Jumat, 29 Juni 2012

Boyfriend Fan Fiction - We're Twins


Title : We’re Twins

Author : =DoRha=

Genre : Ga tau #plakk #author gagal

Lenght : One Shoot

Cast : Jo Young Min

Jo Kwang Min

No Min Woo

Dan yang malas saya sebutkan satu-satu #plakk

Note : Abal! Bagi yang ga mau baca mending baca sampe akhir dan bash saya! #author gila

Happy Reading ^^

Author POV

“Hyung mau pergi?”


Bocah kecil berambut hitam legam bertanya pada sosok yang serupa dengannya. Ia menarik ujung kemeja yang dipakai sosok yang ia sebut hyung tersebut, menagih jawaban. Sedikit berkaca karena tak menginginkan hal itu terjadi.

“Mianhe saengie-ah. Tapi hyung pasti akan menjemputmu. Hanya tunggu sebentar disini, ne?!”


Mengangguk pelan. Percaya dengan perkataan hyung-nya itu. Melepaskan pengangannya pada ujung kemeja yang dipakai hyung-nya. Mendongkakkan kepala melihat wajah hyung-nya yang sudah basah oleh airmata. Mengusap tangis itu dengan jemari yang sama kecilnya. Kemudian memeluknya erat.

“Kau tidak boleh pergi terlalu lama, hyung!”


Melepas pelukan itu. Berbalik, tak ingin melihat kepergian keluarga satu-satunya itu.

“Ini untukmu,”


Kembali membalikan badan ketika mendengar suara hyung-nya. Menatap sebuah benda mungil yang disodorkan. Gantungan Winnie The Pooh kesayangan hyung-nya. Lagi-lagi, mendongkakkan kepalanya. Melihat wajah hyung-nya. Merogoh saku celananya. Menyodorkan sebuah gantungan berbentuk kepala Pikachu. Hal yang paling berharga, setelah hyung-nya, tentu saja.

“Kita tukar saja,”


Meraih gantungan Winnie The Pooh itu dan memberikan gantungan Pikachu miliknya. Berlari kedalam gedung bertuliskan, Panti Asuhan. Menghapus airmata-nya kasar. Ia percaya, hyung-nya pasti kembali.

***

10 years later.

Seorang namja berambut hitam legam berlari ke sekolahnya. Ia bangun kesiangan pagi ini. Tak peduli harus beberapa kali menabrak orang yang sama terburunya. Hingga akhirnya ia sampai di sekolahnya.

Sekolah sudah ramai karena jam masuk hanya tinggal 10 menit lagi. Banyak anak yang berlari seperti Kwangmin, namja berambut hitam yang sedang berlari saat ini. Ia masuk ke kelasnya dengan terengah. Mendudukan tubuhnya di kursi tempat biasanya ia duduk. Mengatur kembali nafasnya.

“Minnie Winnie!!!”


Teriak seorang namja dari depan pintu kelasnya. Ia lalu berlari menghampiri teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. Mendudukan tubuhnya lalu mengguncang bahu sahabatnya yang masih lelah karena berlari tadi.

“Ya! Berhenti memanggilku Minnie Winnie! Nama apa itu?! Dan ada apa?! Kenapa kau seperti orang kesetanan seperti ini?”


Ucap Kwangmin sedikit berteriak karena namja dihadapannya tidak juga menghentikan aktivitasnya.

“Winnie! Aku melihat murid baru yang pindah ke kelas sebelah. Dia tampan sekali!”

Jawab namja di hadapannya itu antusias.

“Minwoo-ah! Kau itu namja! Kenapa ada namja tampan kau kegirangan seperti para yeoja. Apa jangan-jangan kau...”

Teriak Kwangmin, kaget dengan pikirannya sendiri. Ia menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Pletak!

Jitakan Minwoo mendarat mulus di puncak kepala Kwangmin.

”Pabo! Maksudku, kalau dia tampan, dia akan kujadikan temanku dan popularitasku tentu saja akan semakin menanjak! Haha,”


Jelas Minwoo pada sahabatnya yang kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedikit frustasi dengan sikap sahabatnya yang tak juga berubah. Juga heran kenapa banyak yeoja di sekolah ini yang mengidolakannya.

***

Minwoo menarik Kwangmin keluar dari kelas mereka menuju kantin. Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi karena jurus puppy eyes Minwoo tidak lagi mempan untuk Kwangmin, terpaksalah ia menyeret sahabatnya itu.

Author POV End

Kwangmin POV

Aigoo.. Bocah ini. Ke kantin saja harus ditemani. Bagaimana jika ia pergi ke Indonesia nanti. Bisa-bisa ia menculikku agar bisa menemaninya kesana. XD

Seperti biasa, kantin ramai sekali. Tapi ada yang berbeda kali ini. Semua yeoja mengerubungi sebuah meja. Entah ada apa di dalamnya. Yang pasti aku tidak peduli.

Ku lihat Minwoo tengah menyusup kedalam lautan yeoja itu. Mungkin ia ingin melihat siapa yang mulai mengalahkan popularitasnya di sekolah dalam sehari. Haha. Poor you, Minnie!

“Winnie! Kau tahu, murid baru itu sudah membuatku kehilangan para penggemarku dalam hitungan jam. Aku tidak jadi mengajaknya berteman,”


Cerita Minwoo seraya memakan memakan makanannya. Aku hanya tersenyum tipis. Ini sudah biasa terjadi. Kemarin saat Jeongmin sunbae memberikan piala olimpiade untuk sekolah dan mendapat banyak penggemar, Minwoo marah-marah tak karuan. Mungkin dia takkan masuk hingga hari ini jika aku tidak membujuknya. Sebelumnya juga saat Hyunseong sunbae memenangkan lomba menyanyi, dia merasa sedih sekali. Padahalkan yang menang perlombaan itu hyung-nya sendiri.
=.=’

“Minnie Winnie! Kenapa kau diam saja?”


Minwoo mempoutkan bibirnya. Lucu sekali anak ini. Kadang ia sangat kekanakan. Ah, bukan kadang. Ia memang sangat kekanakan. Tapi dia juga baik hati dan suka menolong. Buktinya aku bisa ada disini. Kalau bukan karena dia yang meminta orang tuanya yang super duper kaya itu membiayai semua dana pendidikanku, mungkin aku sudah menjadi gelandangan sekarang.

“Aniya. Kau benar-benar seperti seorang yeoja ketika bersikap seperti ini,”


Jawabku akhirnya. Sedikit terkekeh dengan pernyataanku sendiri.

“Ya, berhenti memanggilku yeoja. Aku namja 100 % tahu?!”


Serunya lalu meninggalkanku yang masih tertawa karena sikapnya.

“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”

Teriakku seraya mengejarnya.

Kwangmin POV End

Author POV

“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”


 Tak sengaja sosok berambut blonde mendengar teriakan itu. Ia menoleh ke sumber suara. Melihat seseorang itu berlari. Sedikit penasaran, ia mengikuti kemana arah namja itu berlari. Berhenti di depan sebuah kelas yang hanya berpaut beberapa meter dari kelasnya.

Mengintip ke dalam kelas itu. Menemukan sosok yang ia kejar tadi sedang menggoda teman sebangkunya. Membulatkan mata lebar keltika melihat wajah sang pemilik suara.

“Kwangmin...”


Lirihnya.

Author POV End

Youngmin POV

“Kwangmin...”


Kulihat sosok namja dengan wajah serupa denganku. Aku yakin itu pasti Kwangmin. Ia masih sama seperti dulu. Rambut hitamnya. Senyumannya. Dan... Gantungan Winnie The Pooh itu. Tak ku sangka kau masih menggunakannya, Kwangie-ah. Kau bahkan menggantungkannya di dompetmu.

“Kwangie-ah, bogoshipo,”


Youngmin POV End

Author POV

Kwangmin berjalan pulang ke rumahnya. Sebenarnya, tadi Minwoo mengajaknya pulang bersama, tapi ia menolaknya. Ia takut kalau sahabat karibnya itu tahu apa yang ia kerjakan setelah pulang sekolah. Bisa kena ceramah setiap pagi dirinya. Lebih parah dari itu, Minwoo pasti kembali membantunmya. Sungguh, ia merasa senang dengan perhatian Minwoo, meski kadang berlebihan. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk kembali mendapat bantuan dari sahabatnya itu.
Tanpa ia sadari, seseorang mengikutinya dari belakang. Ia berjalan mengendap-endap dengan sesekali bersembunyi dimanapun yang bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan Kwangmin.

Kwangmin masuk ke sebuah cafe. Menyapa salah satu pelayan disana dan pergi ke belakang cafe tersebut. Mengganti bajunya di ruangan ganti dan kembali dengan pakaian sama seperti pelayan yang ia sapa saat masuk tadi. Berjalan menuju counter dan memulai pekerjaannya. Yah, Kwangmin bekerja sebagai pembuat minuman di cafe itu.
Tak lama, seorang namja manis dengan rambut blondenya memasuki area cafe tersebut. Memesan secangkir cokelat panas lalu duduk ditempat yang menurutnya strategis untuk mengamati Kwangmin bekerja. Jo Youngmin. Namja berambut blonde itu, sedang menunggu moment yang tepat untuk bertemu Kwangmin. Kembarannya. Dongsaeng enam menitnya.

Mengingat masa lalu mereka yang terpisah karena ia harus mengikuti orang tua angkatnya. Berjanji pada dongsaeng kesayangannya kalau ia akan kembali secepatnya dan membawa namja tampan itu pergi. Tanpa tahu kalau pada hari itu juga ia harus pergi ke Amerika dan mendapati dirinya yang sedang merindukan Korea. Tidak. Ia merindukan dongsaeng tercintanya, Jo Kwangmin.

Menyeruput cokelat panasnya pelan seraya memperhatikan Kwangmin yang tengah sibuk dengan pelanggan-pelanggannya. Benar-benar ingin memeluk namja itu. Melirik gantungan berbentuk pikachu pemberian adiknya. Benda paling berharga yang ia punya.

***

“Apa kau merasa kalau murid baru itu mirip dengan sunbae kelas XI-A?”


“Tidak mungkin. Youngmin sunbae sangat tampan. Berbeda dengan sunbae yang kau sebut tadi,”


“Aku juga merasa kalau Kwangmin sunbae mirip sekali dengan youngmin sunbae. Seperti kembar,”


“Iya aku juga. Tapi marga mereka beda bukan? Marga youngmin sunbae itu Lee, sedang marga Kwangmin sunbae Kim,”


Youngmin mendengar pembicaraan seputar wajahnya yang mirip dengan Kwangmin. Ia tidak heran. Mereka memang kembar identik. Hanya saja rambutnya yang kini berwarna pirang dan tentu saja marganya yang berbeda menjadi perbedaan sendiri bagi orang lain. Apalagi ia dengar kalau Kwangmin tinggal sendirian karena orang tua nya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Dan adik satu-satunya yang dia miliki juga meninggal ketika Kwangmin sadar dari komanya.

Youngmin melewati kelasnya dan berjalan menuju kelas Kwangmin. Memunculkan dirinya langsung dihadapan namja tampan itu. Seketika kelas sunyi. Semua mata tertuju pada Youngmin  yang berada di depan kelas. Hanya tawa Kwangmin yang belum berhenti karena melihat ekspresi namja dihadapannya, No Minwoo.

Kwangmin berhenti tertawa dan mengikuti arah pandang minwoo. Sedikit terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. Mengerjapkan matanya, imut. Lalu mengucek matanya pelan. Tahu, kalau ia hanya akan bermimpi melihat lagi sosok yang sama dengannya. Hyung-nya.

“Kwangie-ah..”


Author POV End

Kwangmin POV

Aku tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Minwoo karena kalah main dari Hyun sunbae semalam. Ia masih merasa kesal pada hyungnya itu karena tak pernah mau mengalah padanya. Ah, ia imut sekali. Seperti anak perempuan XD
Kelas menjadi hening. Hanya tawa ku yang terdengar. Segera ku hentikan tawaku dan melihat Minwoo. Matanya tertuju pada depan kelas. Tumben sekali. Lalu kuarahkan mataku mengikuti arah pandang Minwoo.

Deg..

Deg..

Youngie hyung?!

Aku mengucek mataku pelan. Aku pasti hanya bermimpi. Itu tidak mungkin Youngie hyung.

“Kwangie-ah...”


Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangie-ah...”


Seruku. Ia mengerjapkan matanya. Apa ia melupakanku?

Bisa kita bicara sebentar?”


Tanyaku. Ia diam. Teman-teman yang lain juga diam memandangku dan Kwangmin bergantian.

“Bisakah?”


***

“Ada apa kau memintaku kemari?”


Tanya Kwangmin ketus. Ia sedang berdiri membelakangiku saat ini. Apa dia marah padaku? Mianhe, Kwangie.

“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”


“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”


Deg...

Kwangie-ah.. Apa yang kau katakan?

Youngmin POV End

Kwangmin POV

“Ada apa kau memintaku kemari?”


Tanyaku ketus. Aku sedang berdiri membelakanginya saat ini. Entah kenapa aku bersikap ketus seperti itu.

“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”


Ah, kau masih ingat aku, hyung?! Lalu kemana saja kau selama ini?

“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”


Deg...

Jo Kwangmin! Apa yang baru saja kau katakan?! Kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Marahkah? Molla.

Segera aku berjalan menjauhi Youngmin hyung. Apa yang dia pikirkan sekarang? Ia pasti marah padaku dan kembali meninggalkanku.

“Kwangmin!”


Tangan seseorang sudah meraih pundakku. Aku membalikkan tubuhku dan menemukan wajah Youngmin hyung basah oleh airmata. Hyung, mianhe.

“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”


Aku melemparkan gantungan kepala Winnie The Pooh itu pada youngmin hyung setelah melepaskannya dari dompetku. Entah apa yang aku lakukan aku sendiri tak mengerti. Ini refleks saja. Aku bahkan mengutuk kelakuanku barusan. Hyung, jeongmal mianhe.

Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangmin!”


Ku panggil ia ketika berhasil meraih bahunya. Aku benar-benar sedih dengan perkataan Kwangmin. Tak peduli Kwangmin menganggapku cengeng atau apa.

“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”

Deg..

Kwangie-ah.. Kau benar-benar marah padaku? Mianhe. Aku memang hyung pabo. Kau boleh membenciku Kwangmin. Kau berhak membenciku.

Youngmin POV End

***

Author POV

Kwangmin kembali ke kelas. Menyambar tasnya lalu pergi dari sekolah. Tak peduli teriakan Minwoo atau teman yang lain. Tak jauh berbeda dengannya, Youngmin kembali ke kelasnya. Mengambil tas dan langsung pulang. Ia ingin kembali saja ke Amerika jika seperti ini jadinya. Usahanya selama 10 tahun untuk memenangkan hati ayah angkatnya hanya sia-sia. Kepulangannya benar-benar percuma. Ia benci dirinya sendiri yang tak dapat melakukan apapun saat itu. Hanya berfikir kalau ia bersikap baik dan disukai, keluarga angkatnya itu dapat membawa Kwangmin pula bersamanya. Tak pernah berfikir sedikitpun kalau ia akan dibawa pergi jauh, bahkan melewati benua dan samudra.

Disisi lain perjalanannya. Kwangmin sedang mengutuk semua kelakuannya. Ia tak pernah berharap bisa melakukan hal seburuk itu didepan kakaknya. Selama ini ia percaya kalau hyung tersayangnya akan pulang dan kembali hidup bersamanya. Tetapi, ketika impiannya itu hampir terwujud, ia malah menggagalkannya. Bersikap tidak sopan pada namja berambut blonde tersebut.

***

“Minnie, kau sudah pulang?”


Tanya wanita paruh baya yang mengklaim dirinya adalah eomma dari namja manis di hadapannya, Jo Youngmin. Ani, Lee Youngmin. Bukankah marganya berganti ketika ia diangkat menjadi bagian keluarga itu?

“Ne, oemma,”


Jawabnya lirih. Berjalan melewati wanita yang ia panggil eomma tersebut. Tak peduli dengan tatapan heran eommanya karena ia pulang setelah satu jam yang lalu berangkat dari sekolah. Kenapa membolos itu ke rumah? Bukankah lebih asyik nongkrong di cafe atau jalan-jalan di mall?!

Mengikuti adeul kesayangannya itu dari belakang. Sedikit aneh dengan sikap Youngmin yang tidak seperti biasanya.

“Oppa, kau sudah pulang? Cepat sekali?”


Kini dongsaeng perempuannya yang ia abaikan.

“Eomma, oppa wae?”


“Molla,”


Kembali mengikuti Youngmin ke kamarnya ditambah dengan anak perempuannya yang juga turt penasaarn dnegan perubahan sikap oppanya.

***

“Kwangmin, kenapa membolos, eoh? Kalau kau perlu uang, kau hanya bicara padaku, tak perlu membolos hanya untuk bekerja,”


Cerewet Shim ajussi, pemilik cafe tempat Kwangmin bekerja. Kwangmin tidak mengindahkan perkataan tersebut. Ia langsung pergi ke ruang ganti dan memakai seragamnya. Shim ajussi hanya menggelengkan kepalanya. Pegawainya yang satu itu memang sulit diatur.

“Ajussi..”


“Ya! Jangan panggil aku ajussi. Aku ini masih muda tahu! Panggil aku hyung!”


“Ne, Changmin hyung!” #hoho pacar pertama admin eksis XD


“Wae? Baru ditolak yeoja, eum? Jadi kau malas sekolah,”


“Ajussi tua bangka! Kenapa dipikiranmu hanya yeoja, eoh?!”


Pletak.

Satu jitakan mendarat mulus di kepalanya. Shim Changmin, pemilik jitakan maut itu tersenyum evil.

“Ya, hyung, aku serius,”


“Arra. Kau mau bilang apa, eoh?”


Kini, ia mulai menunjukkan wajah seriusnya. Kwangmin menceritakan semua yang dialaminya tadi. Shim ajussi hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu tersenyum.

“Ya hyung, kau dengar aku tidak?!”


Teriak Kwnagmin tepat di telinga Shim ajussi. Lalu ia meninggalkan bossnya itu dan pergi ke counter kembali berkutat dengan pekerjaannya. “Percuma aku cerita panjang lebar padanya,” ucapnya dalam hati.

“Lebih baik kau minta maaf padanya sebelum semuanya terlambat dan kau hanya bisa menyesal,”


Tiba-tiba Shim ajussi sudah berada di depan Kwangmin lalu pergi lagi.

***

“Aigoo, aku malas eomma, aku di rumah saja, ne?”

Rengek Youngmin pada eommanya. Ia malas untuk pergi kemanapun hari ini. Sejak kepulangannya dari sekolah, ia hanya menutup dirinya dnegan selimut super tebal bergambar Winnie The Pooh, favorite-nya.

“Tidak bisa, Minnie-ah. Appamu meminta kita semua untuk pergi. Ini klien penting appamu lho. Kau juga harus mengenalnya. Ia nanti akan jadi klienmu juga, eoh?”


Ucap wanita paruh baya itu. Ia menepuk punggung Youngmin agar bangkit dari tidurnya. Youngmin mendesah pelan lalu berdiri. Mulai mandi dan memakai pakaiannya.

Author POV End

***

Youngmin POV

Aku, Appa, Eomma dan Yongjin, dongsaengku, sudah berada  di rumah rekan kerja appa. Dengan malas ku langkahkan kakiku. Yongjin yang sedari tadi merangkul lenganku melepas rangkulannya ketika melihat seseorang. Aku melirik ke arahnya lalu pada orang itu. Ku rasa aku pernah melihat namja itu. Dimana ya?

Appa mulai bicara dengan rekan bisnisnya itu. Eomma juga nampak akrab dengan istrinya. Yongjin terlihat memperhatikan namja tadi dan entah siapa di namja yang duduk di sebrangku, ia terus menatapku tak suka.

“Hey, kau Youngmin anak baru itu yah?”


Tanya namja yang sedari tadi menjadi pusat perhatian adikku.

“Ne. Lee youngmin imnida,”


Aku memperkenalkan diri. Ku lihat Yongjin tampak memberikan death glare-nya padaku. Haha. Anak ini. Ia tak patut cemburu seperti itu, kan?!


“Aku sunbaemu di sekolah lho. Hyunseong imnida,”


“Hyung, kau tak perlu memperkenalkan diri pada orang itu. Dia yang membuat Minnie Winnie-ku menangis dan kabur pagi tadi,”


Ketus namja di depanku. Minnie Winnie? Aku sepertinya pernah mendengar panggilan ini. Ah, dia kan teman sebangkunya Kwangmin. Namja yang dikejar Kwangmin kemarin di kantin. Tapi tadi dia bilang aku buat Minnie Winnie-nya menangis? Eh, adikku tidak mungkin berpacaran dengan bocah ini kan?!

“Haha. Maafkan dongsaengku, ne? Dia selalu bersikap protektif jika itu menyangkut Kwangmin,”


“Eh?”


“Mereka itu sahabat sejak kecil,”


Huh. Aku bernafas lega. Lagipula itu tidak mungkin kan. Semanis apapun wajah namja di hadapanku ini, Kwangmin pasti tetap memilih wanita.

Karena bosan aku pergi ke taman belakang rumah ini. Yongjin mengabaikanku dan sibuk tebar pesona pada Hyunseong sunbae. Ku dengar langkah kaki di belakangku. Apa itu Yongjin?

“Apa yang kau lakukan pada Minnie Winnie?”


Eh? Minnie Winnie? Ah, Kwangmin maksudnya.

“Kau tak mendengarku?”


“Itu...”


Kujelaskan ceritanya dari awal pada Minwoo. Aku rasa dia bisa membantuku untuk ini. Bukankah mereka bersahabat? Biasanya seseorang lebih mudah mendengar penjelasan sahabatnya kan?!

Youngmin POV End

***

Author POV

Minwoo melangkahkan kakinya cepat. Ia tak sabar untuk masuk kelas dan memberitahukan berita penting pada Kwangmin. Ia benar-benar berharap sahabatnya itu mau mendengar perkataannya. Setengah berlari menyusuri lorong sekolah. Tak mengindahkan sapaan dari para penggemarnya yang berteriak histeris karena untuk pertama kalinya Minwoo bersikap dingin seperti ini.

Memasuki kelas yang sudah cukup ramai. Tak menemukan Kwangmin di dalamnya. Bertanya pada beberapa temannya. Segera berlari menuju Perpustakaan karena mereka bilang Kwangmin pergi kesana untuk memberikan buku yang seharusnya sudah ia berikan kemarin.

“Minnie Winnie!!!”


Seru Minwoo ketika mendapati Kwangmin keluar dari Perpustakaan. Kwangmin yang mendengar teriakan Minwoo menoleh dan melambaikan tangannya.

“Waeyo Minnie-ah?”


Tanyanya saat mereka berdua berhadapan. Minwoo yang masih ngos-ngosan *?* mulai mengatur nafasnya.

“Youngmin. Youngmin pulang ke Amerika lagi hari ini, Winnie!


Author POV End

***

Kwangmin POV

Aku menelusuri setiap celah di bandara. Berlarian kesana kemari mencari keberadaan Youngmin hyung. Aku harap pesawat menuju Amerika belum berangkat. Minwoo yang juga ikut berlari nampak sudah kelelahan. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu hyung. Aku benar-benar merindukannya. Aku tak mau menyesal seperti yang dikatakan Changmin hyung.

Beberapa kali meneriakan namanya. Tapi tak ada yang menjawab. Hyung, kau dimana?!

“Kwangie-ah,”


Ku dengar suara Youngmin hyung dari belakangku. Aku berbalik dan...

Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangie-ah,”


Aku memanggil namanya. Ia berbalik ke arahku.

“Hyung!”


Serunya lalu memelukku.

Jinja!

Aku tak percaya kalau ini akan terjadi. Sebelumnya aku merasa kalau rencana Minwoo ini takkan berhasil karena Kwangmin pasti benar-benar membenciku.

Ya. Ini semua rencana Minwoo. Mendengar ceritaku yang menurut Minwoo mengharukan membuatnya ingin membantuku. Berpura-pura kalau aku akan pergi ke Amerika hari ini. Mendesak Kwangmin agar menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

“Mianhe saengie-ah,”


Membalas pelukan Kwangmin erat. Tak ingin berpisah lagi. Sungguh. Aku menyayanginya. Ia harta paling berharga dalam hidupku. Takkan melepaskannya lagi. Takkan meninggalkannya lagi. Takkan berbuat bodoh lagi.

“Kajima hyung,”


“Ne!”


“Kau boleh membuangnya tapi jangan berikan ini lagi padaku,”


Menyodorkan gantungan Winni The Pooh padanya.

“Ani hyung. Aku takkan membuangnya. Mianhe,”


Memeluk Kwangmin lagi. Bogoshipo, Kwangie-ah!”

***

Aku dan Kwangmin pergi bersama ke sekolah. Setelah bilang apa yang terjadi sebenarnya, eomma meminta Kwangmin untuk jadi anaknya juga. Dan Yongjin, yeoja imut itu langsung tebar pesona pada Kwangmin. Dia bilang Kwang lebih tampan dibandingkan denganku. Ah, kami kan kembar!

“Hey kau lihat! Ketika mereka berjalan bersama, mereka benar-benar seperti kembar,”


Yeoja itu lagi.

“Ne. We’re really twins!”


Ucapku dan Kwangmin bersamaan. Mengedipkan sebelah mata kami. Sepertinya kami bukan hanya kembar wajah. Haha

Youngmin POV End

END

0 komentar:

Posting Komentar