Title : Paper Diary
Author : Arhazhar Arha a.k.a Choi Rara a.k.a =DoRha=
Genre : Entah apa
Lenght : One Shoot
Cast : - No Minwoo
- Kim Tae Hee
- Kim Dong Hyun
- Choi Rara #eksis
Note : Ini ff gaje banget..
HAPPY READING!!! ^^
Author POV
Pluk..
Gumpalan
kertas mendarat mulus di kepala Minwoo. Kemudian jatuh di dekat
kakinya. Namja ini menengadah. Mencari siapa yang membuang kertas
sembarangan hingga mengenai kepalanya. Namja manis itu melihat seorang
yeoja berambut panjang tengah berbalik dan pergi.
Diraihnya
gumpalan kertas tersebut lalu dibuka. Terdapat beberapa kalimat di
dalamnya yang malas untuk ia baca. Dilipatnya kertas itu dan
memasukannya ke dalam saku celananya.
***
Ia sudah berada di kamarnya sejak 30 menit yang lalu. Enggan mengganti seragamnya. Terlalu asyik menikmati istirahatnya di atas single bed-nya. Tak menghiraukan teriakan yeoja dari luar kamarnya. Memasang earphone dan menutup matanya.
Minwoo POV
Rara
noona mengetuk pintu kamarku keras, semakin keras karena aku tak juga
bersuara apalagi membuka pintunya. Aku yakin Rara noona sedang kesal
sekarang. Siapa suruh membuat ramyeon untuk makan siang? Padahal aku
sudah berkali-kali bilang kalau aku bosan makan ramyeon. Sejak eomma
pergi ke Busan mengunjungi halmeoni noona hanya mau membuat ramyeon
untuk makan siang. Ya, meskipun ia memasak makanan lain untuk makan
malam, tetap saja aku bosan.
“Ya! Dongsaeng pabo! Cepat buka pintunya!”
Teriakan
noona membuatku terlonjak dari tempat tidur. Keras juga suaranya.
Kulepas earphone yang menggantung di telingaku dan melangkah ke arah
pintu. Noona, kau menang kali ini.
Cklek
Benda
berwarna cokelat tua itu terbuka. Ku lihat noona sudah menyilangkan
tangannya di depan dada. Raut wajahnya kesal sekali. Haha.. Kapan lagi
aku melihat noona yang ekstra sabar itu marah?!
“Minwoo-ya, bisakah kau belikan makanan di kedai ujung sana. Noona sedang malas,”
Wajah berubah menjadi memelas ketika memintaku pergi membeli makanan. Noona yang aneh. Gagal sudah rencanaku membuat dia marah.
“Noona sakit?”
Tanyaku seraya menyentuh keningnya. Ia menepisnya dan memberiku beberapa lembar uang.
“Belikan juga untuk makan malam. Mungkin aku akan malas juga malam ini,”
Ck. Pabo. Sudah jelas dia sakit, bukan malas. Sudahlah.
Aku beranjak dari tempatku berdiri dan mengendarai motorku menuju kedai yang Noona tunjukan. Kenapa tidak delivery saja sih?!
Ku
rogos saku celanaku dan mengambil uang untuk membayar makanan yang ku
pesan. Ada secarik kertas yang terbawa saat mengambil uang itu. Ku putar
otakku mengingat kertas apa ini. Ah, ini kertas tadi siang. Kenapa aku
simpan yah?! Segera ku bayar makanannya dan pulang ke rumah. Aku yakin
noona pabo itu sedang kelaparan sekarang. #Minwoo songong
***
“Saengie-ah! You’re the best!”
Ucap Rara noona setelah menghabiskan makanannya. Ia menepuk bahuku pelan. Ck. Dasar noona. Selalu seenaknya sendiri.
“Oya, aku menemukan ini!”
Ia menyodorkan kertas lusuh padaku. Segera ku raih dan memasukkannya ke dalam saku. Darimana ia mendapatkannya?!
Aku
kembali ke kamar dan mengganti seragamku. Merogoh kembali saku
celanaku. Kertas ini milik siapa yah?! Kenapa aku begitu tak tega
membuangnya. Padahal hanya kertas biasa.
Ku buka pelan kertas itu.
Dear Diary...
Aku menyukainya...
Sangat.. Bahkan aku tak tahu batasannya..
Tiap kali melihatnya bersama yeoja itu hatiku sakit..
Kenapa ia hanya mau berdekatan dengannya??
Kenapa ia membatasi pertemanan kami??
Diary?!
Kekanakan.
Siapa orang yang menulis hal konyol ini pada selembar kertas? Jika
hanya ia buang, bukankah lebih baik ia pendam saja. Bodoh. Ternyata ada
orang yang lebih bodoh dari sepupuku itu.
Author POV
Minwoo
menaruh kertas itu di meja belajarnya. Membaringkan tubuhnya di tempat
tidur. Mengesap dalam udara dan menghembuskannya perlahan. Tak lama ia
tertidur.
Saat terbangun, ia dikejutkan dengan keberadaan
sepupunya, Rara, di dalam kamarnya. Gadis belia itu ikut terbaring di
samping Minwoo. Dengan hati-hati Minwoo beranjak dari kasur sempitnya
dan berjalan mengambil handuk dan berakhir di kamar mandi.
Usai
mandi ia menghangatkan makanan yang ia beli tadi siang. Membangunkan
Rara pelan. Kemudian membantunya duduk karena ternyata Rara benar-benar
sakit. Dibawanya makanan itu ke kamar dan menyuapi Rara meski Rara
menolaknya.
Minwoo POV
“Noona, apa kau punya teman yang sedikit aneh?”
Tanyaku
seraya menyuapkan makanan ke mulut Rara noona. Aku baru ingat. Kelas
lantai dua tempat yeoja itu membuang kertas adalah kelas Rara noona.
“Teman?
Kupikir semuanya aneh. Mereka lebih suka belajar dan memperhatikan
guru. Jika istirahat mereka masih berkutat dengan buku disela makannya.
Benar-benar tidak menikmati hidup.”
Ah,
benar juga. Kelas noona kan kelas unggulan. Aku juga heran kenapa noona
bodohku bisa masuk kesana. Apa mungkin dari kelas lain? Bisa saja orang
itu hanya asal lempar.
“Wae?”
Aku
tersadar ketika noona mengibaskan tangannya di wajahku. Segera ku
masukkan lagi makanan ke dalam mulutnya. Dia hanya mengoceh tak jelas
dengan mulutnya yang penuh. Yeppo.
***
Author POV
Sudah
seminggu ini Minwoo melewati jalanan yang sama. Dan seminggu itu pula
ia terlempar kertas diary entah milik siapa. Beberapa kali ia mengendap
mencari tahu siapa yang melakukan hal ini padanya. Tapi tak pernah ia
temukan.
Dear Diary..
Ia masih saja menyukainya..
Padahal aku sudah seagresif mungkin..
Berharap kalau dia akan berubah memandangku..
Belajar sekeras mungkin agar ia melihatku..
Tapi...
Kertas
ke-delapan yang Minwoo temukan. Siapa yeoja ini sebenarnya? Siapa namja
dan yeoja dalam kisahnya? Sebegitu berartikah namja itu? Apa yeoja itu
istimewa? Pikiran-pikiran Minwoo dipenuhi dengan pertanyaan seperti itu
tiap kali membacanya.
Minwoo POV
Dear Diary...
Apa benar mereka sepasang kekasih??
Tapi yeoja itu bilang bukan..
Mereka hanya sahabat.. Tak lebih..
Tapi kenapa ia selalu bilang kalau yeoja itu kekasihnya??
Mematahkan harapanku kah??
Wae Diary?? Wae??
Kertas
ke-sepuluh yang ku temukan. Yeoja ini. Kenapa buat aku meledak-ledak?!
Ikut merasakan kepedihan yang ia alami. Apa ia bermaksud melakukan ini?
Berharap orang lain bersimpati padanya. Merasakan sakitnya. Atau ia
ingin melupakan kenangannya dengan menulis kisahnya dalam kertas lalu
membuangnya?
Argh!!!
Ini sungguh
menyebalkan? Kenapa ia tidak cerita saja pada teman-temannya? Atau ia
cerita padaku saja seperti Rara noona yang sering sekali curhat tentang
Donghyun hyung. Sedikit membuatku cemburu memang. Karena Rara noona
lebih membanggakan hyung tua itu dibandingkan aku. Tapi setidaknya dia
tak membuat aku penasaran seperti ini. Lagipula, kenapa dia membuangnya
tepat diatas kepalaku. Seakan ia sengaja menjatuhkannya agar aku
membacanya.
Huh...
“Waeyo Minwoo-ah?”
Aku
terkejut mendengar suara Rara noona di telingaku. Aku membalikan
tubuhku mencari keberadaan Rara noona. Ternyata ia tengah duduk bersila
sambil membaca komik milikku di tempat tidur.
“Wae?”
Aku balik bertanya setelah berada di sampingnya. Menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Kau
akhir-akhir ini selalu murung. Lebih banyak di kamar dan membaca kertas
lusuh itu. Kau merindukan ahjumma atau sedang ada masalah?”
Rara
noona meletakkan komik yang kurasa pura-pura ia baca tadi. Memandang
kosong benda di hadapannya. Aku sedikit mendongkak untuk melihat raut
wajahnya yang kurasa selusuh kertas yang ku baca. Sepupuku yang pabo ini
adalah noona yang perhatian. Meski kadang aku kesal kalau dia sudah
berlebihan, tapi aku tahu kalau dia sangat menyayangiku.
“Aku hanya merindukan eomma, noona,”
“Jeongmal?”
Melirik
ke arahku tak percaya. Ah, aku selalu berharap sifat pabonya itu datang
disaat seperti ini. Dengan begitu ia takkan bertanya apapun dan hanya
percaya semua perkataanku.
Menganggukan kepalaku pelan.
Sebenarnya aku tahu kalau noona sedikit tak percaya. Tapi dari
tatapannya, aku rasa ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh
mengenai keadaanku. Noona terlalu tahu tentang sifatku yang tak suka
diikutcampuri.
“Noona! Ayo buat makan malam. Aku lapar,”
Ku
tarik ujung baju yang ia pakai. Sedikit merengek agar noona segera
bangkit dan aku benar-benar bisa menghindarinya. No Minwoo, kau
benar-benar pintar!
Author POV
Hari kesekian
sejak lembaran demi lembaran berjatuhan di ujung kepalanya. Kali ini
Minwoo memiliki strategi baru. Ia akan mengunjungi kelas noonanya itu
sebelum kertas diary itu meluncur kepalanya. Menunggu hingga penghuni
kelas tak ada lagi. Iya yakin kali ini rencananya berhasil karena
noonanya ada jadwal di club photography-nya. Jadi Minwoo tak perlu
mengikuti noonanya pulang seperti sebelumnya.
Saat bel
sekolah berdering, Minwoo langsung melancarkan misinya. Ia langsung
keluar kelas bahkan sebelum guru memberi salam. Tak peduli dengan
teriakan guru dan teman-teman. Berlari secepat kilat menuju ruangan itu.
“Saengie-ah, apa yang kau lakukan disini?”
Rara
menatap heran pada Minwoo yang tak biasanya sudah berada di kelasnya.
Biasanya ia selalu terlambar dan harus Rara yang menunggu di parkiran.
“Aku ada urusan noona. Noona pergilah. Nanti terlambat ke club!”
Seruku sambil berjalan pelan melewati kelasnya. Ia masih menatapku aneh lalu tersenyum.
“Baiklah. Tapi nanti pulangnya hati-hati, ne?!”
Rara
memberi pesan. Minwoo mengangguk dan melambaikan tangannya. Menatap
tubuh Rara yang kian jauh dan menyatu dengan gerombolan siswa dari kelas
lainnya.
Minwoo POV
Akhirnya aku dapat
melancarkan misiku. Aku akan menunggu disini sampai orang terakhir
lewat. Sesekali aku melirik kelas noona. Ada tiga orang disana. Donghyun
Hyung, dan dua yeoja. Donghyun hyung sedang asyik dengan bukunya.
Sedangkan dua yeoja lainnya tengah menulis di buku. Salah satu dari
mereka pasti orangnya.
Author POV
Donghyun
nampak merapikan bukunya. Seorang yeoja yang duduk tak jauh darinya
menghentikan kegiatan menulisnya. Ia menoleh ke arah Donghyun. “Apa dia menyukai hyung?!”
Pikir Minwoo. Mungkin saja, bukan? Dengan kepopuleran Donghyun, semua
yeoja pasti mengincarnya. Juga karena prestasinya yang luar biasa. Tak
lama yeoja yang satunya ikut merapikan buku-bukunya dan segera keluar
dari kelas.
“Oppa!”
Yeoja
itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Donghyun yang masih berkutat
dengan I-pod-nya. Merasa di acuhkan, yeoja itu menarik earphone yang
menggantung ditelinga Donghyun.
“Ya!”
Donghyun
hyung memakai kembali earphone-nya. Melangkah menjauhi yeoja itu.
Benar-benar Donghyun yang Minwoo dengar dari sebagian teman yeoja-nya.
Dingin.
“Oppa, mau sampai kapan?”
Teriakan
yeoja itu membuat Donghyun hyung berhenti. Berbalik menatap tajam yeoja
di entah kapan sudah berada di hadapannya. Tersenyum miris melihat
yeoja itu mulai berkaca.
“Kau yang mau sampai kapan?”
Donghyun
balik bertanya. Wajahnya berubah jengkel melihat yeoja itu malah
menangis. Hendak membalikan badannya jika saja tubuh yeoja itu tidak
merosot ke bawah.
“Taehee-ah. Sudah ku bilang kan kalau aku menyukai yeoja lain?”
Donghyun
berucap lirih seraya meraih lengan yeoja yang ia sebut, Taehee itu.
Membantunya duduk di kursi di dekatnya. Menghapus jejak air mata dari
pipi milik yeoja itu. Hal yang Minwoo rasa baru ia temukan dari cerita
noona-nya. Jika Donghyun memang namja yang baik. Tidak seperti yang
teman-temannya katakan.
“Tapi dia tak menyukaimu oppa,”
Ucapan
Taehee membuat Donghyun diam. Ia memang sudah tahu tentang hal itu.
Yeoja-nya tak pernah menyukainya. Hanya menyukai segala prestasinya.
Hanya fans-nya. Tak ingin lebih dari itu. Bahkan ketika Donghyun
menyatakan cinta untuk yang ke-3 kalinya. Yeoja itu tetap menolak dan
bilang kau ia hanya satu dari sekian banyak pemuja namja tampan itu.
Menyandarkan
tubuhnya di sandaran kursi tempatnya duduk. Sedikit mengingat tentang
yeoja-nya yang menolak berulang kali pernyataan cintanya. Apa Taehee
merasakan hal yang sama? Tapi ia tak ingin membuat yeoja disampingnya
semakin berharap.
Menggeser arah duduknya menjadi
berhadapan dengan Taehee. Menatap lekat yeoja itu. Kembali tersenyum
miris. Entah untuk yeoja itu atau dirinya sendiri. Menarik nafasnya
panjang. Dan..
“Taehee-ah,”
“...”
“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”
“...”
“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”
“...”
“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”
“...”
“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”
“...”
“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”
“...”
Donghyun
meninggalkan ruangan itu. Tak lama terdengar isakan dari ruangan yang
menjadi saksi bisu seberapa besar sakit hati yang Taehee rasakan
sekarang dan sebelumnya.
Taehee POV
“Taehee-ah,”
Aku hanya bisa diam ketika ia menyebut namaku.
“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”
Kau
tak pernah melarangku oppa. Tapi sikapmu selama ini menunjukkan kalau
aku memang harus berhenti. Aku tak bisa oppa. Sakit sekali disini.
“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”
Lalu
kapan? Aku akan siap menunggu oppa. Selama kau disampingku, aku yakin
semuanya akan baik-baik saja. Aku akan setia menunggu sampai kau bisa
melihatku. Hanya melihat ke arahku.
“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”
Wae
oppa? Aku akan baik-baik saja selama kau bilang kalau kau hanya akan
melihat ke arahku akhirnya. Sampai kapanpun itu. Oppa, aku benar-benar
menyukaimu.
“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”
Tidak
oppa! Kau salah! Kau salah besar! Aku tidak lebih baik. Aku semakin
tersiksa dengan ini. Kau pikir aku tak berusaha untuk melupakanmu? Aku
sangat berusaha! Bahkan sebelum menyatakan cintaku aku beusaha terlebih
dahulu melupakanmu karena ku kira kau dan dia sepasang kekasih.
“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”
Kembali
baik padaku. Bagaimana bisa aku melupakanmu oppa? Kau tak pernah baik
pada orang lain sebelumnya. Yah, kecuali dia. Choi Rara. Teman
sebangkumu itu. Yeoja yang merebutmu dariku. Yeoja bodoh yang terus saja
berada disekitarmu. Yeoja bodoh yang sudah menolakmu tiga kali. Dan kau
tertular kebodohannya dengan terus mencintainya.
Aku membuka buku
diary-ku lagi. Ini adalah kebiasaan baruku. Menulis semua kisahku
disini. Lalu membuangnya entah kemana agar rasaku ikut terbang bersama
kertas-kertas itu.
Dear Diary..
Kembali menolakku.. Demi yeoja yang tak mencintainya?!
Ck.. Aku yeoja malang, bukan??
Sudah berapa kali aku menyatakan cinta padanya??
Sudah berapa kali dia bilang untuk berhenti mengharapkannya??
Tapi itu sulit untukku!
Apa dia tahu rasanya??
Sangat sakit disini..
Benar-benar berharap jika ia akan mencintaiku suatu hari nanti..
Minwoo POV
Benar-benar
menyedihkan yeoja itu. Namja inikah yang ia sukai? Aku harus beritahu
noona untuk berhenti menyukainya. Donghyun hyung sudah menyukai orang
lain. Noona pasti sedih mendengar ini. Tapi ini semua lebih baik dari
pada berakhir seperti yeoja itu.
Selesai menulis yeoja itu
merobek kertasnya. Meremasnya kuat. Seolah ia sedang melampiaskan
kekesalannya disana. Berdiri. Memakai tas selempangnya dan berjalan
keluar. Aku rasa ia akan melempar kertas ini. Kulirik jam tangan
pemberian Rara noona yang melingkar di lenganku. Jam pulangku. Tepat
sekali.
“Mau melemparkannya lagi?”
Tanyaku
ketika ia keluar dari kelasnya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh
ke arahku. Sedikit terkejut dengan keberadaanku, tentu saja.
“Nugu?”
Ia memiringkan kepalanya. Mencoba mengenaliku, mungkin.
“Aku korban lempanan kertasmu itu, sunbae!”
“Ye?”
“Jika aku berada di bawah saat ini, kau melemparkan kertas padaku untuk yang ke-22 kalinya,”
Aku
berjalan mendekatinya. Mengambil kertas digenggamannya. Membacanya
sekilas. Tak jauh beda dengan sebelumnya. Masih mengisahkan namja itu.
Ck. Benar-benar malang.
Kembali memandangnya. Ia menangis
lagi. Ah, yeoja ini sungguh menyedihkan. Aku meraih tubuhnya dan
memeluknya. Mengusap punggungnya pelan.
“Uljima. Masih ada namja yang lebih baik darinya,”
Ucapku
menenangkannya. Yah, meski jika kupikir lagi itu akan sia-sia. Dia tak
mungkin mendengar kata-kata orang yang tak ia kenal, eoh?! Menghapus
airmata dipipinya.
“Jika kau butuh teman bicara, kau bisa menemuiku dan menceritakan semuanya padaku,”
Entah
kenapa aku mengucapkan kata-kata itu. Menggenggam tangannya dan
mengantarnya pulang. Ia juga tak menolak dan ikut bersamaku. Ada
perasaan ingin melindunginya saat ini. Apa karena dia sama rapuhnya
dengan noona?!
END
-Side Story-
“Noona, apa kau benar-benar menyukai Donghyun hyung?”
Tanya
Minwoo setibanya Rara di rumah. Rara yang baru datang hanya menatap
bingung Minwoo yang tiba-tiba saja menanyakan perasaannya.
“Of course! Aku fans no. 1-nya!!”
Seru Rara bangga, setelah lama berpikir.
“Andwee!!! Pokoknya kau tak boleh berdekatan dengan namja itu! Atau persaudaraan kita putus sampai disini!”
“Nde?”
Dan Rara hanya terbengong-bengong dengan sikap sepupunya yang aneh luar biasa.
“Eh?! Apa dia mengidap sister compleks?!”
Tanya Rara dalam hati. Lalu kembali ke kamarnya karena Minwoo juga sudah tak ada di tempatnya semula.
-End Of Side Story-
Jumat, 29 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar