Jumat, 29 Juni 2012

Boyfriend Fan Fiction - Paper Diary

Title : Paper Diary

Author : Arhazhar Arha a.k.a Choi Rara a.k.a =DoRha=

Genre : Entah apa

Lenght : One Shoot

Cast : - No Minwoo
  - Kim Tae Hee
  - Kim Dong Hyun
  - Choi Rara #eksis

Note : Ini ff gaje banget..

HAPPY READING!!! ^^


Author POV

Pluk..

Gumpalan kertas mendarat mulus di kepala Minwoo. Kemudian jatuh di dekat kakinya. Namja ini menengadah. Mencari siapa yang membuang kertas sembarangan hingga mengenai kepalanya. Namja manis itu melihat seorang yeoja berambut panjang tengah berbalik dan pergi.

Diraihnya gumpalan kertas tersebut lalu dibuka. Terdapat beberapa kalimat di dalamnya yang malas untuk ia baca. Dilipatnya kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celananya.

***

Ia sudah berada di kamarnya sejak 30 menit yang lalu. Enggan mengganti seragamnya. Terlalu asyik menikmati istirahatnya di atas single bed-nya. Tak menghiraukan teriakan yeoja dari luar kamarnya. Memasang earphone dan menutup matanya.

Minwoo POV

Rara noona mengetuk pintu kamarku keras, semakin keras karena aku tak juga bersuara apalagi membuka pintunya.  Aku yakin Rara noona sedang kesal sekarang. Siapa suruh membuat ramyeon untuk makan siang? Padahal aku sudah berkali-kali bilang kalau aku bosan makan ramyeon. Sejak eomma pergi ke Busan mengunjungi halmeoni noona hanya mau membuat ramyeon untuk makan siang. Ya, meskipun ia memasak makanan lain untuk makan malam, tetap saja aku bosan.

“Ya! Dongsaeng pabo! Cepat buka pintunya!”


Teriakan noona membuatku terlonjak dari tempat tidur. Keras juga suaranya. Kulepas earphone yang menggantung di telingaku dan melangkah ke arah pintu. Noona, kau menang kali ini.

Cklek

Benda berwarna cokelat tua itu terbuka. Ku lihat noona sudah menyilangkan tangannya di depan dada. Raut wajahnya kesal sekali. Haha.. Kapan lagi aku melihat noona yang ekstra sabar itu marah?!

“Minwoo-ya, bisakah kau belikan makanan di kedai ujung sana. Noona sedang malas,”


Wajah berubah menjadi memelas ketika memintaku pergi membeli makanan. Noona yang aneh. Gagal sudah rencanaku membuat dia marah.

“Noona sakit?”

Tanyaku seraya menyentuh keningnya. Ia menepisnya dan memberiku beberapa lembar uang.

“Belikan juga untuk makan malam. Mungkin aku akan malas juga malam ini,”


Ck. Pabo. Sudah jelas dia sakit, bukan malas. Sudahlah.

Aku beranjak dari tempatku berdiri dan mengendarai motorku menuju kedai yang Noona tunjukan. Kenapa tidak delivery saja sih?!

Ku rogos saku celanaku dan mengambil uang untuk membayar makanan yang ku pesan. Ada secarik kertas yang terbawa saat mengambil uang itu. Ku putar otakku mengingat kertas apa ini. Ah, ini kertas tadi siang. Kenapa aku simpan yah?! Segera ku bayar makanannya dan pulang ke rumah. Aku yakin noona pabo itu sedang kelaparan sekarang. #Minwoo songong

***

“Saengie-ah! You’re the best!”


Ucap Rara noona setelah menghabiskan makanannya. Ia menepuk bahuku pelan. Ck. Dasar noona. Selalu seenaknya sendiri.

“Oya, aku menemukan ini!”


Ia menyodorkan kertas lusuh padaku. Segera ku raih dan memasukkannya ke dalam saku. Darimana ia mendapatkannya?!

Aku kembali ke kamar dan mengganti seragamku. Merogoh kembali saku celanaku. Kertas ini milik siapa yah?! Kenapa aku begitu tak tega membuangnya. Padahal hanya kertas biasa.

Ku buka pelan kertas itu.

Dear Diary...
Aku menyukainya...
Sangat.. Bahkan aku tak tahu batasannya..
Tiap kali melihatnya bersama yeoja itu hatiku sakit..
Kenapa ia hanya mau berdekatan dengannya??
Kenapa ia membatasi pertemanan kami??


Diary?!

Kekanakan. Siapa orang yang menulis hal konyol ini pada selembar kertas? Jika hanya ia buang, bukankah lebih baik ia pendam saja. Bodoh. Ternyata ada orang yang lebih bodoh dari sepupuku itu.

Author POV

Minwoo menaruh kertas itu di meja belajarnya. Membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Mengesap dalam udara dan menghembuskannya perlahan. Tak lama ia tertidur.

Saat terbangun, ia dikejutkan dengan keberadaan sepupunya, Rara, di dalam kamarnya. Gadis belia itu ikut terbaring di samping Minwoo. Dengan hati-hati Minwoo beranjak dari kasur sempitnya dan berjalan mengambil handuk dan berakhir di kamar mandi.

Usai mandi ia menghangatkan makanan yang ia beli tadi siang. Membangunkan Rara pelan. Kemudian membantunya duduk karena ternyata Rara benar-benar sakit. Dibawanya makanan itu ke kamar dan menyuapi Rara meski Rara menolaknya.

Minwoo POV

Noona, apa kau punya teman yang sedikit aneh?”


Tanyaku seraya menyuapkan makanan ke mulut Rara noona. Aku baru ingat. Kelas lantai dua tempat yeoja itu membuang kertas adalah kelas Rara noona.

“Teman? Kupikir semuanya aneh. Mereka lebih suka belajar dan memperhatikan guru. Jika istirahat mereka masih berkutat dengan buku disela makannya. Benar-benar tidak menikmati hidup.”


Ah, benar juga. Kelas noona kan kelas unggulan. Aku juga heran kenapa noona bodohku bisa masuk kesana. Apa mungkin dari kelas lain? Bisa saja orang itu hanya asal lempar.

“Wae?”


Aku tersadar ketika noona mengibaskan tangannya di wajahku. Segera ku masukkan lagi makanan ke dalam mulutnya. Dia hanya mengoceh tak jelas dengan mulutnya yang penuh. Yeppo.

***

Author POV

Sudah seminggu ini Minwoo melewati jalanan yang sama. Dan seminggu itu pula ia terlempar kertas diary entah milik siapa. Beberapa kali ia mengendap mencari tahu siapa yang melakukan hal ini padanya. Tapi tak pernah ia temukan.

Dear Diary..
Ia masih saja menyukainya..
Padahal aku sudah seagresif mungkin..
Berharap kalau dia akan berubah memandangku..
Belajar sekeras mungkin agar ia melihatku..
Tapi...


Kertas ke-delapan yang Minwoo temukan. Siapa yeoja ini sebenarnya? Siapa namja dan yeoja dalam kisahnya? Sebegitu berartikah namja itu? Apa yeoja itu istimewa? Pikiran-pikiran Minwoo dipenuhi dengan pertanyaan seperti itu tiap kali membacanya.

Minwoo POV

Dear Diary...
Apa benar mereka sepasang kekasih??
Tapi yeoja itu bilang bukan..
Mereka hanya sahabat.. Tak lebih..
Tapi kenapa ia selalu bilang kalau yeoja itu kekasihnya??
Mematahkan harapanku kah??
Wae Diary?? Wae??


Kertas ke-sepuluh yang ku temukan. Yeoja ini. Kenapa buat aku meledak-ledak?! Ikut merasakan kepedihan yang ia alami. Apa ia bermaksud melakukan ini? Berharap orang lain bersimpati padanya. Merasakan sakitnya. Atau ia ingin melupakan kenangannya dengan menulis kisahnya dalam kertas lalu membuangnya?

Argh!!!

Ini sungguh menyebalkan? Kenapa ia tidak cerita saja pada teman-temannya? Atau ia cerita padaku saja seperti Rara noona yang sering sekali curhat tentang Donghyun hyung. Sedikit membuatku cemburu memang. Karena Rara noona lebih membanggakan hyung tua itu dibandingkan aku. Tapi setidaknya dia tak membuat aku penasaran seperti ini. Lagipula, kenapa dia membuangnya tepat diatas kepalaku. Seakan ia sengaja menjatuhkannya agar aku membacanya.

Huh...

“Waeyo Minwoo-ah?”


Aku terkejut mendengar suara Rara noona di telingaku. Aku membalikan tubuhku mencari keberadaan Rara noona. Ternyata ia tengah duduk bersila sambil membaca komik milikku di tempat tidur.

“Wae?”


Aku balik bertanya setelah berada di sampingnya. Menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Kau akhir-akhir ini selalu murung. Lebih banyak di kamar dan membaca kertas lusuh itu. Kau merindukan ahjumma atau sedang ada masalah?”


Rara noona meletakkan komik yang kurasa pura-pura ia baca tadi. Memandang kosong benda di hadapannya. Aku sedikit mendongkak untuk melihat raut wajahnya yang kurasa selusuh kertas yang ku baca. Sepupuku yang pabo ini adalah noona yang perhatian. Meski kadang aku kesal kalau dia sudah berlebihan, tapi aku tahu kalau dia sangat menyayangiku.

“Aku hanya merindukan eomma, noona,”


“Jeongmal?”


Melirik ke arahku tak percaya. Ah, aku selalu berharap sifat pabonya itu datang disaat seperti ini. Dengan begitu ia takkan bertanya apapun dan hanya percaya semua perkataanku.

Menganggukan kepalaku pelan. Sebenarnya aku tahu kalau noona sedikit tak percaya. Tapi dari tatapannya, aku rasa ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh mengenai keadaanku. Noona terlalu tahu tentang sifatku yang tak suka diikutcampuri.

“Noona! Ayo buat makan malam. Aku lapar,”


Ku tarik ujung baju yang ia pakai. Sedikit merengek agar noona segera bangkit dan aku benar-benar bisa menghindarinya. No Minwoo, kau benar-benar pintar!

Author POV

Hari kesekian sejak lembaran demi lembaran berjatuhan di ujung kepalanya. Kali ini Minwoo memiliki strategi baru. Ia akan mengunjungi kelas noonanya itu sebelum kertas diary itu meluncur kepalanya. Menunggu hingga penghuni kelas tak ada lagi. Iya yakin kali ini rencananya berhasil karena noonanya ada jadwal di club photography-nya. Jadi Minwoo tak perlu mengikuti noonanya pulang seperti sebelumnya.

Saat bel sekolah berdering, Minwoo langsung melancarkan misinya. Ia langsung keluar kelas bahkan sebelum guru memberi salam. Tak peduli dengan teriakan guru dan teman-teman. Berlari secepat kilat menuju ruangan itu.

“Saengie-ah, apa yang kau lakukan disini?”


Rara menatap heran pada Minwoo yang tak biasanya sudah berada di kelasnya. Biasanya ia selalu terlambar dan harus Rara yang menunggu di parkiran.

“Aku ada urusan noona. Noona pergilah. Nanti terlambat ke club!”


Seruku sambil berjalan pelan melewati kelasnya. Ia masih menatapku aneh lalu tersenyum.

“Baiklah. Tapi nanti pulangnya hati-hati, ne?!”


Rara memberi pesan. Minwoo mengangguk dan melambaikan tangannya. Menatap tubuh Rara yang kian jauh dan menyatu dengan gerombolan siswa dari kelas lainnya.

Minwoo POV

Akhirnya aku dapat melancarkan misiku. Aku akan menunggu disini sampai orang terakhir lewat. Sesekali aku melirik kelas noona. Ada tiga orang disana. Donghyun Hyung, dan dua yeoja. Donghyun hyung sedang asyik dengan bukunya. Sedangkan dua yeoja lainnya tengah menulis di buku. Salah satu dari mereka pasti orangnya.

Author POV

Donghyun nampak merapikan bukunya. Seorang yeoja yang duduk tak jauh darinya menghentikan kegiatan menulisnya. Ia menoleh ke arah Donghyun. “Apa dia menyukai hyung?!” Pikir Minwoo. Mungkin saja, bukan? Dengan kepopuleran Donghyun, semua yeoja pasti mengincarnya. Juga karena prestasinya yang luar biasa. Tak lama yeoja yang satunya ikut merapikan buku-bukunya dan segera keluar dari kelas.

“Oppa!”


Yeoja itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Donghyun yang masih berkutat dengan I-pod-nya. Merasa di acuhkan, yeoja itu menarik earphone yang menggantung ditelinga Donghyun.

“Ya!”


Donghyun hyung memakai kembali earphone-nya. Melangkah menjauhi yeoja itu. Benar-benar Donghyun yang Minwoo dengar dari sebagian teman yeoja-nya. Dingin.

“Oppa, mau sampai kapan?”


Teriakan yeoja itu membuat Donghyun hyung berhenti. Berbalik menatap tajam yeoja di entah kapan sudah berada di hadapannya. Tersenyum miris melihat yeoja itu mulai berkaca.

“Kau yang mau sampai kapan?”


Donghyun balik bertanya. Wajahnya berubah jengkel melihat yeoja itu malah menangis. Hendak membalikan badannya jika saja tubuh yeoja itu tidak merosot ke bawah.

“Taehee-ah. Sudah ku bilang kan kalau aku menyukai yeoja lain?”


Donghyun berucap lirih seraya meraih lengan yeoja yang ia sebut, Taehee itu. Membantunya duduk di kursi di dekatnya. Menghapus jejak air mata dari pipi milik yeoja itu. Hal yang Minwoo rasa baru ia temukan dari cerita noona-nya. Jika Donghyun memang namja yang baik. Tidak seperti yang teman-temannya katakan.

“Tapi dia tak menyukaimu oppa,”


Ucapan Taehee membuat Donghyun diam. Ia memang sudah tahu tentang hal itu. Yeoja-nya tak pernah menyukainya. Hanya menyukai segala prestasinya. Hanya fans-nya. Tak ingin lebih dari itu. Bahkan ketika Donghyun menyatakan cinta untuk yang ke-3 kalinya. Yeoja itu tetap menolak dan bilang kau ia hanya satu dari sekian banyak pemuja namja tampan itu.

Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tempatnya duduk. Sedikit mengingat tentang yeoja-nya yang menolak berulang kali pernyataan cintanya. Apa Taehee merasakan hal yang sama? Tapi ia tak ingin membuat yeoja disampingnya semakin berharap.

Menggeser arah duduknya menjadi berhadapan dengan Taehee. Menatap lekat yeoja itu. Kembali tersenyum miris. Entah untuk yeoja itu atau dirinya sendiri. Menarik nafasnya panjang. Dan..

“Taehee-ah,”


“...”


“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”


“...”


“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”


“...”


“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”


“...”


“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”


“...”

“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”


“...”


Donghyun meninggalkan ruangan itu. Tak lama terdengar isakan dari ruangan yang menjadi saksi bisu seberapa besar sakit hati yang Taehee rasakan sekarang dan sebelumnya.

Taehee POV

“Taehee-ah,”


Aku hanya bisa diam ketika ia menyebut namaku.

“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”


Kau tak pernah melarangku oppa. Tapi sikapmu selama ini menunjukkan kalau aku memang harus berhenti. Aku tak bisa oppa. Sakit sekali disini.

“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”


Lalu kapan? Aku akan siap menunggu oppa. Selama kau disampingku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku akan setia menunggu sampai kau bisa melihatku. Hanya melihat ke arahku.

“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”


Wae oppa? Aku akan baik-baik saja selama kau bilang kalau kau hanya akan melihat ke arahku akhirnya. Sampai kapanpun itu. Oppa, aku benar-benar menyukaimu.

“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”


Tidak oppa! Kau salah! Kau salah besar! Aku tidak lebih baik. Aku semakin tersiksa dengan ini. Kau pikir aku tak berusaha untuk melupakanmu? Aku sangat berusaha! Bahkan sebelum menyatakan cintaku aku beusaha terlebih dahulu melupakanmu karena ku kira kau dan dia sepasang kekasih.

“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”


Kembali baik padaku. Bagaimana bisa aku melupakanmu oppa? Kau tak pernah baik pada orang lain sebelumnya. Yah, kecuali dia. Choi Rara. Teman sebangkumu itu. Yeoja yang merebutmu dariku. Yeoja bodoh yang terus saja berada disekitarmu. Yeoja bodoh yang sudah menolakmu tiga kali. Dan kau tertular kebodohannya dengan terus mencintainya.
Aku membuka buku diary-ku lagi. Ini adalah kebiasaan baruku. Menulis semua kisahku disini. Lalu membuangnya entah kemana agar rasaku ikut terbang bersama kertas-kertas itu.

Dear Diary..
Kembali menolakku.. Demi yeoja yang tak mencintainya?!
Ck.. Aku yeoja malang, bukan??
Sudah berapa kali aku menyatakan cinta padanya??
Sudah berapa kali dia bilang untuk berhenti mengharapkannya??
Tapi itu sulit untukku!
Apa dia tahu rasanya??
Sangat sakit disini..
Benar-benar berharap jika ia akan mencintaiku suatu hari nanti..


Minwoo POV

Benar-benar menyedihkan yeoja itu. Namja inikah yang ia sukai? Aku harus beritahu noona untuk berhenti menyukainya. Donghyun hyung sudah menyukai orang lain. Noona pasti sedih mendengar ini. Tapi ini semua lebih baik dari pada berakhir seperti yeoja itu.

Selesai menulis yeoja itu merobek kertasnya. Meremasnya kuat. Seolah ia sedang melampiaskan kekesalannya disana. Berdiri. Memakai tas selempangnya dan berjalan keluar. Aku rasa ia akan melempar kertas ini. Kulirik jam tangan pemberian Rara noona yang melingkar di lenganku. Jam pulangku. Tepat sekali.

“Mau melemparkannya lagi?”


Tanyaku ketika ia keluar dari kelasnya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Sedikit terkejut dengan keberadaanku, tentu saja.

“Nugu?”


Ia memiringkan kepalanya. Mencoba mengenaliku, mungkin.

“Aku korban lempanan kertasmu itu, sunbae!”


“Ye?”


“Jika aku berada di bawah saat ini, kau melemparkan kertas padaku untuk yang ke-22 kalinya,”


Aku berjalan mendekatinya. Mengambil kertas digenggamannya. Membacanya sekilas. Tak jauh beda dengan sebelumnya. Masih mengisahkan namja itu. Ck. Benar-benar malang.

Kembali memandangnya. Ia menangis lagi. Ah, yeoja ini sungguh menyedihkan. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya. Mengusap punggungnya pelan.

“Uljima. Masih ada namja yang lebih baik darinya,”


Ucapku menenangkannya. Yah, meski jika kupikir lagi itu akan sia-sia. Dia tak mungkin mendengar kata-kata orang yang tak ia kenal, eoh?! Menghapus airmata dipipinya.

“Jika kau butuh teman bicara, kau bisa menemuiku dan menceritakan semuanya padaku,”


Entah kenapa aku mengucapkan kata-kata itu. Menggenggam tangannya dan mengantarnya pulang. Ia juga tak menolak dan ikut bersamaku. Ada perasaan ingin melindunginya saat ini. Apa karena dia sama rapuhnya dengan noona?!

END

-Side Story-

“Noona, apa kau benar-benar menyukai Donghyun hyung?”


Tanya Minwoo setibanya Rara di rumah. Rara yang baru datang hanya menatap bingung Minwoo yang tiba-tiba saja menanyakan perasaannya.

“Of course! Aku fans no. 1-nya!!”


Seru Rara bangga, setelah lama berpikir.

“Andwee!!! Pokoknya kau tak boleh berdekatan dengan namja itu! Atau persaudaraan kita putus sampai disini!”


“Nde?”


Dan Rara hanya terbengong-bengong dengan sikap sepupunya yang aneh luar biasa.

“Eh?! Apa dia mengidap sister compleks?!”


Tanya Rara dalam hati. Lalu kembali ke kamarnya karena Minwoo juga sudah tak ada di tempatnya semula.

-End Of Side Story-

0 komentar:

Posting Komentar