Title : We’re Twins
Author : =DoRha=
Genre : Ga tau #plakk #author gagal
Lenght : One Shoot
Cast : Jo Young Min
Jo Kwang Min
No Min Woo
Dan yang malas saya sebutkan satu-satu #plakk
Note : Abal! Bagi yang ga mau baca mending baca sampe akhir dan bash saya! #author gila
Happy Reading ^^
Author POV
“Hyung mau pergi?”
Bocah
kecil berambut hitam legam bertanya pada sosok yang serupa dengannya.
Ia menarik ujung kemeja yang dipakai sosok yang ia sebut hyung tersebut, menagih jawaban. Sedikit berkaca karena tak menginginkan hal itu terjadi.
“Mianhe saengie-ah. Tapi hyung pasti akan menjemputmu. Hanya tunggu sebentar disini, ne?!”
Mengangguk pelan. Percaya dengan perkataan hyung-nya itu. Melepaskan pengangannya pada ujung kemeja yang dipakai hyung-nya. Mendongkakkan kepala melihat wajah hyung-nya yang sudah basah oleh airmata. Mengusap tangis itu dengan jemari yang sama kecilnya. Kemudian memeluknya erat.
“Kau tidak boleh pergi terlalu lama, hyung!”
Melepas pelukan itu. Berbalik, tak ingin melihat kepergian keluarga satu-satunya itu.
“Ini untukmu,”
Kembali membalikan badan ketika mendengar suara hyung-nya. Menatap sebuah benda mungil yang disodorkan. Gantungan Winnie The Pooh kesayangan hyung-nya. Lagi-lagi, mendongkakkan kepalanya. Melihat wajah hyung-nya. Merogoh saku celananya. Menyodorkan sebuah gantungan berbentuk kepala Pikachu. Hal yang paling berharga, setelah hyung-nya, tentu saja.
“Kita tukar saja,”
Meraih
gantungan Winnie The Pooh itu dan memberikan gantungan Pikachu
miliknya. Berlari kedalam gedung bertuliskan, Panti Asuhan. Menghapus
airmata-nya kasar. Ia percaya, hyung-nya pasti kembali.
***
10 years later.
Seorang
namja berambut hitam legam berlari ke sekolahnya. Ia bangun kesiangan
pagi ini. Tak peduli harus beberapa kali menabrak orang yang sama
terburunya. Hingga akhirnya ia sampai di sekolahnya.
Sekolah
sudah ramai karena jam masuk hanya tinggal 10 menit lagi. Banyak anak
yang berlari seperti Kwangmin, namja berambut hitam yang sedang berlari
saat ini. Ia masuk ke kelasnya dengan terengah. Mendudukan tubuhnya di
kursi tempat biasanya ia duduk. Mengatur kembali nafasnya.
“Minnie Winnie!!!”
Teriak
seorang namja dari depan pintu kelasnya. Ia lalu berlari menghampiri
teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. Mendudukan tubuhnya lalu
mengguncang bahu sahabatnya yang masih lelah karena berlari tadi.
“Ya! Berhenti memanggilku Minnie Winnie! Nama apa itu?! Dan ada apa?! Kenapa kau seperti orang kesetanan seperti ini?”
Ucap Kwangmin sedikit berteriak karena namja dihadapannya tidak juga menghentikan aktivitasnya.
“Winnie! Aku melihat murid baru yang pindah ke kelas sebelah. Dia tampan sekali!”
Jawab namja di hadapannya itu antusias.
“Minwoo-ah! Kau itu namja! Kenapa ada namja tampan kau kegirangan seperti para yeoja. Apa jangan-jangan kau...”
Teriak Kwangmin, kaget dengan pikirannya sendiri. Ia menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Pletak!
Jitakan Minwoo mendarat mulus di puncak kepala Kwangmin.
”Pabo! Maksudku, kalau dia tampan, dia akan kujadikan temanku dan popularitasku tentu saja akan semakin menanjak! Haha,”
Jelas
Minwoo pada sahabatnya yang kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedikit frustasi dengan sikap sahabatnya yang tak juga berubah. Juga
heran kenapa banyak yeoja di sekolah ini yang mengidolakannya.
***
Minwoo
menarik Kwangmin keluar dari kelas mereka menuju kantin. Bel istirahat
sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi karena jurus puppy eyes Minwoo tidak lagi mempan untuk Kwangmin, terpaksalah ia menyeret sahabatnya itu.
Author POV End
Kwangmin POV
Aigoo..
Bocah ini. Ke kantin saja harus ditemani. Bagaimana jika ia pergi ke
Indonesia nanti. Bisa-bisa ia menculikku agar bisa menemaninya kesana.
XD
Seperti biasa, kantin ramai sekali. Tapi ada yang
berbeda kali ini. Semua yeoja mengerubungi sebuah meja. Entah ada apa di
dalamnya. Yang pasti aku tidak peduli.
Ku lihat Minwoo
tengah menyusup kedalam lautan yeoja itu. Mungkin ia ingin melihat siapa
yang mulai mengalahkan popularitasnya di sekolah dalam sehari. Haha.
Poor you, Minnie!
“Winnie! Kau tahu, murid baru itu
sudah membuatku kehilangan para penggemarku dalam hitungan jam. Aku
tidak jadi mengajaknya berteman,”
Cerita
Minwoo seraya memakan memakan makanannya. Aku hanya tersenyum tipis.
Ini sudah biasa terjadi. Kemarin saat Jeongmin sunbae memberikan piala
olimpiade untuk sekolah dan mendapat banyak penggemar, Minwoo
marah-marah tak karuan. Mungkin dia takkan masuk hingga hari ini jika
aku tidak membujuknya. Sebelumnya juga saat Hyunseong sunbae memenangkan
lomba menyanyi, dia merasa sedih sekali. Padahalkan yang menang
perlombaan itu hyung-nya sendiri.
=.=’
“Minnie Winnie! Kenapa kau diam saja?”
Minwoo
mempoutkan bibirnya. Lucu sekali anak ini. Kadang ia sangat kekanakan.
Ah, bukan kadang. Ia memang sangat kekanakan. Tapi dia juga baik hati
dan suka menolong. Buktinya aku bisa ada disini. Kalau bukan karena dia
yang meminta orang tuanya yang super duper kaya itu membiayai semua dana
pendidikanku, mungkin aku sudah menjadi gelandangan sekarang.
“Aniya. Kau benar-benar seperti seorang yeoja ketika bersikap seperti ini,”
Jawabku akhirnya. Sedikit terkekeh dengan pernyataanku sendiri.
“Ya, berhenti memanggilku yeoja. Aku namja 100 % tahu?!”
Serunya lalu meninggalkanku yang masih tertawa karena sikapnya.
“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”
Teriakku seraya mengejarnya.
Kwangmin POV End
Author POV
“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”
Tak
sengaja sosok berambut blonde mendengar teriakan itu. Ia menoleh ke
sumber suara. Melihat seseorang itu berlari. Sedikit penasaran, ia
mengikuti kemana arah namja itu berlari. Berhenti di depan sebuah kelas
yang hanya berpaut beberapa meter dari kelasnya.
Mengintip
ke dalam kelas itu. Menemukan sosok yang ia kejar tadi sedang menggoda
teman sebangkunya. Membulatkan mata lebar keltika melihat wajah sang
pemilik suara.
“Kwangmin...”
Lirihnya.
Author POV End
Youngmin POV
“Kwangmin...”
Kulihat
sosok namja dengan wajah serupa denganku. Aku yakin itu pasti Kwangmin.
Ia masih sama seperti dulu. Rambut hitamnya. Senyumannya. Dan...
Gantungan Winnie The Pooh itu. Tak ku sangka kau masih menggunakannya,
Kwangie-ah. Kau bahkan menggantungkannya di dompetmu.
“Kwangie-ah, bogoshipo,”
Youngmin POV End
Author POV
Kwangmin
berjalan pulang ke rumahnya. Sebenarnya, tadi Minwoo mengajaknya pulang
bersama, tapi ia menolaknya. Ia takut kalau sahabat karibnya itu tahu
apa yang ia kerjakan setelah pulang sekolah. Bisa kena ceramah setiap
pagi dirinya. Lebih parah dari itu, Minwoo pasti kembali membantunmya.
Sungguh, ia merasa senang dengan perhatian Minwoo, meski kadang
berlebihan. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk kembali mendapat
bantuan dari sahabatnya itu.
Tanpa ia sadari, seseorang
mengikutinya dari belakang. Ia berjalan mengendap-endap dengan sesekali
bersembunyi dimanapun yang bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan
Kwangmin.
Kwangmin masuk ke sebuah cafe. Menyapa salah
satu pelayan disana dan pergi ke belakang cafe tersebut. Mengganti
bajunya di ruangan ganti dan kembali dengan pakaian sama seperti pelayan
yang ia sapa saat masuk tadi. Berjalan menuju counter dan memulai
pekerjaannya. Yah, Kwangmin bekerja sebagai pembuat minuman di cafe itu.
Tak
lama, seorang namja manis dengan rambut blondenya memasuki area cafe
tersebut. Memesan secangkir cokelat panas lalu duduk ditempat yang
menurutnya strategis untuk mengamati Kwangmin bekerja. Jo Youngmin.
Namja berambut blonde itu, sedang menunggu moment yang tepat untuk
bertemu Kwangmin. Kembarannya. Dongsaeng enam menitnya.
Mengingat
masa lalu mereka yang terpisah karena ia harus mengikuti orang tua
angkatnya. Berjanji pada dongsaeng kesayangannya kalau ia akan kembali
secepatnya dan membawa namja tampan itu pergi. Tanpa tahu kalau pada
hari itu juga ia harus pergi ke Amerika dan mendapati dirinya yang
sedang merindukan Korea. Tidak. Ia merindukan dongsaeng tercintanya, Jo
Kwangmin.
Menyeruput cokelat panasnya pelan seraya
memperhatikan Kwangmin yang tengah sibuk dengan pelanggan-pelanggannya.
Benar-benar ingin memeluk namja itu. Melirik gantungan berbentuk pikachu
pemberian adiknya. Benda paling berharga yang ia punya.
***
“Apa kau merasa kalau murid baru itu mirip dengan sunbae kelas XI-A?”
“Tidak mungkin. Youngmin sunbae sangat tampan. Berbeda dengan sunbae yang kau sebut tadi,”
“Aku juga merasa kalau Kwangmin sunbae mirip sekali dengan youngmin sunbae. Seperti kembar,”
“Iya aku juga. Tapi marga mereka beda bukan? Marga youngmin sunbae itu Lee, sedang marga Kwangmin sunbae Kim,”
Youngmin
mendengar pembicaraan seputar wajahnya yang mirip dengan Kwangmin. Ia
tidak heran. Mereka memang kembar identik. Hanya saja rambutnya yang
kini berwarna pirang dan tentu saja marganya yang berbeda menjadi
perbedaan sendiri bagi orang lain. Apalagi ia dengar kalau Kwangmin
tinggal sendirian karena orang tua nya sudah meninggal karena kecelakaan
beberapa tahun lalu. Dan adik satu-satunya yang dia miliki juga
meninggal ketika Kwangmin sadar dari komanya.
Youngmin
melewati kelasnya dan berjalan menuju kelas Kwangmin. Memunculkan
dirinya langsung dihadapan namja tampan itu. Seketika kelas sunyi. Semua
mata tertuju pada Youngmin yang berada di depan kelas. Hanya tawa
Kwangmin yang belum berhenti karena melihat ekspresi namja dihadapannya,
No Minwoo.
Kwangmin berhenti tertawa dan mengikuti arah
pandang minwoo. Sedikit terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya.
Mengerjapkan matanya, imut. Lalu mengucek matanya pelan. Tahu, kalau ia
hanya akan bermimpi melihat lagi sosok yang sama dengannya. Hyung-nya.
“Kwangie-ah..”
Author POV End
Kwangmin POV
Aku tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Minwoo karena kalah main dari Hyun sunbae
semalam. Ia masih merasa kesal pada hyungnya itu karena tak pernah mau
mengalah padanya. Ah, ia imut sekali. Seperti anak perempuan XD
Kelas
menjadi hening. Hanya tawa ku yang terdengar. Segera ku hentikan tawaku
dan melihat Minwoo. Matanya tertuju pada depan kelas. Tumben sekali.
Lalu kuarahkan mataku mengikuti arah pandang Minwoo.
Deg..
Deg..
Youngie hyung?!
Aku mengucek mataku pelan. Aku pasti hanya bermimpi. Itu tidak mungkin Youngie hyung.
“Kwangie-ah...”
Kwangmin POV End
Youngmin POV
“Kwangie-ah...”
Seruku. Ia mengerjapkan matanya. Apa ia melupakanku?
Bisa kita bicara sebentar?”
Tanyaku. Ia diam. Teman-teman yang lain juga diam memandangku dan Kwangmin bergantian.
“Bisakah?”
***
“Ada apa kau memintaku kemari?”
Tanya Kwangmin ketus. Ia sedang berdiri membelakangiku saat ini. Apa dia marah padaku? Mianhe, Kwangie.
“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”
“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”
Deg...
Kwangie-ah.. Apa yang kau katakan?
Youngmin POV End
Kwangmin POV
“Ada apa kau memintaku kemari?”
Tanyaku ketus. Aku sedang berdiri membelakanginya saat ini. Entah kenapa aku bersikap ketus seperti itu.
“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”
Ah, kau masih ingat aku, hyung?! Lalu kemana saja kau selama ini?
“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”
Deg...
Jo Kwangmin! Apa yang baru saja kau katakan?! Kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Marahkah? Molla.
Segera aku berjalan menjauhi Youngmin hyung. Apa yang dia pikirkan sekarang? Ia pasti marah padaku dan kembali meninggalkanku.
“Kwangmin!”
Tangan
seseorang sudah meraih pundakku. Aku membalikkan tubuhku dan menemukan
wajah Youngmin hyung basah oleh airmata. Hyung, mianhe.
“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”
Aku
melemparkan gantungan kepala Winnie The Pooh itu pada youngmin hyung
setelah melepaskannya dari dompetku. Entah apa yang aku lakukan aku
sendiri tak mengerti. Ini refleks saja. Aku bahkan mengutuk kelakuanku
barusan. Hyung, jeongmal mianhe.
Kwangmin POV End
Youngmin POV
“Kwangmin!”
Ku
panggil ia ketika berhasil meraih bahunya. Aku benar-benar sedih dengan
perkataan Kwangmin. Tak peduli Kwangmin menganggapku cengeng atau apa.
“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”
Deg..
Kwangie-ah.. Kau benar-benar marah padaku? Mianhe. Aku memang hyung pabo. Kau boleh membenciku Kwangmin. Kau berhak membenciku.
Youngmin POV End
***
Author POV
Kwangmin
kembali ke kelas. Menyambar tasnya lalu pergi dari sekolah. Tak peduli
teriakan Minwoo atau teman yang lain. Tak jauh berbeda dengannya,
Youngmin kembali ke kelasnya. Mengambil tas dan langsung pulang. Ia
ingin kembali saja ke Amerika jika seperti ini jadinya. Usahanya selama
10 tahun untuk memenangkan hati ayah angkatnya hanya sia-sia.
Kepulangannya benar-benar percuma. Ia benci dirinya sendiri yang tak
dapat melakukan apapun saat itu. Hanya berfikir kalau ia bersikap baik
dan disukai, keluarga angkatnya itu dapat membawa Kwangmin pula
bersamanya. Tak pernah berfikir sedikitpun kalau ia akan dibawa pergi
jauh, bahkan melewati benua dan samudra.
Disisi lain
perjalanannya. Kwangmin sedang mengutuk semua kelakuannya. Ia tak pernah
berharap bisa melakukan hal seburuk itu didepan kakaknya. Selama ini ia
percaya kalau hyung tersayangnya akan pulang dan kembali hidup
bersamanya. Tetapi, ketika impiannya itu hampir terwujud, ia malah
menggagalkannya. Bersikap tidak sopan pada namja berambut blonde
tersebut.
***
“Minnie, kau sudah pulang?”
Tanya
wanita paruh baya yang mengklaim dirinya adalah eomma dari namja manis
di hadapannya, Jo Youngmin. Ani, Lee Youngmin. Bukankah marganya
berganti ketika ia diangkat menjadi bagian keluarga itu?
“Ne, oemma,”
Jawabnya
lirih. Berjalan melewati wanita yang ia panggil eomma tersebut. Tak
peduli dengan tatapan heran eommanya karena ia pulang setelah satu jam
yang lalu berangkat dari sekolah. Kenapa membolos itu ke rumah? Bukankah
lebih asyik nongkrong di cafe atau jalan-jalan di mall?!
Mengikuti adeul kesayangannya itu dari belakang. Sedikit aneh dengan sikap Youngmin yang tidak seperti biasanya.
“Oppa, kau sudah pulang? Cepat sekali?”
Kini dongsaeng perempuannya yang ia abaikan.
“Eomma, oppa wae?”
“Molla,”
Kembali
mengikuti Youngmin ke kamarnya ditambah dengan anak perempuannya yang
juga turt penasaarn dnegan perubahan sikap oppanya.
***
“Kwangmin, kenapa membolos, eoh? Kalau kau perlu uang, kau hanya bicara padaku, tak perlu membolos hanya untuk bekerja,”
Cerewet
Shim ajussi, pemilik cafe tempat Kwangmin bekerja. Kwangmin tidak
mengindahkan perkataan tersebut. Ia langsung pergi ke ruang ganti dan
memakai seragamnya. Shim ajussi hanya menggelengkan kepalanya.
Pegawainya yang satu itu memang sulit diatur.
“Ajussi..”
“Ya! Jangan panggil aku ajussi. Aku ini masih muda tahu! Panggil aku hyung!”
“Ne, Changmin hyung!” #hoho pacar pertama admin eksis XD
“Wae? Baru ditolak yeoja, eum? Jadi kau malas sekolah,”
“Ajussi tua bangka! Kenapa dipikiranmu hanya yeoja, eoh?!”
Pletak.
Satu jitakan mendarat mulus di kepalanya. Shim Changmin, pemilik jitakan maut itu tersenyum evil.
“Ya, hyung, aku serius,”
“Arra. Kau mau bilang apa, eoh?”
Kini,
ia mulai menunjukkan wajah seriusnya. Kwangmin menceritakan semua yang
dialaminya tadi. Shim ajussi hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu
tersenyum.
“Ya hyung, kau dengar aku tidak?!”
Teriak
Kwnagmin tepat di telinga Shim ajussi. Lalu ia meninggalkan bossnya itu
dan pergi ke counter kembali berkutat dengan pekerjaannya. “Percuma aku cerita panjang lebar padanya,” ucapnya dalam hati.
“Lebih baik kau minta maaf padanya sebelum semuanya terlambat dan kau hanya bisa menyesal,”
Tiba-tiba Shim ajussi sudah berada di depan Kwangmin lalu pergi lagi.
***
“Aigoo, aku malas eomma, aku di rumah saja, ne?”
Rengek
Youngmin pada eommanya. Ia malas untuk pergi kemanapun hari ini. Sejak
kepulangannya dari sekolah, ia hanya menutup dirinya dnegan selimut
super tebal bergambar Winnie The Pooh, favorite-nya.
“Tidak
bisa, Minnie-ah. Appamu meminta kita semua untuk pergi. Ini klien
penting appamu lho. Kau juga harus mengenalnya. Ia nanti akan jadi
klienmu juga, eoh?”
Ucap wanita paruh
baya itu. Ia menepuk punggung Youngmin agar bangkit dari tidurnya.
Youngmin mendesah pelan lalu berdiri. Mulai mandi dan memakai
pakaiannya.
Author POV End
***
Youngmin POV
Aku,
Appa, Eomma dan Yongjin, dongsaengku, sudah berada di rumah rekan
kerja appa. Dengan malas ku langkahkan kakiku. Yongjin yang sedari tadi
merangkul lenganku melepas rangkulannya ketika melihat seseorang. Aku
melirik ke arahnya lalu pada orang itu. Ku rasa aku pernah melihat namja
itu. Dimana ya?
Appa mulai bicara dengan rekan bisnisnya
itu. Eomma juga nampak akrab dengan istrinya. Yongjin terlihat
memperhatikan namja tadi dan entah siapa di namja yang duduk di
sebrangku, ia terus menatapku tak suka.
“Hey, kau Youngmin anak baru itu yah?”
Tanya namja yang sedari tadi menjadi pusat perhatian adikku.
“Ne. Lee youngmin imnida,”
Aku
memperkenalkan diri. Ku lihat Yongjin tampak memberikan death glare-nya
padaku. Haha. Anak ini. Ia tak patut cemburu seperti itu, kan?!
“Aku sunbaemu di sekolah lho. Hyunseong imnida,”
“Hyung, kau tak perlu memperkenalkan diri pada orang itu. Dia yang membuat Minnie Winnie-ku menangis dan kabur pagi tadi,”
Ketus
namja di depanku. Minnie Winnie? Aku sepertinya pernah mendengar
panggilan ini. Ah, dia kan teman sebangkunya Kwangmin. Namja yang
dikejar Kwangmin kemarin di kantin. Tapi tadi dia bilang aku buat Minnie
Winnie-nya menangis? Eh, adikku tidak mungkin berpacaran dengan bocah
ini kan?!
“Haha. Maafkan dongsaengku, ne? Dia selalu bersikap protektif jika itu menyangkut Kwangmin,”
“Eh?”
“Mereka itu sahabat sejak kecil,”
Huh.
Aku bernafas lega. Lagipula itu tidak mungkin kan. Semanis apapun wajah
namja di hadapanku ini, Kwangmin pasti tetap memilih wanita.
Karena bosan aku pergi ke taman belakang rumah ini. Yongjin mengabaikanku dan sibuk tebar pesona pada Hyunseong sunbae. Ku dengar langkah kaki di belakangku. Apa itu Yongjin?
“Apa yang kau lakukan pada Minnie Winnie?”
Eh? Minnie Winnie? Ah, Kwangmin maksudnya.
“Kau tak mendengarku?”
“Itu...”
Kujelaskan
ceritanya dari awal pada Minwoo. Aku rasa dia bisa membantuku untuk
ini. Bukankah mereka bersahabat? Biasanya seseorang lebih mudah
mendengar penjelasan sahabatnya kan?!
Youngmin POV End
***
Author POV
Minwoo
melangkahkan kakinya cepat. Ia tak sabar untuk masuk kelas dan
memberitahukan berita penting pada Kwangmin. Ia benar-benar berharap
sahabatnya itu mau mendengar perkataannya. Setengah berlari menyusuri
lorong sekolah. Tak mengindahkan sapaan dari para penggemarnya yang
berteriak histeris karena untuk pertama kalinya Minwoo bersikap dingin
seperti ini.
Memasuki kelas yang sudah cukup ramai. Tak
menemukan Kwangmin di dalamnya. Bertanya pada beberapa temannya. Segera
berlari menuju Perpustakaan karena mereka bilang Kwangmin pergi kesana
untuk memberikan buku yang seharusnya sudah ia berikan kemarin.
“Minnie Winnie!!!”
Seru
Minwoo ketika mendapati Kwangmin keluar dari Perpustakaan. Kwangmin
yang mendengar teriakan Minwoo menoleh dan melambaikan tangannya.
“Waeyo Minnie-ah?”
Tanyanya saat mereka berdua berhadapan. Minwoo yang masih ngos-ngosan *?* mulai mengatur nafasnya.
“Youngmin. Youngmin pulang ke Amerika lagi hari ini, Winnie!
Author POV End
***
Kwangmin POV
Aku
menelusuri setiap celah di bandara. Berlarian kesana kemari mencari
keberadaan Youngmin hyung. Aku harap pesawat menuju Amerika belum
berangkat. Minwoo yang juga ikut berlari nampak sudah kelelahan. Tapi
aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu hyung. Aku benar-benar
merindukannya. Aku tak mau menyesal seperti yang dikatakan Changmin
hyung.
Beberapa kali meneriakan namanya. Tapi tak ada yang menjawab. Hyung, kau dimana?!
“Kwangie-ah,”
Ku dengar suara Youngmin hyung dari belakangku. Aku berbalik dan...
Kwangmin POV End
Youngmin POV
“Kwangie-ah,”
Aku memanggil namanya. Ia berbalik ke arahku.
“Hyung!”
Serunya lalu memelukku.
Jinja!
Aku
tak percaya kalau ini akan terjadi. Sebelumnya aku merasa kalau rencana
Minwoo ini takkan berhasil karena Kwangmin pasti benar-benar
membenciku.
Ya. Ini semua rencana Minwoo. Mendengar
ceritaku yang menurut Minwoo mengharukan membuatnya ingin membantuku.
Berpura-pura kalau aku akan pergi ke Amerika hari ini. Mendesak Kwangmin
agar menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
“Mianhe saengie-ah,”
Membalas
pelukan Kwangmin erat. Tak ingin berpisah lagi. Sungguh. Aku
menyayanginya. Ia harta paling berharga dalam hidupku. Takkan
melepaskannya lagi. Takkan meninggalkannya lagi. Takkan berbuat bodoh
lagi.
“Kajima hyung,”
“Ne!”
“Kau boleh membuangnya tapi jangan berikan ini lagi padaku,”
Menyodorkan gantungan Winni The Pooh padanya.
“Ani hyung. Aku takkan membuangnya. Mianhe,”
Memeluk Kwangmin lagi. Bogoshipo, Kwangie-ah!”
***
Aku
dan Kwangmin pergi bersama ke sekolah. Setelah bilang apa yang terjadi
sebenarnya, eomma meminta Kwangmin untuk jadi anaknya juga. Dan Yongjin,
yeoja imut itu langsung tebar pesona pada Kwangmin. Dia bilang Kwang
lebih tampan dibandingkan denganku. Ah, kami kan kembar!
“Hey kau lihat! Ketika mereka berjalan bersama, mereka benar-benar seperti kembar,”
Yeoja itu lagi.
“Ne. We’re really twins!”
Ucapku dan Kwangmin bersamaan. Mengedipkan sebelah mata kami. Sepertinya kami bukan hanya kembar wajah. Haha
Youngmin POV End
END
Jumat, 29 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar