Jumat, 29 Juni 2012

Boyfriend Fan Fiction - Can't Say The Truth

Title : Can’t Say The Truth

Author : =DoRha=

Genre : Semi yaoi, maybe?! Ga tau ah #plakk

Lenght : One Shoot

Cast : - Kim Donghyun

- No Minwoo

- Kim Taehee

Note :: Ini ff gaje pokonya.. Judul ama cerita ga nyambung..hoho

Happy Reading !!!

All Author POV

Donghyun merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kalung dari dalam sana. Di perhatikannya kalung berliontin ‘M’ lalu berpaling pada Minwoo yang tengah melukis di dekat danau. Dimasukan kembali kalung tersebut ke saku celananya, mendekati Minwoo yang sama sekali tak menyadari kehadirannya dan terus berkutat dengan kuas, cat dan kanvas.
Donghyun duduk di samping Minwoo lalu menyandarkan kepalanya di bahu Minwoo. Minwoo menoleh sebentar dan melanjutkan lagi aktivitasnya, melukis.

“Sibuk, eoh?” suara Donghyun terdengar lirih.

“Wae?”

Menengok lagi, mencoba memperhatikan teman sejak kecilnya itu dengan seksama.

Donghyun mengangkat kepalanya, menatap Minwoo sendu. Seolah ia akan berpisah jauh dengan sahabat yang bahkan seharipun tak pernah tak ia temui dalam hidupnya.

“Tumben ga bareng Taehee”

Menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Mengangkat kembali wajah itu untuk kedua kalinya dan memandang Minwoo semakin sendu.

“Noona lagi di jalan hyung. Mungkin sampai sebentar lagi,”

Kembali berkutat dengan kuasnya.

“Kau suka dia, eum?”

Masih menatap wajah sahabatnya yang tak lagi memandangnya utuh. Hanya sesekali melirik karena merasa diperhatikan.

“Wae? Afraid if I leave you, eum?”

Tertawa kecil karena mimik wajah sahabat sekaligus hyung-nya yang menurutnya menggemaskan. Tidak tahu kalau hyung-nya itu sedang menyimpan rahasia yang mungkin takkan pernah ia ungkap.

“No. More afraid if u’re tricked by her.”

Mencoba tersenyum lebar namun hambar. Terlihat jelas kalau dia memang takut kehilangan sosok dihadapannya itu.

“Don’t look at me like that!”

Menunjuk-nunjuk kuasnya ke wajah sendu milik Donghyun. Tertawa lebar seperti senang melihat sosok dihadapannya terkena tinta dengan tidak sengaja.

“Ya! What are you doing, eoh?”

Pinch Minwoo’s cheek softly. Tak ingin melukai dongsaeng kesayangannya. Dongsaeng?! Mungkin.

“Aww. You hurt me, hyung!”

Pura-pura meringis dan mengelus pipinya.

“Really? Aku bahkan tak menggunakan tenaga saengie-ah”

Terkekeh pelan saat mengucapkan kata ‘saengie‘.

“Annyeong!”

Tiba-tiba datang dan menyapa kedua sejoli yang tengah bersenda gurau. Wajahnya nampak riang sedikit berbeda dari biasanya.

Memandang dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sinis. Merasa yeoja ini sebentar lagi akan menghancurkan hatinya.

“Annyeong!”

Membalas sapaannya dengan enggan. Namun dibalas dengan senyum menawan yang bahkan setiap hari ia temukan. Sungguh bosan. Berkata dalam hati,

“Tak pernahkah kau tak tersenyum, eoh?”

“Mana hadiahnya?”

Bangkit dari duduknya lalu menadahkan kedua tangannya pada yeoja itu. Diikuti Donghyun yang merasa aneh juga jika tetap duduk.

“Kau kira aku lupa, eum?”

Membuka tas yang sejak tadi digendongnya di belakang. Mengeluarkan sebuah bingkisan yang masih berbalut kertas kado. Memberikan satu pada naja-nya dan satu lagi pada sahabat namja-nya.

“Aku pulang duluan, ya! Have fun!”

Berlalu meninggalkan kedua temannya yang tampak termangu melihat aksinya yang tidak biasa.

“Wae?”

Beralih menatap Minwoo, menanyakan keadaan Donghyun yang janggal, menurutnya.

“Molla,”

Menaik-turunkan bahunya, benar-benar tak tahu.

***

Donghyun masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Di raihnya bantal yang digunakannya untuk menutup wajahnya. “Aaaaaaaa” Teriakannya tertahan oleh bantal. Ia balikkan tubuhnya, masih menutup kepalanya dengan bantal.

Merasakan sesuatu yang sedikit tajam di sakunya. Dirogohnya saku itu dan mendapati kalung berliontin ‘M’ yang tadi ingin ia berikan pada sang sahabat. Beranjak dari tidurnya dan menyandar pada sofa. Menekuk sebelah kakinya lalu menahan tangannya yang menggenggam kalung itu. Di amatinya kalung emas putih yang dibelinya kemarin di salah satu toko mas.

“What am I different?”

Menutup matanya. Mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya dimasa lalu sehingga ia seperti ini.

***

Minwoo merapikan alat lukisnya dibantu oleh Taehee yang sebenarnya tak melakukan apa-apa. Wajah Taehee sendu kala menatap namja di sampingnya yang juga tak ada semangat. Ditahannya kanvas yang hendak Minwoo masukkan ke dalam tas.

“Lepas noona!”

Titahnya pada sosok dihadapannya dengan mata menatap tajam. Seolah yeoja itu akan langsung mati ketika bertatapan langsung dengan matanya.

“You like him, oeh?”

Menantang tatapan itu dengan tatapan hangat khas Taehee. Minwoo mengalihkan pandang, kalah dengan kehangatan yang dipancarkan Taehee lewat matanya. Melepas kanvas yang tadi sempat mereka ributkan.

“Don’t be liar, Minwoo-ah! You like him, eum?”

Mencoba menelisik pada bola mata namja dihadapannya. Ia yakin kalau namja ini mencintai Donghyun, hyung-nya.

“Please, Minwoo! Just tell me and enough.”

Membawa tubuh Minwoo kembali kehadapannya.

“Ini salah, noona. Tak ada pembenaran atas hal ini dibawah naungan cinta sekalipun,”

Kini ia melontarkan kata-kata yang bahkan Taehee sendiri tak pernah menyangkanya. Matanya berkaca-kaca. Ia jelas sedih dengan hal ini. Kenyataan kalau orang yang ia cintai bukanlah yeoja dihadapannya, tapi namja yang tadi meninggalkan mereka tanpa alasan yang jelas.

Taehee merengkuh Minwoo dalam pelukannya. Tahu kalau namja itu bukan sekedar butuh cintanya, juga kenyamanan dari orang lain. Dielusnya punggung Minwoo, menenangkan namja berumur 17 tahun itu.

 “It’s ok Minwoo-ah. You can forget him, slowly.”

Masih memeluk namja yang dicintainya itu dengan kasih.

Melepas dekapan Taehee yang ia rasa sudah cukup lama.

“Noona tak jijik padaku, eum?”

Mencoba mencari setitik kebohongan dibalik manik coklat milik Taehee.

“That’s not your fault Minwoo. Dan kamu masih bisa berubah.”

Meyakinkan Minwoo kalau ini bukan murni kesalahannya. Sekali lagi, lewat tatapan hangat yang selalu bisa meluluhkan Minwoo.

“Kenapa aku tidak jatuh cinta padamu saja?”

Kembali menghadap ke depan lalu mendongkakkan ke atas. Menatap langit dan menerawang, mencari alasan kenapa orang yang dicintainya bukan Kim Taehee, tapi Kim Donghyun.

“Kalau begitu kau harus belajar mencintaiku.”

***

Disis lain, Donghyun tengah menatap foto ia dan sahabatnya, Minwoo, terpampang manis di layar laptopnya.

“Kenapa harus kamu? Ini ga benar Minwoo. Kita sama. Apapun yang aku lakukan sejatinya kita sama.”

Berkata lirih, serasa hilang tenaga. Menyandarkan punggungnya pada dinding.

Tak lama, Donghyun mematikan laptopnya. Menaruhnya di meja belajar. Merapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Mungkin butuh liburan.”

Tersenyum kecil dan segera membuka pintu kamarnya.

***

Taehee berjalan bersama Minwoo ke rumahnya yang tak jauh dari taman. Berjalan berdua layaknya kekasih yang saling mencintai. Bergelayut mesra di lengan kiri Minwoo.

Sekelibat bayangan kenangan Minwoo bersama Donghyun muncul.

- Flashback -

Minwoo mengejar Donghyun yang berlari setelah merebut ice cream coklatnya. Mereka berkejaran dan saling meledek. Donghyun menjulurkan lidahnya pada Minwoo yang sudah menunjukkan wajah lelah.

“Hyung! Berhenti berlari. Aku sudah lelah,” teriak Minwoo seraya mengusap peluh di dahinya.

“Shireo! Jika kau mau ice cream ini, kejar aku!” Donghyun memeletkan lidahnya. Kekanakan. Padahal usianya jauh diatas dongsaengnya itu.

- Flashback End -

***

Donghyun berjalan menjauh dari rumahnya. Ia benar-benar memutuskan untuk pergi sementara waktu. Ditatapnya rumah Minwoo yang berada tepat di depan rumahnya.

“Minwoo-ah, mianhe. Tapi jujur, nan jeongmal saranghae,”

Menatap sendu rumah itu seakan yang ditatap adalah pemiliknya. Lalu kembali berjalan.

***

- Flashback -  #again???

 “Hyung, aku sayang padamu,”

Bergelayut manja pada sahabat sejak kecilnya. Hyung tersayangnya. Selalu saja manja. Padahal sudah mengenakan seragam SMA.

“Hmm”

Hanya berdehem menanggapi perkataan Minwoo.

Mereka berdua berjalan beriringan seraya bercanda dan tertawa.

- Flashback End -

***

Taehee masih mengapit lengan Minwoo. Minwoo hanya tersenyum melihat tingkah noona-nya yang manja. Tumben sekali. Tapi ia mengerti jika yeoja itu juga ingin memiliki pacar yang normal. Dan ia juga harus melupakan perasaannya. Mengembalikan fokusnya pada jalanan dihadapannya. Ia pasti bisa. Ia tidak sendirian.

Terkejut. Mereka berdua terkejut ketika melihat Donghyun berada tak jauh dari mereka dengan membawa tas yang cukup besar.

Taehee melepas apitannya pada lengan Minwoo ketika Minwoo berlari mendekati Donghyun yang belum menyadari kedatangannya.

 “Hyung, mau kemana?” langsung bertanya begitu sampai di hadapan Donghyun.

Donghyun mendongkakkan kepalanya. Menyadari ada sosok lain dihadapannya.

“Liburan,” jawabnya enteng. Serasa tak membawa beban apa-apa.

“Kok ga bilang? Liburan kemana?” setengah berteriak ketika mendapati lawan bicaranya menganggap mudah dirinya.

“Emang belum bilang? Lupa kalo gitu. Hehe,“ terkekeh pelan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menunjukkan wajah tanpa dosanya, ciri khas Donghyun.

Memandang wajah sahabatnya yang mungkin akan cukup lama tidak dijumpainya. Merogoh saku jeans yang ia kenakan. Meraih kalung berinisial ‘M’ yang rencaranya akan ia berikan nanti, dihari ulang tahun Minwoo, entah yang ke-berapa.

“Ini kado ulang tahun dari hyung. Mian kecepetan. Soalnya mau backpacker-an selama liburan ini. Takut ga bisa dateng di birthday party kamu. Hehe,” Lagi-lagi, terkekeh dan menunjukkan wajah tanpa dosanya

Memeluk tubuh sang hyung.

“Hyung, saranghaeyo,”

Melepas peluknya.

“Harus hati-hati. Jangan lupa kabarin aku, hyung. Telpon sms ga boleh putus. Jangan keasyikan terus lupa makan. Oh iya, jangan percaya ama orang baru. Tampang baik ga menjanjikan hatinya juga baik. Cari hotel yang bagus, bintang 5 kalo...”

Menghentikan aksi bicaranya ketika Donghyun menutup kedua telinganya dengan tangan.

“Ya! Kim Donghyun hyung! Dengarkan aku!”

Menggoyangkan kedua lengan Donghyun agar lepas dari telinganya.

“Aku ini mau backpacker-an bukan liburan ala  pangeran kerajaan,”

Berkata setelah melepas genggaman tangannya pada telinga.

“Tenang aja, chagi-ya. Donghyun oppa pasti bisa jaga diri dengan baik,”

Tersenyum ke arah sang kekasih, Minwoo.

“Iya kan, oppa?”

Mencari pembenaran pada sang petualang tentang opininya tadi.

“Pasti,”

Mengacungkan jempolnya ke arah Taehee.

“Udah ya, hyung berangkat. Sampai ketemu!”

Berjalan meninggalkan Minwoo dan Minwoo.

***

“Mungkin ini saatnya untuk mulai mencintai Taehee noona. Aku takkan biarkan hyung tahu perasaanku dan membuatmu merasa bersalah. Entah apa yang membuatku mencintaimu. Tapi aku harus menghapusnya dan membiarkan dirimu tetap sebagai hyung terbaikku. Karena menjadi dongsaeng-mu adalah hal terbaik yang kurasakan seumur hidupku,”

Berjalan berdua bersama Taehee yang kembali mengapit lengannya. Menyunggingkan senyuman bahagia karena akan memulai kehidupan baru.

“Biarkan aku pergi sementara ini. Ini semua demi kamu. Agar aku tak mencintaimu lebih jauh. Hanya akan mencintaimu sebagai dongsaeng. Menjadikanku namja normal dan membuatmu lekat terus dengan yeojachingu-mu itu. Karena aku ingin kau terus jadi hyung-mu. Menjagamu sebisaku,”

Menengok ke belakang. Tersenyum pada Minwoo dan Taehee yang tengah jalan mesra. Kembali melanjutkan perjalanan.

“Selamat Tinggal, Cinta Pertamaku, No Minwoo,”

“Maaf karena aku memisahkan cinta kalian. Aku bahkan tahu kalau kalian saling mencintai. Tapi kalian sama bukan? Mianhe oppa, karena aku merasa lebih berhak atas Minwoo, kini bukan karena aku yeoja dan dia namja. Tapi karena aku mencintainya. Dan memang seharusnya seperti ini. Karena cepat atau lambat kalian akan sadar sendiri. Lagipula aku tak ingin oppa-ku menjadi namja abnormal yang mencintai sesama jenis. Yah, oppa-ku yang takkan pernah mengenaliku lagi meski kami memiliki marga yang sama, Kim Donghyun,”

Menengok ke belakang. Memandang Donghyun yang sudah berjalan jauh darinya.

END

0 komentar:

Posting Komentar