada di rumah Donghyun oppa.

“Kau boleh membenciku jika itu membuatmu senang. Tapi kau harus tahu, kalau aku benar-benar menyayangimu. Bukan karena kau adalah anak Donghyun oppa, tapi karena kau, bocah kecil yang selalu menggangguku,”

Mencoba berbagi perasaanku sesungguhnya. Aku sudah menganggapnya dongsaengku bahkan sebelum aku bertemu dengan Donghyun oppa. Dia adalah anak manis yang sering bermain di rumah Jo bersaudara, tetanggaku.

 “Hah. Seharusnya aku mengikuti kata appa untuk tidak menikah dengan appamu. Aku tidak tahu kalau kau akan benar-benar membenciku seperti ini,”

Aku tersenyum miris. Mengingat betapa appa melarangku menikah karena usia Donghyun oppa yang hanya lebih muda beberapa tahun dengan appa. Appa bilang, ia lebih cocok menjadi pamanku dibanding suami.

“Eomma,”

Aku mendongkakkan kepala mendengar Minwoo memanggilku eomma. Sejak menikah dengan appanya, Minwoo tidak pernah lagi menyebut namaku, apalagi memanggilku eomma.

“Kau ingin aku menyebutmu eomma kan?”

Aku menoleh ke arahnya. Ia nampak tersenyum tipis.

“Baiklah. Aku akan memanggilmu eomma,”

Aku mengerjapkan mata. Tak percaya dengan apa yang ia katakan. Eomma. Ia akan memanggilku eomma?! Mimpi apa aku semalam?

Hup..

Aku memeluknya. Aku benar-benar senang.

“Chagiya! Saranghae!!!”

Seruku dibalik punggungnya. Aku berjanji kalau aku akan jadi Eomma yang baik. Aku akan menghilangkan sikap manja dan cengengku. Aku takkan membuatmu marah dan malu lagi karena memiliki eomma yang umurnya hanya terpaut beberapa tahun darimu.

Yaksok, Minwoo-ah...

Rara POV End

Author POV

Seorang namja tampan berjalan mendekati Minwoo dan Rara. Tersenyum melihat anak dan istrinya yang berpelukan. Kim Donghyun. Ya, dia Kim Donghyun. Namja tampan yang dari wajahnya hanya berusia  25 tahun. Tak menyangka kalau umurnya yang sebenarnya sudah 40an dan memiliki anak seusia Minwoo.

“Tak mau berbagi pelukan denganku?!” Menyilangkan tangannya di depan dada. Merasa diabaikan karena kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh mereka berdua.

Rara melepas pelukannya dan menatap Donghyun. Minwoo juga menatap appanya itu dan tersenyum.

“Aish, kalian masih diam?” Melangkahkan kakinya menghampiri Minwoo dan Rara yang diam ditempatnya. Kaget, molla.
Bangkit dan berlari meraih lengan kekar itu, bersamaan. Memeluk namja yang mereka kasihi.

***

“Tak peduli lagi jika aku tak bisa menggapaimu. Karena sekarang kau yang paling dekat denganku. Choi Rara. Ani, Kim Rara. Saranghae!”


=Kim Minwoo=


“Terima kasih karena sudah menerimaku. Meski aku tahu dia tak mungkin terganti. Tapi aku mencintaimu, mencintai appamu. Mencintai kalian. Saranghae!”


=Choi Rara, eh, Kim Rara=


“Terima kasih karena menjadi bagian indah dihidupku, Kim Rara dan Kim Minwoo. Dan untukmu, istriku, semoga tenang disana. Saranghae!”


=Kim Donghyun= (yang ikut eksis doang) XD

END

 

0 komentar:

Posting Komentar