Jumat, 29 Juni 2012

Boyfriend FanFiction - Teach Me, Love Me

Title: TEACH ME, LOVE ME
Author: Rina Noona
Main cast: Kang Jihwa, Jo Youngmin
Other cast: No Minwoo dan teman sekelas
Genre: Romance gaje
Rating: bimbingan orang tua
Youngmin POV
Jika orang bertanya padaku, bagaimana kehidupan sekolahmu? Dengan senang hati pasti aku jawab MEMBOSANKAN!!! Sekolah? Hanya seonggok gedung berisi manusia2 yang mengaku menuntut ilmu. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Kalau aku bisa memilih, aku lebih suka belajar dari hidup di luar sana tanpa aturan2 bodoh seperti lingkungan yang bernama SEKOLAH.
“Jo Youngmin! Dari tadi kau tidak memperhatikan pelajaran? Ada apa denganmu?”
“Ah, aniyo seongsangnim, hanya saja aku sedikit tak enak badan. Bolehkah aku ke UKS?”
“Tentu saja. Kalau kau sakit pergi saja ke UKS. Nanti kalau kau sudah sehat bisa melanjutkan pelajaran.”
“Nae, kamsahamnida seongsangnim.”
Aku bohong. Aku baik2 saja. Aku tidak sakit. Hanya saja pelajaran hari itu sangat membosankan. Apa aku harus ke UKS sungguhan. Ke kantin saja dulu.
“Aku ingin beli sebotol air mineral dingin ahjumma.” Aku lalu menyerahkan uang pada si ahjumma penjaga kantin.
“Ige. Gomapta nae?” aku  melempar senyum pada ahjumma  aku melangkahkan kakiku ke UKS.
“Ah mungkin lebih baik aku tidur saja di UKS.”
Sampai di UKS aku mendengar suara. Mungkin saja murid lain yang tidur di dalam. Aku masuk saja. Tapi aku melihat seorang yeoja berbaju putih. Seperti dokter. Mungkin murid yang tugas jaga UKS. Apa peduliku. Aku merebahkan tubuhku di salah satu ranjang.
“Ya~ kau murid kelas 3. Kenapa tiduran disitu?” tiba2 dia menegurku.
“Aku? Tentu saja aku sedang tidak enak badan.”
“Aku rasa bukan.”
“Jangan sok tahu!”
“Aku memang tahu kok. Tak usah berpura2…”
Murid ini berisik sekali. Sudahlah aku kembali ke kelas saja. Terpaksa aku mengikuti pelajaran yang membosankan itu. Ketika seongsangnim keluar karena pelajaran berakhir, temanku sebangku menegurku.
“Youngmin, hari ini kau tak bersemangat sekali.”
“Ah Minwoo, kau tau kan tadi aku ijin ke UKS sebentar karena tidak enak badan.”
“Nae Youngmin, tapi sepertinya waktumu ke UKS tadi kurang. Kau masih terlihat tak bersemangat.”
“Ani, gwaenchana. Sudah, kita ke kantin saja Minwoo.”
“Aaaa, kajja.”
***
Pelajaran berikutnya. Pelajaran bahasa inggris. Menurutku ini lebih membosankan lagi. Ah, kali ini kau harus benar2 keluar dari kelas ini Youngmin, kataku dalam hati. Tapi ketika  aku bersiap2 pergi, seseorang memasuki kelas. Sial… ah, orang itu… bukankah dia…
“Yap, good afternoon class. Let me introduce my self.”
“Sure mam.”
Guru itu, bukankah dia murid yang di UKS tadi? Kenapa dia jadi guru disini? Dari umurnya pun dia kelihatan masih muda. Mungkin usianya setara denganku. 17 tahun. Tapi dia guru. Aku tidak percaya.
“Ok, my name’s Kang Jihwa and I’ll be your teacher for a week cause your real teacher, Mrs. Yoora, she has a bussiness for a week, so… let’s have fun with me and English lesson only for this week.”
“Yeeeeaaaaahhhh…” kelas gempar. Sudahlah. Aku tidak peduli. Lebih baik aku tidur di kelas. Ketika aku merebahkan kepalaku di meja… guru baru itu menegurku.
“Jo Youngmin, don’t sleep on this class please. Ah, and I want to ask you something….”
Mwo? Dia tahu namaku dari mana? Setahuku aku tidak pernah berkenalan dengannya. Aish…
“Yes mam, what you want to ask?
“Is this yours?” dia mengambil sesuatu dari saku kemejanya. Dia mengeluarkan kartu. Itu kartu pelajarku kan?
“Nae seongsangnim, itu milikku. Dari mana kau dapatkan itu?”
“Terjatuh di UKS tadi. Ige, aku kembalikan.” Dia mendatangi bangkuku dan menyerahkan kartu itu. Seisi kelas memandang kearahku. Pasti gara2 guru muda ini pernah bertemu denganku sebelumnya. Dasar…Minwoo yang dari tadi memperhatikan guru itu tiba2 bertanya padaku.
“Youngmin? Kau kenal guru itu? Ah beruntung sekali… Dia pasti pintar, sepertinya dia masih muda. Aku penasaran dengan umurnya. Coba kau tanyakan.”
“Shireo, kau tanya sendiri saja. That’s not my business.”
“Jo Youngmin dan kau teman sebangkunya, siapa namamu?”
“Choyo? No… No Minwoo, seongsangnim.”
“Ah, Youngmin and Minwoo. Silent please.”
“Ah, mam… I have some question for you.”
Aish, Minwoo. Kau ini… nekad juga bertanya pada guru yang menurutku sepertinya menyebalkan ini. Kang Jihwa? Nama yang aneh…bagiku.
“Yes, Minwoo?”
“How old are you? And don’t you have boyfriend yet? ”
“Hahaha, me? I’m 17 years old, I don’t have boyfriend yet.”
“Ah, masih muda ya? Seongsangnim hebat, masih muda kenapa sudah jadi guru? Padahal umur kita sama semua, 17an tahun.”
“Hahaha arasseoyo! Aku sejak kecil tinggal di Inggris, dan umur 15 aku sudah lulus pendidikan sarjana. Oke, enough for introduce session. Let’s get it started. Our English class….”
***
Akhirnya, kelas menyebalkan itu berakhir juga. Entah mengapa dari tadi guru baru itu selalu mengajukan pertanyaan2 tidak penting. aku keluar kelas.
“Ah sepertinya mau hujan. Untung aku bawa payung.”
“Youngmin, aku pulang dulu ya….”
“Nae Minwoo, hati2…
Entah mengapa rasanya aku lebih memilih tidak untuk pulang. Aku lebih senang memandangi hujan daripada berjalan di bawah guyuran hujan. Ah, bukankah aku membawa kamera. Aku mengeluarkannya dari dalam tas. Memotret memang hobiku.
“Mumpung sekolah sepi, lebih baik aku memotret disni.”
Aku membidikkan lensaku ke bebrapa tempat yang menurutku menarik
“Ternyata sekolah indah juga kalau diguyur hujan.”
“Bukan sekolah yang indah, tapi hujanlah yang indah.” Seseorang menegurku. Guru bahasa inggris itu, Kang Jihwa seongsangnim.
“Ah, seongsangnim. Anda…”
“Jangan panggil seongsangnim, ini sudah bukan jam sekolah lagi. panggil aku Jihwa saja. Lagipula umur kita sama.”
“Ah nae, Jihwa.” Aku masih terlalu canggung memanggilnya dengan nama Jihwa.
“Kenapa kau tidak pulang Youngmin?”
“Entahlah, melihat hujan aku lebih senang menikmatinya disini sambil memotret dari pada harus berjalan diguyur hujan.”
“Ah, begitu ya…”
“Lalu kenapa kau tidak pulang?”
“Aku? Aku suka sekolah ini. Aku segala hal di sekolah ini.”
“Begitu ya. Aku berpikir sebaliknya. Sekolah membosankan, membosankan dengan aturan2 bodoh itu.”
“Bukankah memang dari awalnya hidup kita diatur?”
“Maksudmu? Tuhan memberi kita kebebasan seluas2nya…”
“Siapa bilang? Kau ini, kukira pikiranmu sudah dewasa, tapi ternyata masih seperti anak kecil.” Dia mengusutkan rambut pirangku. Deg… apa2an ini? Jantungku… lalu aku menepis tangannya dari rambutku.
“Ah mian, Youngmin. Oh ya, kau tidak tahu kalau sejak awal kita lahir, hidup kita sudah diatur?”
“Siapa yang mengatur?”
“Tentu saja Tuhan, sejak kita lahir, ah tidak, sejak kita diciptakan kita sudah diatur, aturan itu dinamakan takdir.” Dia berkata sambil tersenyum. Perasaan apa ini. Seumur hidup aku belum pernah merasa seperti ini.
“Oh begitu ya? Jadi selama ini jalan pikiranku salah.”
“Bukan salah, hanya perlu diluruskan. Arasseo?”
“Nae seongsangnim.” Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum padanya.
“Sudah kubilang. Jangan panggil aku seongsangnim, aku merasa tua. Dasar kau ini.”
“Ah, aku lupa. Mianhae Jihwa.”
“Gwaenchana…Geurom, aku pulang dulu. Oh ya, gumawo, senyummu manis sekali. Annnyeong Youngmin.” Dia melemparkan senyumnya padaku sebelum pergi. Astaga, manis sekali, kali ini aku kira aku jatuh cinta.
 “Ah, cakkamanyo.” Spontan, aku menarik dan menggenggam tangannya. Sepertinya otakku sudah tidak berjalan dengan semestinya.
“Gumawo, Jihwa.” Tiba2 saja aku memeluknya dan dia pun tak menolak hal itu. Sadar, aku melepaskan pelukanku. “Ah, mianhaeyo~, aku tak bermaksud…”
“Gwaenchana Youngmin, aku pulang dulu.”
Aku hanya terdiam melihat dia pergi. Kang Jihwa, tahukah kau, mulai saat ini, aku jatuh cinta padamu. Aku harus bisa bicara padanya tentang perasaanku…
***
Ini hari terakhir Jihwa mengajar di sekolah ini. Entah kenapa sejak saat itu, sejak hari hujan bersama Jihwa aku jadi bersemangat masuk sekolah. Tapi aku hanya menikmati pelajaran bahasa inggris yang di ajar Jihwa.
“Good afternoon class, ok, I think this is the last day we study together… saya tidak akan mengajar materi, hanya saja kita sharing2 mengenai experience for this week, setuju?” seperti biasa Jihwa memasuki kelas dengan ceria.
“Setuju mam…” semua bersorak serentak. Aku pun ikut bersorak. Tidak biasanya.
“Yak, mulai dari Minhwa, Riyoung, Hyejin, Haneun dst…”
Aku melihat banyak yang menyukai Jihwa, baik dari kecerdasannya, cara mengajarnya, bahkan sifatnya. Aku pun tidak bisa menolak, semua yang dikatakan murid di sini memang benar.
“Yak, Youngmin. You turn…tell me what u feel for this week.”
“Me? I got new experience, new lesson, new….”
“Then? Continue…”
“I think enough, mam…”
“Ok Youngmin. Thank you, last, Minwoo.”
“Of course, new lesson, new experience, and new teacher.’
Semua murid di kelas tertawa mendengar jawaban polos Minwoo. Aku pun ikut tersenyum. Minwoo, kau benar, aku pun mendapat guru baru dan cinta baru. Itu berkat kau seongsangnim.
“Ok, sekarang gilliran saya, tahukah kalian,seminggu disini terasa begitu cepat, saya senang mendapat murid seperti kalian, seperti mendapat teman sebay, ehm mungkin karena factor umur. Selain itu, kalia menyenangkan. Dan last of  all, terima kasih sudah memberi saya kesempatan mengajar kalian. Sampai jumpa lagi. good bye and keep spirit!!”
“Nae seongsangnim. Gamsamnida.”
Pelajaran berakhir. Ini pelajan terakhir hari ini. Aku sadar aku tak mau berpisah dengan Jihwa. Aku harus mengungkapakan perasaanku. Aku tidak mau berakhir seperti ini. aku menunggu sampai sekolah sepi. Setelah sepi, aku mencari Jihwa di ruang guru. Tidak ada. Aku mengelilingi sekolah, dan Jihwa masih belum terlihat.
“Aish, apa Tuhan mengaturku untuk berpisah dengannya seperti ini?” aku menggerutu. Tapi aku tak mau menyerah. Tuhan, kalau memang kau mengaturku untuk berpisah dengannya, aku minta maaf, aku kan melanggar aturan itu.
“Jihwa seongsangnim. Kang Jihwa… dimana kau..?” aku berteriak di sekolah yang sepi seperti orang gila.
“Ah mungkin dia sudah pergi. Mungkin kali ini aku harus menurut aturan.”
“Nae, tentu kau harus menurut aturan. Tapai kenapa harus berteriak2 seperti itu?”
“Jihwa?” aku senang masih bisa bertemu dengannya. “Kau masih disini? Aku mencarimu dari tadi.”
“Iya, aku masih ingin disini sebentar lagi. menikmati suasana sekolah ini. Kau ini berteriak seperti itu, tidak takut disangka orang gila?”
“Aku tak peduli, dengarkan aku Jihwa. Aku… aku menyukaimu. Sejak hari itu, harki dimana kita menikmati hujan disini. Aku tak peduli orang akan menganggap apa hubungan kita. Aku tak peduli statusmu yang guru dan aku yang murid…”
“Stop…” Jihwa menaruh telunjuknya dibibirku. “ Kau ini ya… cerewet sekali. Bisa tidak sih ngomong pelan2 Youngmin?”
“Ah, mianhae. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku, mungkin aku terbawa suasana.”
“Arasseo.”
“Jadi? Kau mau menerima perasaanku atau tidak?”
“Entahlah, menurutmu?”
“Ya~ jangan membuatku bingung, Jihwa.”
“Hahaha, wajahmu lucu sekali Youngmin. Nae, aku juga menyukaimu, mungkin aku lebih dulu menyukaimu.”
“Jinjja? Jadi kau mau menerimaku? Kau mau jadi yeojachinguku?”
“Yeoja chingu? Kau tidak malu punya yeoja seperti aku yang bisa dibilang lebih tua darimu?”
“Siapa bilang kau lebih tua? Bukankah umur kita sama2 17 tahun?”
“Memang, tapi statusku guru dan kau murid, kau tidak malu?”
“Sudah kubilang kan tadi, aku tidak peduli. Aku rasa Tuhan tidak memberikan aturannya dalam hal ini. Lagipula kau tidak mengajar lagi disini. Benarkan?”
“yah memang benar, tapi meskipun kita tidak bersama di sekolah ini, tapi kita bisa jalan di luar sana. Baiklah, mulai sekarang aku jadi yeoja chingumu.”
“Jinjja? Gumawo, aku senang punya yeoja sepertimu, pintar, cerdas, dan guru pula, kau yang mengajariku bahwa hidup memang bebas, tapi teratur. Benarkan kan seongsangnim.”
“Nae muridku yang baik….”
“Mam, I LOVE YOU!”
“I LOVE YOU TOO.”
Kami saling melempar senyum. Selanjutnya aku menggandeng tangannya. Aku memutuskan menemaninya berkeliling menikmati sekolah sebelum pulang Terimakasih seongsangnim. Kau datang dan mengarahkanku. Termakasih mengajariku, terimakasih memberiku cinta…
END

Boyfriend FanFiction - LOVE

Title : Love
Author : Choi Ra Ra a.k.a =DhoRha=
Cast : - Kim Dong Hyun
- No Min Woo
- Choi Ra Ra #eksis
Genre : ga tau apa #plakk
Lenght : One Shoot
NB : Ini FF pertama saya, mianhe kalo jelek.
HAPPY READING

All Author POV

“Masih lamakah?”


Seorang namja berjalan mendekati namja yang lebih muda darinya. Figure lebih muda terus asyik berkutat dengan kuas dan kanvasnya. Tak lama ia menoleh dan mendapati figure yang lebih tua darinya itu sudah duduk di sampingnya.

“Masih lama?”


Mengulang pertanyaannya lagi karena tak juga mendapat jawaban. Figure lebih muda tersebut tersenyum lalu mengangguk. Merapatkan kanvas pada dadanya. Seolah takut figure lebih tua itu melihat hasil lukisannya.

“Wae? Ga boleh lihat lagi, eum?”


Mencoba mengintip lukisan diatas kanvas meski ia tahu itu mustahil. Figure lebih muda tersebut memang selalu menyembunyikan hasil lukisannya. Tak membiarkan seorangpun tahu apa yang sedang ia lukis sampai lukisan itu benar-benar selesai. Namun akhir-akhir ini berbeda. Figure lebih muda ini sama sekali tak mau menunjukkan hasil karyanya. Entah apa yang ia lukis disana hingga ia tak ingin siapapun tahu.

“Apa kau melukis seorang yeoja?”


Kembali bertanya karena tak mendapat sambutan baik dari usahanya. Figure lebih muda itu menggelen pelan. Memasukkan kanvasnya ke dalam tas yang berukuran lumayan besar.

“Kau menggangguku, hyung. Kajja, kita pulang saja!”


Beranjak dari duduknya sambil mempoutkan bibir. Kesal karena aktivitas yang paling disukainya terganggu. Berjalan mendahului figure lebih tua yang datang dengan sengaja untuk menjemputnya.

“Kajja!”


Merebut tas yang menggantung dilengan kanan figure lebih muda. Balas mendahului figure itu. Figure lebih muda itu hanya mendengus kesal. Sesekali menendang kerikil di depannya. Figure lebih tua itu tersenyum kecil menyadari tingkah figure lebih mudanya.

Kim Donghyun, nama figure lebih tua itu dan figure lebih mudanya bernama No Minwoo. Rumah mereka yang berhadapan membuat mereka dekat sejak kecil. Mereka terlihat seperti saudara. Apalagi dengan sikap Minwoo yang sering bermanja pada Donghyun. Sebagai anak tunggal dengan aktivitas orang tuanya yang padat membuat ia merasa kesepian. Beruntung ia mempunyai tetangga yang baik hati seperti Eomma Donghyun hingga ia pun tak merasa kehilangan sosok Ibu.

Donghyun menunggu Minwoo di pintu pagar rumahnya. Minwoo nampak memperlambat langkahnya melihat Donghyn yang malah asyik bersandar pada pagar. Padahal awalnya ia ingin Donghyun membelikan ia ice cream atau apapun yang akan membuatnya berhenti marah, seperti biasanya. Namun hari ini nampaknya harapan itu hanya harapan kosong. Jelas ia melihat Donghyun sama sekali tak merasa bersalah.

Kembali mempoutkan bibirnya seraya merebut tasnya dari genggaman Donghyun. Menyeret langkah menuju rumahnya sendiri. Masih kesal karena Donghyun belum memanggilnya untuk makan malam atau setidaknya sekedar minta maaf.
Donghyun memperhatikan Minwoo yang dengan malas pulang ke rumah. Ia terkekeh kecil menyaksikan Minwoo yang ia rasa menunggu panggilannya untuk berbalik dan makan malam bersamanya. Awalnya ia ingin membelikan Minwoo ice cream untuk meredakan emosi Minwoo. Tapi ia terlalu gemas melihat tingkah Minwoo yang seperti anak kecil jika sudah marah. Jadi ia mengurungkan niatnya dan membiarkan Minwoo menunggu hadiahnya yang lain.

***

“Hyung, gomawo!”


Memeluk tubuh figure lebih tua dihadapannya. Kim Donghyun. Ia baru saja memberikan figure lebih muda itu kanvas dan cat baru. Raut wajah Minwoo yang semula kesal dengan kedatangan Donghyun ke rumahnya kini berubah senang. Tak hentinya ia tersenyum seraya melukis diatas kanvas barunya. Donghyun hanya tersenyum kecil melihat tinggah Minwoo yang kekanakan.

***

Donghyun mengamati benda dalam di tangannya. Sebuah kalung berliontin ‘M’. Sengaja ia beli sebagai kado ulang tahun Minwoo. Namun bulan sudah berganti berkali-kali sejak ulang tahun Minwoo berlangsung. Dan kalung itu belum jatuh juga pada sang pemilik. Memberi kesan kalau kalung itu memang takkan menjadi milik siapapun.

Tok Tok Tok

Mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Beranjak dari posisi tidurnya dan berjalan ke arah pintu. Membukanya dengan malas karena ia tahu siapa yang akan datang. Siapa lagi kalau bukan ibunya? Ia tahu kalau ibunya hanya akan bertanya tentang pendamping hidupnya. Sudah hampir 23 tahu, ia sama sekali belum pernah berpacaran. Ibu mana yang tidak khawatir?!

“Surprise!!!!”


Reflek menutup telinganya mendengar suara nyaring dari dua orang di hadapannya. No Minwoo dan .. Seorang yeoja? Mengernyitkan dahi. Mencoba mengenali siapa pemilik wajah cantik dihadapannya. Nihil. Benar-benar tak mengenalinya. Hingga  sadar kalau dua orang dihadapannya itu sudah memasuki kamarnya dan mengacak tempat tidur yang belum lama ini ia rapikan.

“Nuguseyo?”


Bertanya pada yeoja yang kini sudah berada dihadapannya. Masih mencoba mengenali siapa gerangan yeoja yang dengan sembarangan memasuki kamar seorang namja.

“You don’t know me?”


Balik bertanya pada sosok namja dihadapannya yang terlihat bingung. Tersenyum kecil mendapati sosok dihadapannya ternyata benar-benar tak mengenalinya.

“Hyung, kau lupa padanya? Bukankah dulu kalian sangat akrab?”


Minwoo mulai ambil suara dan menelantarkan kaleng minuman dan snack yang ia bawa. Menatap Donghyun yang mencoba menggqali ingatannya.

“Choi Rara?!”


Mencoba ngengucapkan sebuah nama yang menjadi tabu baginya sejak 6 tahun terakhir. Cinta pertamanya yang kandas bahkan sebelum ia memulainya. Choi Rara, sepupu No Minwoo yang 6 tahun lalu harus ikut ayahnya ke Jepang, tentu saja karena pekerjaan ayahnya. Meninggalkan Donghyun yang saat itu sebenarnya ingin menyatakan perasaannya.

“Kyaa, oppa ternyata masih ingat padaku,”


Memeluk Donghyun erat mendengar namanya disebut. Ia senang Donghyun masih mengingatnya meski ia dan Donghyun sudah tak bertemu selama 6 tahun.

“Jadi kau yeoja bawel dan menyebalkan itu?”


Donghyun melayangkan tatapan sinisnya. Sedikit memberi pelajaran pada figure cantik dihadapannya. Sedang figure cantik itu mulai menunduk. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia merasa sangat bersalah. Sedikit mengingat masa lalu. Dimana ia mengingkari janjinya untuk bertemu Donghyun di taman dan pergi tanpa pamit ke Jepang. Membuat Donghyun menunggunya di taman dan terkena flu karena tiba-tiba saja turun salju.

“Hyung, Noona, itu sudah enam tahun bukan? Sudahlah!”


Minwoo mencoba menengahi. Figure paling muda itu mencoba menenangkan noonanya dengan mengelus punggungnya. Namun matanya juga tak lepas dari Donghyun yang nampak tersenyum tipis melihat keduanya. Mengernyit bingung dengan sikap seseorang yang ia anggap kakak itu.

“Bwahahaha,”


Tawa Donghyun pecah setelah melihat raut cemas dari wajah Minwoo dan tentu saja kesedihan dari Rara.

“Oppa! Kau senang sekali membuatku sedih,”


Rara mempoutkan bibirnya dan melempar Donghyun dengan bantal disampingnya. Donghyun meringis mendapat lemparan jitu dari cinta pertamanya itu. Meski pada kenyataannya lemparan bantal itu tak membuatnya sakit sama sekali.

“Kalian kekanakan!”


Berucap pelan melihat kejadian konyol di hadapannya. Sedikit iri, mungkin. Karena wajahya kini tak sebahagia tadi. Ada raut cemas bercampur luka disana.

“Kau yang masih anak-anak! Hahaha,”


Donghyun dan Rara membalas ucapan Minwoo berbarengan. Tertawa bersama karena pikiran yang sejalan. Sedangkan yang dikatai hanya menampakkan wajah sedih. Tak rela karena tak mendapat teman kelompok untuk melawan ucapan mereka. Dua lawan satu, sudah pasti dia yang kalah. Apalagi ia tak terlalu pandai bicara.

“Maafkan kami saengi, tadi cuma refleks,”


Rara mencoba meluluhkan adik sepupunya itu. Membalas apa yang dilakukan Minwoo padanya tadi. Memeluk Minwoo dan mengelus punggungnya lembut. Minwoo tersenyum kecil lalu meleletkan lidahnya ke arah Donghyun. Sungguh kekanakan.

***

“Noona akan pergi lagi?”


Minwoo mengeratkan pelukannya pada tubuh Rara. Rara hanya menganggukan kepalanya. Tangisnya sudah pecah sejak tadi. Ia benar-benar sedih karena harus meninggalkan Minwoo, terutama Donghyun. Sama seperti enam tahun lalu. Ia juga tak berpamitan padanya. Terlalu takut tak bisa kembali ke Jepang. Sungguh ia hanya ingin di Korea saja. Bersama Minwoo dan Donghyun.

“Noona tak beritahu hyung lagi? Ia pasti marah,”


Mencoba mengingatkan noona-nya tentang kejadian enam tahun silam. Mengingat Donghyun benar-bena frustasi saat itu. Tak ingin hyung yang disayanginya itu kembali bersedih. Egois memang. Tapi itu semua karena ia sayang keduanya. Terlebih Donghyun-nya. Ah, seandainya bisa ia mengatakan hal itu.

“Kau jahat noona. Kau tahu kan kalau dia menyukaimu,”


Menatap manik coklat milik Rara. Mencari jawaban tentang perasaan Rara sesungguhnya. Ia benar-benar tak mengerti tentang sepupunya satu ini. Kadang ia menunjukkan ketertarikannya pada Donghyun. Tapi ia sering sekali membuat Donghyun terluka. Hal yang tak mungkin dilakukan jika kau mencintai seseorang.

“Dan aku juga tahu kalau kau menyukainya, No Minwoo,”


Berkata dalam hati. Tak mungkin mengungkapkannya karena takut melukai figure tampan dihadapannya. Ia benar-benar berusaha untuk berpikir kalau ini hanya pikiran buruknya saja.

-On Of Flashback–


“Rara kau mau ice cream?”


Donghyun menyodorkan cup ice cream rasa cokelat pada Rara. Rara menerimanya dengan riang. Senang jika orang yang begitu ia sukai memperhatikannya.

“Hyung, aku juga mau,”


Minwoo merengek sambil menarik ujung baju Donghyun. Rara memandangnya lucu. Minwoo-nya begitu imut ketika merengek dan menunjukkan puppy eyes andalannya. Donghyun kembali ke kedai ice cream dan membelikan satu lagi ice cream untuk dongsaeng kesayangannya.

“Noona menyukai hyung?”


Tiba-tiba saja Minwoo bertanya seperti itu. Rara yang sedang memakan ice cream-nya menoleh. Tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan sepupunya itu. Ia masih 10 tahun bukan?!

“Wae? Kau menyukainya?


Tanya Rara usil. Lalu melambai ke arah Donghyun yang berjalan ke arahnya. Menunjukan deretan giginya yang rapi.

“Eum. Aku menyukai hyung. Aku ingin menikah dengan hyung suatu hari nanti,”


Minwoo berucap dengan gembira. Hati Rara mencelos. Menghentikan kegiatannya melambai pada Donghyun. Tak menyangka Minwoo akan mengatakan hal seperti ini. Ia tahu kedekatan dua orang itu. Tapi ia tak pernah berfikir sebelumnya kalau Minwoo akan memiliki perasaan seperti ini.

“Wae noona? Tidak boleh? Noona juga menyukainya?”


Minwoo memandang Rara dengan imut. Sesekali mengerjapkan matanya. Detakan jantung Rara melonjat cepat seolah akan meledak. Sakit yang luar biasa parahnya yang baru pertama kali ia rasakan.

“Minwoo-ya, ini untukmu!”


Suara Donghyun memecah lamunannya dan saat itu, gelap. Rara pingsan

- Flashback End –

“Gwenchana Minwoo-ya. Biarkan dia membenciku hingga lupa semua tentangku seperti kemarin,”


Jawab Rara akhirnya. Menutupi sakitnya. Ia begitu menyayangi Minwoo. Takkan biarkan sepupu yang sudah ia anggap adik itu bersedih karena harus mengalah padanya. Bukankah mereka berdua sangat dekat? Namja tampan dengan namja cantik di sisinya. Biarkanlah ia mengalah dan kembali ke Jepang, ke tempat dimana seharusnya ia berada. Tempat dimana ada seseorang menantinya. Tak peduli ia suka atau tidak. Jodohnya. Jodoh pilihan orang tuanya. Takdirnya kelak.
Memeluk Minwoo sekali lagi. Begitu rindu dengan sepupunya itu padahal ia belum beranjak sama sekali. Mengecuk pucuk kepala Minwoo lama. Tahu kalau ia mungkin takkan kembali ke Korea. Takkan bertemu Minwoonya jika Minwoo tidak pergi sendiri ke Jepang.

“Kau harus bahagia, eoh?”


Melangkah pergi meninggalkan Minwoo yang sedang berkaca menatap kepergian sosok noona, bahkan ibu baginya. Sedikit menyadari kepergian noona-nya itu karenanya. Karena dia yang terlalu rapuh. Karena dia yang tak bisa meninggalkan hyung yang disayanginya. Sedikit menyesal. Kenapa harus suka? Bukankah mereka sama. Mereka pria. Mereka...

“Minwoo-ya!”


Suara yang begitu familiar di telinganya. Berbalik melihat makhluk Tuhan paling tampan yang pernah dilihatnya. Donghyun. Kim Donghyun. Hyung-nya.

“Dia sudah pergi hyung,”


Berucap lirih. Menyesal tidak tahu sejak awal tentang perasaannya yang salah dan tentang, noona-nya. Tak ingat kalau dulu ia pernah bilang pada noona tercintanya kalau ia ingin menikah dengan sosok dihadapannya. Bodoh. Mengutuk dirinya sendiri.

“Dia takkan pulang?”


Menitikkan air mata yang sudah enam tahun ini tak juga jatuh dari matanya. Begitu sedihkah? Terlalu berhargakah? Padahal sempat lupa. Atau pura-pura lupa? Mendudukan tubuhnya pada kursi di dekatnya. Tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri saking syoknya. Kembali kehilangan orang yang ia cintai. Atau berusaha ia lupakan? Tapi ingat lagi bukan? Teringat kata eommanya, Orang yang tak bisa dilupakan akan terlupakan, tapi kemudian teringat lagi,”. Membenarkannya. Ia sudah melupakan gadis itu. Choi Rara. Benar-benar melupakannya hingga kemarin. Saat bertemu dengannya sekali lagi. Membiarkan otaknya mengingat siapa gadis dihadapannya. Sedikit senang karena rindunya terlepaskan. Tapi.. Tapi semuanya...

“Hyung,”


Mendongkak melihat seseorang yang memanggilnya lirih. Minwoo. Dongsaengnya. Sepupu dari orang yang dicintainya.

“Saranghae,”


Memeluk tubuh kurus Minwoo. Semakin erat. Membuat sang pemilik sesak. Sekaligus bahagia. Tak menyangka dengan yang dikatakan figure tampan yang memeluknya. Mengembangkan senyum seraya membalas pelukan itu. Tak peduli dengan rasa sesak yang ia rasakan tadi. Ia terlalu bahagia.

Drrttt.  Drrtt.

Membuka pesan pada ponselnya.

From : Nae Cheonsa

“Gomawo oppa. Saranghae...”

To : Nae Cheonsa

“Bayar ini dengan kau harus bahagia”

***

“Tak peduli harus sakit, aku akan buat kau bahagia. Tak peduli menyakiti orang lain, aku akan buat kau bahagia. Termasuk merelakan orang yang kucintai. Itu janji cintaku untukmu, No Minwoo”
=Choi Rara=



“Tak peduli jika sakit, atau dibuang sekalipun, aku akan tetap melakukannya. Itu janji cintaku, Choi Rara”
=Kim Donghyun=



“Cinta itu hanya menunggu. Entah bagaimana caranya, ia pasti akan datang. Itu cinta menurutku, Kim Donghyun”
=No Minwoo=

Boyfriend Fan Fiction - Paper Diary

Title : Paper Diary

Author : Arhazhar Arha a.k.a Choi Rara a.k.a =DoRha=

Genre : Entah apa

Lenght : One Shoot

Cast : - No Minwoo
  - Kim Tae Hee
  - Kim Dong Hyun
  - Choi Rara #eksis

Note : Ini ff gaje banget..

HAPPY READING!!! ^^


Author POV

Pluk..

Gumpalan kertas mendarat mulus di kepala Minwoo. Kemudian jatuh di dekat kakinya. Namja ini menengadah. Mencari siapa yang membuang kertas sembarangan hingga mengenai kepalanya. Namja manis itu melihat seorang yeoja berambut panjang tengah berbalik dan pergi.

Diraihnya gumpalan kertas tersebut lalu dibuka. Terdapat beberapa kalimat di dalamnya yang malas untuk ia baca. Dilipatnya kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celananya.

***

Ia sudah berada di kamarnya sejak 30 menit yang lalu. Enggan mengganti seragamnya. Terlalu asyik menikmati istirahatnya di atas single bed-nya. Tak menghiraukan teriakan yeoja dari luar kamarnya. Memasang earphone dan menutup matanya.

Minwoo POV

Rara noona mengetuk pintu kamarku keras, semakin keras karena aku tak juga bersuara apalagi membuka pintunya.  Aku yakin Rara noona sedang kesal sekarang. Siapa suruh membuat ramyeon untuk makan siang? Padahal aku sudah berkali-kali bilang kalau aku bosan makan ramyeon. Sejak eomma pergi ke Busan mengunjungi halmeoni noona hanya mau membuat ramyeon untuk makan siang. Ya, meskipun ia memasak makanan lain untuk makan malam, tetap saja aku bosan.

“Ya! Dongsaeng pabo! Cepat buka pintunya!”


Teriakan noona membuatku terlonjak dari tempat tidur. Keras juga suaranya. Kulepas earphone yang menggantung di telingaku dan melangkah ke arah pintu. Noona, kau menang kali ini.

Cklek

Benda berwarna cokelat tua itu terbuka. Ku lihat noona sudah menyilangkan tangannya di depan dada. Raut wajahnya kesal sekali. Haha.. Kapan lagi aku melihat noona yang ekstra sabar itu marah?!

“Minwoo-ya, bisakah kau belikan makanan di kedai ujung sana. Noona sedang malas,”


Wajah berubah menjadi memelas ketika memintaku pergi membeli makanan. Noona yang aneh. Gagal sudah rencanaku membuat dia marah.

“Noona sakit?”

Tanyaku seraya menyentuh keningnya. Ia menepisnya dan memberiku beberapa lembar uang.

“Belikan juga untuk makan malam. Mungkin aku akan malas juga malam ini,”


Ck. Pabo. Sudah jelas dia sakit, bukan malas. Sudahlah.

Aku beranjak dari tempatku berdiri dan mengendarai motorku menuju kedai yang Noona tunjukan. Kenapa tidak delivery saja sih?!

Ku rogos saku celanaku dan mengambil uang untuk membayar makanan yang ku pesan. Ada secarik kertas yang terbawa saat mengambil uang itu. Ku putar otakku mengingat kertas apa ini. Ah, ini kertas tadi siang. Kenapa aku simpan yah?! Segera ku bayar makanannya dan pulang ke rumah. Aku yakin noona pabo itu sedang kelaparan sekarang. #Minwoo songong

***

“Saengie-ah! You’re the best!”


Ucap Rara noona setelah menghabiskan makanannya. Ia menepuk bahuku pelan. Ck. Dasar noona. Selalu seenaknya sendiri.

“Oya, aku menemukan ini!”


Ia menyodorkan kertas lusuh padaku. Segera ku raih dan memasukkannya ke dalam saku. Darimana ia mendapatkannya?!

Aku kembali ke kamar dan mengganti seragamku. Merogoh kembali saku celanaku. Kertas ini milik siapa yah?! Kenapa aku begitu tak tega membuangnya. Padahal hanya kertas biasa.

Ku buka pelan kertas itu.

Dear Diary...
Aku menyukainya...
Sangat.. Bahkan aku tak tahu batasannya..
Tiap kali melihatnya bersama yeoja itu hatiku sakit..
Kenapa ia hanya mau berdekatan dengannya??
Kenapa ia membatasi pertemanan kami??


Diary?!

Kekanakan. Siapa orang yang menulis hal konyol ini pada selembar kertas? Jika hanya ia buang, bukankah lebih baik ia pendam saja. Bodoh. Ternyata ada orang yang lebih bodoh dari sepupuku itu.

Author POV

Minwoo menaruh kertas itu di meja belajarnya. Membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Mengesap dalam udara dan menghembuskannya perlahan. Tak lama ia tertidur.

Saat terbangun, ia dikejutkan dengan keberadaan sepupunya, Rara, di dalam kamarnya. Gadis belia itu ikut terbaring di samping Minwoo. Dengan hati-hati Minwoo beranjak dari kasur sempitnya dan berjalan mengambil handuk dan berakhir di kamar mandi.

Usai mandi ia menghangatkan makanan yang ia beli tadi siang. Membangunkan Rara pelan. Kemudian membantunya duduk karena ternyata Rara benar-benar sakit. Dibawanya makanan itu ke kamar dan menyuapi Rara meski Rara menolaknya.

Minwoo POV

Noona, apa kau punya teman yang sedikit aneh?”


Tanyaku seraya menyuapkan makanan ke mulut Rara noona. Aku baru ingat. Kelas lantai dua tempat yeoja itu membuang kertas adalah kelas Rara noona.

“Teman? Kupikir semuanya aneh. Mereka lebih suka belajar dan memperhatikan guru. Jika istirahat mereka masih berkutat dengan buku disela makannya. Benar-benar tidak menikmati hidup.”


Ah, benar juga. Kelas noona kan kelas unggulan. Aku juga heran kenapa noona bodohku bisa masuk kesana. Apa mungkin dari kelas lain? Bisa saja orang itu hanya asal lempar.

“Wae?”


Aku tersadar ketika noona mengibaskan tangannya di wajahku. Segera ku masukkan lagi makanan ke dalam mulutnya. Dia hanya mengoceh tak jelas dengan mulutnya yang penuh. Yeppo.

***

Author POV

Sudah seminggu ini Minwoo melewati jalanan yang sama. Dan seminggu itu pula ia terlempar kertas diary entah milik siapa. Beberapa kali ia mengendap mencari tahu siapa yang melakukan hal ini padanya. Tapi tak pernah ia temukan.

Dear Diary..
Ia masih saja menyukainya..
Padahal aku sudah seagresif mungkin..
Berharap kalau dia akan berubah memandangku..
Belajar sekeras mungkin agar ia melihatku..
Tapi...


Kertas ke-delapan yang Minwoo temukan. Siapa yeoja ini sebenarnya? Siapa namja dan yeoja dalam kisahnya? Sebegitu berartikah namja itu? Apa yeoja itu istimewa? Pikiran-pikiran Minwoo dipenuhi dengan pertanyaan seperti itu tiap kali membacanya.

Minwoo POV

Dear Diary...
Apa benar mereka sepasang kekasih??
Tapi yeoja itu bilang bukan..
Mereka hanya sahabat.. Tak lebih..
Tapi kenapa ia selalu bilang kalau yeoja itu kekasihnya??
Mematahkan harapanku kah??
Wae Diary?? Wae??


Kertas ke-sepuluh yang ku temukan. Yeoja ini. Kenapa buat aku meledak-ledak?! Ikut merasakan kepedihan yang ia alami. Apa ia bermaksud melakukan ini? Berharap orang lain bersimpati padanya. Merasakan sakitnya. Atau ia ingin melupakan kenangannya dengan menulis kisahnya dalam kertas lalu membuangnya?

Argh!!!

Ini sungguh menyebalkan? Kenapa ia tidak cerita saja pada teman-temannya? Atau ia cerita padaku saja seperti Rara noona yang sering sekali curhat tentang Donghyun hyung. Sedikit membuatku cemburu memang. Karena Rara noona lebih membanggakan hyung tua itu dibandingkan aku. Tapi setidaknya dia tak membuat aku penasaran seperti ini. Lagipula, kenapa dia membuangnya tepat diatas kepalaku. Seakan ia sengaja menjatuhkannya agar aku membacanya.

Huh...

“Waeyo Minwoo-ah?”


Aku terkejut mendengar suara Rara noona di telingaku. Aku membalikan tubuhku mencari keberadaan Rara noona. Ternyata ia tengah duduk bersila sambil membaca komik milikku di tempat tidur.

“Wae?”


Aku balik bertanya setelah berada di sampingnya. Menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Kau akhir-akhir ini selalu murung. Lebih banyak di kamar dan membaca kertas lusuh itu. Kau merindukan ahjumma atau sedang ada masalah?”


Rara noona meletakkan komik yang kurasa pura-pura ia baca tadi. Memandang kosong benda di hadapannya. Aku sedikit mendongkak untuk melihat raut wajahnya yang kurasa selusuh kertas yang ku baca. Sepupuku yang pabo ini adalah noona yang perhatian. Meski kadang aku kesal kalau dia sudah berlebihan, tapi aku tahu kalau dia sangat menyayangiku.

“Aku hanya merindukan eomma, noona,”


“Jeongmal?”


Melirik ke arahku tak percaya. Ah, aku selalu berharap sifat pabonya itu datang disaat seperti ini. Dengan begitu ia takkan bertanya apapun dan hanya percaya semua perkataanku.

Menganggukan kepalaku pelan. Sebenarnya aku tahu kalau noona sedikit tak percaya. Tapi dari tatapannya, aku rasa ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh mengenai keadaanku. Noona terlalu tahu tentang sifatku yang tak suka diikutcampuri.

“Noona! Ayo buat makan malam. Aku lapar,”


Ku tarik ujung baju yang ia pakai. Sedikit merengek agar noona segera bangkit dan aku benar-benar bisa menghindarinya. No Minwoo, kau benar-benar pintar!

Author POV

Hari kesekian sejak lembaran demi lembaran berjatuhan di ujung kepalanya. Kali ini Minwoo memiliki strategi baru. Ia akan mengunjungi kelas noonanya itu sebelum kertas diary itu meluncur kepalanya. Menunggu hingga penghuni kelas tak ada lagi. Iya yakin kali ini rencananya berhasil karena noonanya ada jadwal di club photography-nya. Jadi Minwoo tak perlu mengikuti noonanya pulang seperti sebelumnya.

Saat bel sekolah berdering, Minwoo langsung melancarkan misinya. Ia langsung keluar kelas bahkan sebelum guru memberi salam. Tak peduli dengan teriakan guru dan teman-teman. Berlari secepat kilat menuju ruangan itu.

“Saengie-ah, apa yang kau lakukan disini?”


Rara menatap heran pada Minwoo yang tak biasanya sudah berada di kelasnya. Biasanya ia selalu terlambar dan harus Rara yang menunggu di parkiran.

“Aku ada urusan noona. Noona pergilah. Nanti terlambat ke club!”


Seruku sambil berjalan pelan melewati kelasnya. Ia masih menatapku aneh lalu tersenyum.

“Baiklah. Tapi nanti pulangnya hati-hati, ne?!”


Rara memberi pesan. Minwoo mengangguk dan melambaikan tangannya. Menatap tubuh Rara yang kian jauh dan menyatu dengan gerombolan siswa dari kelas lainnya.

Minwoo POV

Akhirnya aku dapat melancarkan misiku. Aku akan menunggu disini sampai orang terakhir lewat. Sesekali aku melirik kelas noona. Ada tiga orang disana. Donghyun Hyung, dan dua yeoja. Donghyun hyung sedang asyik dengan bukunya. Sedangkan dua yeoja lainnya tengah menulis di buku. Salah satu dari mereka pasti orangnya.

Author POV

Donghyun nampak merapikan bukunya. Seorang yeoja yang duduk tak jauh darinya menghentikan kegiatan menulisnya. Ia menoleh ke arah Donghyun. “Apa dia menyukai hyung?!” Pikir Minwoo. Mungkin saja, bukan? Dengan kepopuleran Donghyun, semua yeoja pasti mengincarnya. Juga karena prestasinya yang luar biasa. Tak lama yeoja yang satunya ikut merapikan buku-bukunya dan segera keluar dari kelas.

“Oppa!”


Yeoja itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Donghyun yang masih berkutat dengan I-pod-nya. Merasa di acuhkan, yeoja itu menarik earphone yang menggantung ditelinga Donghyun.

“Ya!”


Donghyun hyung memakai kembali earphone-nya. Melangkah menjauhi yeoja itu. Benar-benar Donghyun yang Minwoo dengar dari sebagian teman yeoja-nya. Dingin.

“Oppa, mau sampai kapan?”


Teriakan yeoja itu membuat Donghyun hyung berhenti. Berbalik menatap tajam yeoja di entah kapan sudah berada di hadapannya. Tersenyum miris melihat yeoja itu mulai berkaca.

“Kau yang mau sampai kapan?”


Donghyun balik bertanya. Wajahnya berubah jengkel melihat yeoja itu malah menangis. Hendak membalikan badannya jika saja tubuh yeoja itu tidak merosot ke bawah.

“Taehee-ah. Sudah ku bilang kan kalau aku menyukai yeoja lain?”


Donghyun berucap lirih seraya meraih lengan yeoja yang ia sebut, Taehee itu. Membantunya duduk di kursi di dekatnya. Menghapus jejak air mata dari pipi milik yeoja itu. Hal yang Minwoo rasa baru ia temukan dari cerita noona-nya. Jika Donghyun memang namja yang baik. Tidak seperti yang teman-temannya katakan.

“Tapi dia tak menyukaimu oppa,”


Ucapan Taehee membuat Donghyun diam. Ia memang sudah tahu tentang hal itu. Yeoja-nya tak pernah menyukainya. Hanya menyukai segala prestasinya. Hanya fans-nya. Tak ingin lebih dari itu. Bahkan ketika Donghyun menyatakan cinta untuk yang ke-3 kalinya. Yeoja itu tetap menolak dan bilang kau ia hanya satu dari sekian banyak pemuja namja tampan itu.

Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tempatnya duduk. Sedikit mengingat tentang yeoja-nya yang menolak berulang kali pernyataan cintanya. Apa Taehee merasakan hal yang sama? Tapi ia tak ingin membuat yeoja disampingnya semakin berharap.

Menggeser arah duduknya menjadi berhadapan dengan Taehee. Menatap lekat yeoja itu. Kembali tersenyum miris. Entah untuk yeoja itu atau dirinya sendiri. Menarik nafasnya panjang. Dan..

“Taehee-ah,”


“...”


“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”


“...”


“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”


“...”


“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”


“...”


“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”


“...”

“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”


“...”


Donghyun meninggalkan ruangan itu. Tak lama terdengar isakan dari ruangan yang menjadi saksi bisu seberapa besar sakit hati yang Taehee rasakan sekarang dan sebelumnya.

Taehee POV

“Taehee-ah,”


Aku hanya bisa diam ketika ia menyebut namaku.

“Aku tak pernah melarangmu untuk mencintaiku,”


Kau tak pernah melarangku oppa. Tapi sikapmu selama ini menunjukkan kalau aku memang harus berhenti. Aku tak bisa oppa. Sakit sekali disini.

“Hanya saja aku tak bisa membalasnya saat ini,”


Lalu kapan? Aku akan siap menunggu oppa. Selama kau disampingku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku akan setia menunggu sampai kau bisa melihatku. Hanya melihat ke arahku.

“Aku tak mau memintamu menungguku lalu menghancurkan harapanmu,”


Wae oppa? Aku akan baik-baik saja selama kau bilang kalau kau hanya akan melihat ke arahku akhirnya. Sampai kapanpun itu. Oppa, aku benar-benar menyukaimu.

“Jadi lebih baik kau melupakanku sekarang. Itu akan lebih baik untukmu,”


Tidak oppa! Kau salah! Kau salah besar! Aku tidak lebih baik. Aku semakin tersiksa dengan ini. Kau pikir aku tak berusaha untuk melupakanmu? Aku sangat berusaha! Bahkan sebelum menyatakan cintaku aku beusaha terlebih dahulu melupakanmu karena ku kira kau dan dia sepasang kekasih.

“Aku pergi, ne?! Kau harus hati-hati ketika pulang nanti”


Kembali baik padaku. Bagaimana bisa aku melupakanmu oppa? Kau tak pernah baik pada orang lain sebelumnya. Yah, kecuali dia. Choi Rara. Teman sebangkumu itu. Yeoja yang merebutmu dariku. Yeoja bodoh yang terus saja berada disekitarmu. Yeoja bodoh yang sudah menolakmu tiga kali. Dan kau tertular kebodohannya dengan terus mencintainya.
Aku membuka buku diary-ku lagi. Ini adalah kebiasaan baruku. Menulis semua kisahku disini. Lalu membuangnya entah kemana agar rasaku ikut terbang bersama kertas-kertas itu.

Dear Diary..
Kembali menolakku.. Demi yeoja yang tak mencintainya?!
Ck.. Aku yeoja malang, bukan??
Sudah berapa kali aku menyatakan cinta padanya??
Sudah berapa kali dia bilang untuk berhenti mengharapkannya??
Tapi itu sulit untukku!
Apa dia tahu rasanya??
Sangat sakit disini..
Benar-benar berharap jika ia akan mencintaiku suatu hari nanti..


Minwoo POV

Benar-benar menyedihkan yeoja itu. Namja inikah yang ia sukai? Aku harus beritahu noona untuk berhenti menyukainya. Donghyun hyung sudah menyukai orang lain. Noona pasti sedih mendengar ini. Tapi ini semua lebih baik dari pada berakhir seperti yeoja itu.

Selesai menulis yeoja itu merobek kertasnya. Meremasnya kuat. Seolah ia sedang melampiaskan kekesalannya disana. Berdiri. Memakai tas selempangnya dan berjalan keluar. Aku rasa ia akan melempar kertas ini. Kulirik jam tangan pemberian Rara noona yang melingkar di lenganku. Jam pulangku. Tepat sekali.

“Mau melemparkannya lagi?”


Tanyaku ketika ia keluar dari kelasnya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Sedikit terkejut dengan keberadaanku, tentu saja.

“Nugu?”


Ia memiringkan kepalanya. Mencoba mengenaliku, mungkin.

“Aku korban lempanan kertasmu itu, sunbae!”


“Ye?”


“Jika aku berada di bawah saat ini, kau melemparkan kertas padaku untuk yang ke-22 kalinya,”


Aku berjalan mendekatinya. Mengambil kertas digenggamannya. Membacanya sekilas. Tak jauh beda dengan sebelumnya. Masih mengisahkan namja itu. Ck. Benar-benar malang.

Kembali memandangnya. Ia menangis lagi. Ah, yeoja ini sungguh menyedihkan. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya. Mengusap punggungnya pelan.

“Uljima. Masih ada namja yang lebih baik darinya,”


Ucapku menenangkannya. Yah, meski jika kupikir lagi itu akan sia-sia. Dia tak mungkin mendengar kata-kata orang yang tak ia kenal, eoh?! Menghapus airmata dipipinya.

“Jika kau butuh teman bicara, kau bisa menemuiku dan menceritakan semuanya padaku,”


Entah kenapa aku mengucapkan kata-kata itu. Menggenggam tangannya dan mengantarnya pulang. Ia juga tak menolak dan ikut bersamaku. Ada perasaan ingin melindunginya saat ini. Apa karena dia sama rapuhnya dengan noona?!

END

-Side Story-

“Noona, apa kau benar-benar menyukai Donghyun hyung?”


Tanya Minwoo setibanya Rara di rumah. Rara yang baru datang hanya menatap bingung Minwoo yang tiba-tiba saja menanyakan perasaannya.

“Of course! Aku fans no. 1-nya!!”


Seru Rara bangga, setelah lama berpikir.

“Andwee!!! Pokoknya kau tak boleh berdekatan dengan namja itu! Atau persaudaraan kita putus sampai disini!”


“Nde?”


Dan Rara hanya terbengong-bengong dengan sikap sepupunya yang aneh luar biasa.

“Eh?! Apa dia mengidap sister compleks?!”


Tanya Rara dalam hati. Lalu kembali ke kamarnya karena Minwoo juga sudah tak ada di tempatnya semula.

-End Of Side Story-

Boyfriend Fan Fiction - Can't Say The Truth

Title : Can’t Say The Truth

Author : =DoRha=

Genre : Semi yaoi, maybe?! Ga tau ah #plakk

Lenght : One Shoot

Cast : - Kim Donghyun

- No Minwoo

- Kim Taehee

Note :: Ini ff gaje pokonya.. Judul ama cerita ga nyambung..hoho

Happy Reading !!!

All Author POV

Donghyun merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kalung dari dalam sana. Di perhatikannya kalung berliontin ‘M’ lalu berpaling pada Minwoo yang tengah melukis di dekat danau. Dimasukan kembali kalung tersebut ke saku celananya, mendekati Minwoo yang sama sekali tak menyadari kehadirannya dan terus berkutat dengan kuas, cat dan kanvas.
Donghyun duduk di samping Minwoo lalu menyandarkan kepalanya di bahu Minwoo. Minwoo menoleh sebentar dan melanjutkan lagi aktivitasnya, melukis.

“Sibuk, eoh?” suara Donghyun terdengar lirih.

“Wae?”

Menengok lagi, mencoba memperhatikan teman sejak kecilnya itu dengan seksama.

Donghyun mengangkat kepalanya, menatap Minwoo sendu. Seolah ia akan berpisah jauh dengan sahabat yang bahkan seharipun tak pernah tak ia temui dalam hidupnya.

“Tumben ga bareng Taehee”

Menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Mengangkat kembali wajah itu untuk kedua kalinya dan memandang Minwoo semakin sendu.

“Noona lagi di jalan hyung. Mungkin sampai sebentar lagi,”

Kembali berkutat dengan kuasnya.

“Kau suka dia, eum?”

Masih menatap wajah sahabatnya yang tak lagi memandangnya utuh. Hanya sesekali melirik karena merasa diperhatikan.

“Wae? Afraid if I leave you, eum?”

Tertawa kecil karena mimik wajah sahabat sekaligus hyung-nya yang menurutnya menggemaskan. Tidak tahu kalau hyung-nya itu sedang menyimpan rahasia yang mungkin takkan pernah ia ungkap.

“No. More afraid if u’re tricked by her.”

Mencoba tersenyum lebar namun hambar. Terlihat jelas kalau dia memang takut kehilangan sosok dihadapannya itu.

“Don’t look at me like that!”

Menunjuk-nunjuk kuasnya ke wajah sendu milik Donghyun. Tertawa lebar seperti senang melihat sosok dihadapannya terkena tinta dengan tidak sengaja.

“Ya! What are you doing, eoh?”

Pinch Minwoo’s cheek softly. Tak ingin melukai dongsaeng kesayangannya. Dongsaeng?! Mungkin.

“Aww. You hurt me, hyung!”

Pura-pura meringis dan mengelus pipinya.

“Really? Aku bahkan tak menggunakan tenaga saengie-ah”

Terkekeh pelan saat mengucapkan kata ‘saengie‘.

“Annyeong!”

Tiba-tiba datang dan menyapa kedua sejoli yang tengah bersenda gurau. Wajahnya nampak riang sedikit berbeda dari biasanya.

Memandang dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sinis. Merasa yeoja ini sebentar lagi akan menghancurkan hatinya.

“Annyeong!”

Membalas sapaannya dengan enggan. Namun dibalas dengan senyum menawan yang bahkan setiap hari ia temukan. Sungguh bosan. Berkata dalam hati,

“Tak pernahkah kau tak tersenyum, eoh?”

“Mana hadiahnya?”

Bangkit dari duduknya lalu menadahkan kedua tangannya pada yeoja itu. Diikuti Donghyun yang merasa aneh juga jika tetap duduk.

“Kau kira aku lupa, eum?”

Membuka tas yang sejak tadi digendongnya di belakang. Mengeluarkan sebuah bingkisan yang masih berbalut kertas kado. Memberikan satu pada naja-nya dan satu lagi pada sahabat namja-nya.

“Aku pulang duluan, ya! Have fun!”

Berlalu meninggalkan kedua temannya yang tampak termangu melihat aksinya yang tidak biasa.

“Wae?”

Beralih menatap Minwoo, menanyakan keadaan Donghyun yang janggal, menurutnya.

“Molla,”

Menaik-turunkan bahunya, benar-benar tak tahu.

***

Donghyun masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Di raihnya bantal yang digunakannya untuk menutup wajahnya. “Aaaaaaaa” Teriakannya tertahan oleh bantal. Ia balikkan tubuhnya, masih menutup kepalanya dengan bantal.

Merasakan sesuatu yang sedikit tajam di sakunya. Dirogohnya saku itu dan mendapati kalung berliontin ‘M’ yang tadi ingin ia berikan pada sang sahabat. Beranjak dari tidurnya dan menyandar pada sofa. Menekuk sebelah kakinya lalu menahan tangannya yang menggenggam kalung itu. Di amatinya kalung emas putih yang dibelinya kemarin di salah satu toko mas.

“What am I different?”

Menutup matanya. Mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya dimasa lalu sehingga ia seperti ini.

***

Minwoo merapikan alat lukisnya dibantu oleh Taehee yang sebenarnya tak melakukan apa-apa. Wajah Taehee sendu kala menatap namja di sampingnya yang juga tak ada semangat. Ditahannya kanvas yang hendak Minwoo masukkan ke dalam tas.

“Lepas noona!”

Titahnya pada sosok dihadapannya dengan mata menatap tajam. Seolah yeoja itu akan langsung mati ketika bertatapan langsung dengan matanya.

“You like him, oeh?”

Menantang tatapan itu dengan tatapan hangat khas Taehee. Minwoo mengalihkan pandang, kalah dengan kehangatan yang dipancarkan Taehee lewat matanya. Melepas kanvas yang tadi sempat mereka ributkan.

“Don’t be liar, Minwoo-ah! You like him, eum?”

Mencoba menelisik pada bola mata namja dihadapannya. Ia yakin kalau namja ini mencintai Donghyun, hyung-nya.

“Please, Minwoo! Just tell me and enough.”

Membawa tubuh Minwoo kembali kehadapannya.

“Ini salah, noona. Tak ada pembenaran atas hal ini dibawah naungan cinta sekalipun,”

Kini ia melontarkan kata-kata yang bahkan Taehee sendiri tak pernah menyangkanya. Matanya berkaca-kaca. Ia jelas sedih dengan hal ini. Kenyataan kalau orang yang ia cintai bukanlah yeoja dihadapannya, tapi namja yang tadi meninggalkan mereka tanpa alasan yang jelas.

Taehee merengkuh Minwoo dalam pelukannya. Tahu kalau namja itu bukan sekedar butuh cintanya, juga kenyamanan dari orang lain. Dielusnya punggung Minwoo, menenangkan namja berumur 17 tahun itu.

 “It’s ok Minwoo-ah. You can forget him, slowly.”

Masih memeluk namja yang dicintainya itu dengan kasih.

Melepas dekapan Taehee yang ia rasa sudah cukup lama.

“Noona tak jijik padaku, eum?”

Mencoba mencari setitik kebohongan dibalik manik coklat milik Taehee.

“That’s not your fault Minwoo. Dan kamu masih bisa berubah.”

Meyakinkan Minwoo kalau ini bukan murni kesalahannya. Sekali lagi, lewat tatapan hangat yang selalu bisa meluluhkan Minwoo.

“Kenapa aku tidak jatuh cinta padamu saja?”

Kembali menghadap ke depan lalu mendongkakkan ke atas. Menatap langit dan menerawang, mencari alasan kenapa orang yang dicintainya bukan Kim Taehee, tapi Kim Donghyun.

“Kalau begitu kau harus belajar mencintaiku.”

***

Disis lain, Donghyun tengah menatap foto ia dan sahabatnya, Minwoo, terpampang manis di layar laptopnya.

“Kenapa harus kamu? Ini ga benar Minwoo. Kita sama. Apapun yang aku lakukan sejatinya kita sama.”

Berkata lirih, serasa hilang tenaga. Menyandarkan punggungnya pada dinding.

Tak lama, Donghyun mematikan laptopnya. Menaruhnya di meja belajar. Merapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Mungkin butuh liburan.”

Tersenyum kecil dan segera membuka pintu kamarnya.

***

Taehee berjalan bersama Minwoo ke rumahnya yang tak jauh dari taman. Berjalan berdua layaknya kekasih yang saling mencintai. Bergelayut mesra di lengan kiri Minwoo.

Sekelibat bayangan kenangan Minwoo bersama Donghyun muncul.

- Flashback -

Minwoo mengejar Donghyun yang berlari setelah merebut ice cream coklatnya. Mereka berkejaran dan saling meledek. Donghyun menjulurkan lidahnya pada Minwoo yang sudah menunjukkan wajah lelah.

“Hyung! Berhenti berlari. Aku sudah lelah,” teriak Minwoo seraya mengusap peluh di dahinya.

“Shireo! Jika kau mau ice cream ini, kejar aku!” Donghyun memeletkan lidahnya. Kekanakan. Padahal usianya jauh diatas dongsaengnya itu.

- Flashback End -

***

Donghyun berjalan menjauh dari rumahnya. Ia benar-benar memutuskan untuk pergi sementara waktu. Ditatapnya rumah Minwoo yang berada tepat di depan rumahnya.

“Minwoo-ah, mianhe. Tapi jujur, nan jeongmal saranghae,”

Menatap sendu rumah itu seakan yang ditatap adalah pemiliknya. Lalu kembali berjalan.

***

- Flashback -  #again???

 “Hyung, aku sayang padamu,”

Bergelayut manja pada sahabat sejak kecilnya. Hyung tersayangnya. Selalu saja manja. Padahal sudah mengenakan seragam SMA.

“Hmm”

Hanya berdehem menanggapi perkataan Minwoo.

Mereka berdua berjalan beriringan seraya bercanda dan tertawa.

- Flashback End -

***

Taehee masih mengapit lengan Minwoo. Minwoo hanya tersenyum melihat tingkah noona-nya yang manja. Tumben sekali. Tapi ia mengerti jika yeoja itu juga ingin memiliki pacar yang normal. Dan ia juga harus melupakan perasaannya. Mengembalikan fokusnya pada jalanan dihadapannya. Ia pasti bisa. Ia tidak sendirian.

Terkejut. Mereka berdua terkejut ketika melihat Donghyun berada tak jauh dari mereka dengan membawa tas yang cukup besar.

Taehee melepas apitannya pada lengan Minwoo ketika Minwoo berlari mendekati Donghyun yang belum menyadari kedatangannya.

 “Hyung, mau kemana?” langsung bertanya begitu sampai di hadapan Donghyun.

Donghyun mendongkakkan kepalanya. Menyadari ada sosok lain dihadapannya.

“Liburan,” jawabnya enteng. Serasa tak membawa beban apa-apa.

“Kok ga bilang? Liburan kemana?” setengah berteriak ketika mendapati lawan bicaranya menganggap mudah dirinya.

“Emang belum bilang? Lupa kalo gitu. Hehe,“ terkekeh pelan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menunjukkan wajah tanpa dosanya, ciri khas Donghyun.

Memandang wajah sahabatnya yang mungkin akan cukup lama tidak dijumpainya. Merogoh saku jeans yang ia kenakan. Meraih kalung berinisial ‘M’ yang rencaranya akan ia berikan nanti, dihari ulang tahun Minwoo, entah yang ke-berapa.

“Ini kado ulang tahun dari hyung. Mian kecepetan. Soalnya mau backpacker-an selama liburan ini. Takut ga bisa dateng di birthday party kamu. Hehe,” Lagi-lagi, terkekeh dan menunjukkan wajah tanpa dosanya

Memeluk tubuh sang hyung.

“Hyung, saranghaeyo,”

Melepas peluknya.

“Harus hati-hati. Jangan lupa kabarin aku, hyung. Telpon sms ga boleh putus. Jangan keasyikan terus lupa makan. Oh iya, jangan percaya ama orang baru. Tampang baik ga menjanjikan hatinya juga baik. Cari hotel yang bagus, bintang 5 kalo...”

Menghentikan aksi bicaranya ketika Donghyun menutup kedua telinganya dengan tangan.

“Ya! Kim Donghyun hyung! Dengarkan aku!”

Menggoyangkan kedua lengan Donghyun agar lepas dari telinganya.

“Aku ini mau backpacker-an bukan liburan ala  pangeran kerajaan,”

Berkata setelah melepas genggaman tangannya pada telinga.

“Tenang aja, chagi-ya. Donghyun oppa pasti bisa jaga diri dengan baik,”

Tersenyum ke arah sang kekasih, Minwoo.

“Iya kan, oppa?”

Mencari pembenaran pada sang petualang tentang opininya tadi.

“Pasti,”

Mengacungkan jempolnya ke arah Taehee.

“Udah ya, hyung berangkat. Sampai ketemu!”

Berjalan meninggalkan Minwoo dan Minwoo.

***

“Mungkin ini saatnya untuk mulai mencintai Taehee noona. Aku takkan biarkan hyung tahu perasaanku dan membuatmu merasa bersalah. Entah apa yang membuatku mencintaimu. Tapi aku harus menghapusnya dan membiarkan dirimu tetap sebagai hyung terbaikku. Karena menjadi dongsaeng-mu adalah hal terbaik yang kurasakan seumur hidupku,”

Berjalan berdua bersama Taehee yang kembali mengapit lengannya. Menyunggingkan senyuman bahagia karena akan memulai kehidupan baru.

“Biarkan aku pergi sementara ini. Ini semua demi kamu. Agar aku tak mencintaimu lebih jauh. Hanya akan mencintaimu sebagai dongsaeng. Menjadikanku namja normal dan membuatmu lekat terus dengan yeojachingu-mu itu. Karena aku ingin kau terus jadi hyung-mu. Menjagamu sebisaku,”

Menengok ke belakang. Tersenyum pada Minwoo dan Taehee yang tengah jalan mesra. Kembali melanjutkan perjalanan.

“Selamat Tinggal, Cinta Pertamaku, No Minwoo,”

“Maaf karena aku memisahkan cinta kalian. Aku bahkan tahu kalau kalian saling mencintai. Tapi kalian sama bukan? Mianhe oppa, karena aku merasa lebih berhak atas Minwoo, kini bukan karena aku yeoja dan dia namja. Tapi karena aku mencintainya. Dan memang seharusnya seperti ini. Karena cepat atau lambat kalian akan sadar sendiri. Lagipula aku tak ingin oppa-ku menjadi namja abnormal yang mencintai sesama jenis. Yah, oppa-ku yang takkan pernah mengenaliku lagi meski kami memiliki marga yang sama, Kim Donghyun,”

Menengok ke belakang. Memandang Donghyun yang sudah berjalan jauh darinya.

END

Boyfriend Fan Fiction - We're Twins


Title : We’re Twins

Author : =DoRha=

Genre : Ga tau #plakk #author gagal

Lenght : One Shoot

Cast : Jo Young Min

Jo Kwang Min

No Min Woo

Dan yang malas saya sebutkan satu-satu #plakk

Note : Abal! Bagi yang ga mau baca mending baca sampe akhir dan bash saya! #author gila

Happy Reading ^^

Author POV

“Hyung mau pergi?”


Bocah kecil berambut hitam legam bertanya pada sosok yang serupa dengannya. Ia menarik ujung kemeja yang dipakai sosok yang ia sebut hyung tersebut, menagih jawaban. Sedikit berkaca karena tak menginginkan hal itu terjadi.

“Mianhe saengie-ah. Tapi hyung pasti akan menjemputmu. Hanya tunggu sebentar disini, ne?!”


Mengangguk pelan. Percaya dengan perkataan hyung-nya itu. Melepaskan pengangannya pada ujung kemeja yang dipakai hyung-nya. Mendongkakkan kepala melihat wajah hyung-nya yang sudah basah oleh airmata. Mengusap tangis itu dengan jemari yang sama kecilnya. Kemudian memeluknya erat.

“Kau tidak boleh pergi terlalu lama, hyung!”


Melepas pelukan itu. Berbalik, tak ingin melihat kepergian keluarga satu-satunya itu.

“Ini untukmu,”


Kembali membalikan badan ketika mendengar suara hyung-nya. Menatap sebuah benda mungil yang disodorkan. Gantungan Winnie The Pooh kesayangan hyung-nya. Lagi-lagi, mendongkakkan kepalanya. Melihat wajah hyung-nya. Merogoh saku celananya. Menyodorkan sebuah gantungan berbentuk kepala Pikachu. Hal yang paling berharga, setelah hyung-nya, tentu saja.

“Kita tukar saja,”


Meraih gantungan Winnie The Pooh itu dan memberikan gantungan Pikachu miliknya. Berlari kedalam gedung bertuliskan, Panti Asuhan. Menghapus airmata-nya kasar. Ia percaya, hyung-nya pasti kembali.

***

10 years later.

Seorang namja berambut hitam legam berlari ke sekolahnya. Ia bangun kesiangan pagi ini. Tak peduli harus beberapa kali menabrak orang yang sama terburunya. Hingga akhirnya ia sampai di sekolahnya.

Sekolah sudah ramai karena jam masuk hanya tinggal 10 menit lagi. Banyak anak yang berlari seperti Kwangmin, namja berambut hitam yang sedang berlari saat ini. Ia masuk ke kelasnya dengan terengah. Mendudukan tubuhnya di kursi tempat biasanya ia duduk. Mengatur kembali nafasnya.

“Minnie Winnie!!!”


Teriak seorang namja dari depan pintu kelasnya. Ia lalu berlari menghampiri teman sebangku sekaligus sahabatnya itu. Mendudukan tubuhnya lalu mengguncang bahu sahabatnya yang masih lelah karena berlari tadi.

“Ya! Berhenti memanggilku Minnie Winnie! Nama apa itu?! Dan ada apa?! Kenapa kau seperti orang kesetanan seperti ini?”


Ucap Kwangmin sedikit berteriak karena namja dihadapannya tidak juga menghentikan aktivitasnya.

“Winnie! Aku melihat murid baru yang pindah ke kelas sebelah. Dia tampan sekali!”

Jawab namja di hadapannya itu antusias.

“Minwoo-ah! Kau itu namja! Kenapa ada namja tampan kau kegirangan seperti para yeoja. Apa jangan-jangan kau...”

Teriak Kwangmin, kaget dengan pikirannya sendiri. Ia menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Pletak!

Jitakan Minwoo mendarat mulus di puncak kepala Kwangmin.

”Pabo! Maksudku, kalau dia tampan, dia akan kujadikan temanku dan popularitasku tentu saja akan semakin menanjak! Haha,”


Jelas Minwoo pada sahabatnya yang kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedikit frustasi dengan sikap sahabatnya yang tak juga berubah. Juga heran kenapa banyak yeoja di sekolah ini yang mengidolakannya.

***

Minwoo menarik Kwangmin keluar dari kelas mereka menuju kantin. Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi karena jurus puppy eyes Minwoo tidak lagi mempan untuk Kwangmin, terpaksalah ia menyeret sahabatnya itu.

Author POV End

Kwangmin POV

Aigoo.. Bocah ini. Ke kantin saja harus ditemani. Bagaimana jika ia pergi ke Indonesia nanti. Bisa-bisa ia menculikku agar bisa menemaninya kesana. XD

Seperti biasa, kantin ramai sekali. Tapi ada yang berbeda kali ini. Semua yeoja mengerubungi sebuah meja. Entah ada apa di dalamnya. Yang pasti aku tidak peduli.

Ku lihat Minwoo tengah menyusup kedalam lautan yeoja itu. Mungkin ia ingin melihat siapa yang mulai mengalahkan popularitasnya di sekolah dalam sehari. Haha. Poor you, Minnie!

“Winnie! Kau tahu, murid baru itu sudah membuatku kehilangan para penggemarku dalam hitungan jam. Aku tidak jadi mengajaknya berteman,”


Cerita Minwoo seraya memakan memakan makanannya. Aku hanya tersenyum tipis. Ini sudah biasa terjadi. Kemarin saat Jeongmin sunbae memberikan piala olimpiade untuk sekolah dan mendapat banyak penggemar, Minwoo marah-marah tak karuan. Mungkin dia takkan masuk hingga hari ini jika aku tidak membujuknya. Sebelumnya juga saat Hyunseong sunbae memenangkan lomba menyanyi, dia merasa sedih sekali. Padahalkan yang menang perlombaan itu hyung-nya sendiri.
=.=’

“Minnie Winnie! Kenapa kau diam saja?”


Minwoo mempoutkan bibirnya. Lucu sekali anak ini. Kadang ia sangat kekanakan. Ah, bukan kadang. Ia memang sangat kekanakan. Tapi dia juga baik hati dan suka menolong. Buktinya aku bisa ada disini. Kalau bukan karena dia yang meminta orang tuanya yang super duper kaya itu membiayai semua dana pendidikanku, mungkin aku sudah menjadi gelandangan sekarang.

“Aniya. Kau benar-benar seperti seorang yeoja ketika bersikap seperti ini,”


Jawabku akhirnya. Sedikit terkekeh dengan pernyataanku sendiri.

“Ya, berhenti memanggilku yeoja. Aku namja 100 % tahu?!”


Serunya lalu meninggalkanku yang masih tertawa karena sikapnya.

“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”

Teriakku seraya mengejarnya.

Kwangmin POV End

Author POV

“Ya! Kau juga! Berhenti memanggilku Minnie Winnie, Minnie-ah!”


 Tak sengaja sosok berambut blonde mendengar teriakan itu. Ia menoleh ke sumber suara. Melihat seseorang itu berlari. Sedikit penasaran, ia mengikuti kemana arah namja itu berlari. Berhenti di depan sebuah kelas yang hanya berpaut beberapa meter dari kelasnya.

Mengintip ke dalam kelas itu. Menemukan sosok yang ia kejar tadi sedang menggoda teman sebangkunya. Membulatkan mata lebar keltika melihat wajah sang pemilik suara.

“Kwangmin...”


Lirihnya.

Author POV End

Youngmin POV

“Kwangmin...”


Kulihat sosok namja dengan wajah serupa denganku. Aku yakin itu pasti Kwangmin. Ia masih sama seperti dulu. Rambut hitamnya. Senyumannya. Dan... Gantungan Winnie The Pooh itu. Tak ku sangka kau masih menggunakannya, Kwangie-ah. Kau bahkan menggantungkannya di dompetmu.

“Kwangie-ah, bogoshipo,”


Youngmin POV End

Author POV

Kwangmin berjalan pulang ke rumahnya. Sebenarnya, tadi Minwoo mengajaknya pulang bersama, tapi ia menolaknya. Ia takut kalau sahabat karibnya itu tahu apa yang ia kerjakan setelah pulang sekolah. Bisa kena ceramah setiap pagi dirinya. Lebih parah dari itu, Minwoo pasti kembali membantunmya. Sungguh, ia merasa senang dengan perhatian Minwoo, meski kadang berlebihan. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk kembali mendapat bantuan dari sahabatnya itu.
Tanpa ia sadari, seseorang mengikutinya dari belakang. Ia berjalan mengendap-endap dengan sesekali bersembunyi dimanapun yang bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan Kwangmin.

Kwangmin masuk ke sebuah cafe. Menyapa salah satu pelayan disana dan pergi ke belakang cafe tersebut. Mengganti bajunya di ruangan ganti dan kembali dengan pakaian sama seperti pelayan yang ia sapa saat masuk tadi. Berjalan menuju counter dan memulai pekerjaannya. Yah, Kwangmin bekerja sebagai pembuat minuman di cafe itu.
Tak lama, seorang namja manis dengan rambut blondenya memasuki area cafe tersebut. Memesan secangkir cokelat panas lalu duduk ditempat yang menurutnya strategis untuk mengamati Kwangmin bekerja. Jo Youngmin. Namja berambut blonde itu, sedang menunggu moment yang tepat untuk bertemu Kwangmin. Kembarannya. Dongsaeng enam menitnya.

Mengingat masa lalu mereka yang terpisah karena ia harus mengikuti orang tua angkatnya. Berjanji pada dongsaeng kesayangannya kalau ia akan kembali secepatnya dan membawa namja tampan itu pergi. Tanpa tahu kalau pada hari itu juga ia harus pergi ke Amerika dan mendapati dirinya yang sedang merindukan Korea. Tidak. Ia merindukan dongsaeng tercintanya, Jo Kwangmin.

Menyeruput cokelat panasnya pelan seraya memperhatikan Kwangmin yang tengah sibuk dengan pelanggan-pelanggannya. Benar-benar ingin memeluk namja itu. Melirik gantungan berbentuk pikachu pemberian adiknya. Benda paling berharga yang ia punya.

***

“Apa kau merasa kalau murid baru itu mirip dengan sunbae kelas XI-A?”


“Tidak mungkin. Youngmin sunbae sangat tampan. Berbeda dengan sunbae yang kau sebut tadi,”


“Aku juga merasa kalau Kwangmin sunbae mirip sekali dengan youngmin sunbae. Seperti kembar,”


“Iya aku juga. Tapi marga mereka beda bukan? Marga youngmin sunbae itu Lee, sedang marga Kwangmin sunbae Kim,”


Youngmin mendengar pembicaraan seputar wajahnya yang mirip dengan Kwangmin. Ia tidak heran. Mereka memang kembar identik. Hanya saja rambutnya yang kini berwarna pirang dan tentu saja marganya yang berbeda menjadi perbedaan sendiri bagi orang lain. Apalagi ia dengar kalau Kwangmin tinggal sendirian karena orang tua nya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Dan adik satu-satunya yang dia miliki juga meninggal ketika Kwangmin sadar dari komanya.

Youngmin melewati kelasnya dan berjalan menuju kelas Kwangmin. Memunculkan dirinya langsung dihadapan namja tampan itu. Seketika kelas sunyi. Semua mata tertuju pada Youngmin  yang berada di depan kelas. Hanya tawa Kwangmin yang belum berhenti karena melihat ekspresi namja dihadapannya, No Minwoo.

Kwangmin berhenti tertawa dan mengikuti arah pandang minwoo. Sedikit terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. Mengerjapkan matanya, imut. Lalu mengucek matanya pelan. Tahu, kalau ia hanya akan bermimpi melihat lagi sosok yang sama dengannya. Hyung-nya.

“Kwangie-ah..”


Author POV End

Kwangmin POV

Aku tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Minwoo karena kalah main dari Hyun sunbae semalam. Ia masih merasa kesal pada hyungnya itu karena tak pernah mau mengalah padanya. Ah, ia imut sekali. Seperti anak perempuan XD
Kelas menjadi hening. Hanya tawa ku yang terdengar. Segera ku hentikan tawaku dan melihat Minwoo. Matanya tertuju pada depan kelas. Tumben sekali. Lalu kuarahkan mataku mengikuti arah pandang Minwoo.

Deg..

Deg..

Youngie hyung?!

Aku mengucek mataku pelan. Aku pasti hanya bermimpi. Itu tidak mungkin Youngie hyung.

“Kwangie-ah...”


Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangie-ah...”


Seruku. Ia mengerjapkan matanya. Apa ia melupakanku?

Bisa kita bicara sebentar?”


Tanyaku. Ia diam. Teman-teman yang lain juga diam memandangku dan Kwangmin bergantian.

“Bisakah?”


***

“Ada apa kau memintaku kemari?”


Tanya Kwangmin ketus. Ia sedang berdiri membelakangiku saat ini. Apa dia marah padaku? Mianhe, Kwangie.

“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”


“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”


Deg...

Kwangie-ah.. Apa yang kau katakan?

Youngmin POV End

Kwangmin POV

“Ada apa kau memintaku kemari?”


Tanyaku ketus. Aku sedang berdiri membelakanginya saat ini. Entah kenapa aku bersikap ketus seperti itu.

“Apa kau lupa padaku? Aku Youngmin, hyung-mu,”


Ah, kau masih ingat aku, hyung?! Lalu kemana saja kau selama ini?

“Hyung?! Aku tidak punya hyung,”


Deg...

Jo Kwangmin! Apa yang baru saja kau katakan?! Kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Marahkah? Molla.

Segera aku berjalan menjauhi Youngmin hyung. Apa yang dia pikirkan sekarang? Ia pasti marah padaku dan kembali meninggalkanku.

“Kwangmin!”


Tangan seseorang sudah meraih pundakku. Aku membalikkan tubuhku dan menemukan wajah Youngmin hyung basah oleh airmata. Hyung, mianhe.

“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”


Aku melemparkan gantungan kepala Winnie The Pooh itu pada youngmin hyung setelah melepaskannya dari dompetku. Entah apa yang aku lakukan aku sendiri tak mengerti. Ini refleks saja. Aku bahkan mengutuk kelakuanku barusan. Hyung, jeongmal mianhe.

Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangmin!”


Ku panggil ia ketika berhasil meraih bahunya. Aku benar-benar sedih dengan perkataan Kwangmin. Tak peduli Kwangmin menganggapku cengeng atau apa.

“Ah, kau ingin mengambil ini? Ambil saja!”

Deg..

Kwangie-ah.. Kau benar-benar marah padaku? Mianhe. Aku memang hyung pabo. Kau boleh membenciku Kwangmin. Kau berhak membenciku.

Youngmin POV End

***

Author POV

Kwangmin kembali ke kelas. Menyambar tasnya lalu pergi dari sekolah. Tak peduli teriakan Minwoo atau teman yang lain. Tak jauh berbeda dengannya, Youngmin kembali ke kelasnya. Mengambil tas dan langsung pulang. Ia ingin kembali saja ke Amerika jika seperti ini jadinya. Usahanya selama 10 tahun untuk memenangkan hati ayah angkatnya hanya sia-sia. Kepulangannya benar-benar percuma. Ia benci dirinya sendiri yang tak dapat melakukan apapun saat itu. Hanya berfikir kalau ia bersikap baik dan disukai, keluarga angkatnya itu dapat membawa Kwangmin pula bersamanya. Tak pernah berfikir sedikitpun kalau ia akan dibawa pergi jauh, bahkan melewati benua dan samudra.

Disisi lain perjalanannya. Kwangmin sedang mengutuk semua kelakuannya. Ia tak pernah berharap bisa melakukan hal seburuk itu didepan kakaknya. Selama ini ia percaya kalau hyung tersayangnya akan pulang dan kembali hidup bersamanya. Tetapi, ketika impiannya itu hampir terwujud, ia malah menggagalkannya. Bersikap tidak sopan pada namja berambut blonde tersebut.

***

“Minnie, kau sudah pulang?”


Tanya wanita paruh baya yang mengklaim dirinya adalah eomma dari namja manis di hadapannya, Jo Youngmin. Ani, Lee Youngmin. Bukankah marganya berganti ketika ia diangkat menjadi bagian keluarga itu?

“Ne, oemma,”


Jawabnya lirih. Berjalan melewati wanita yang ia panggil eomma tersebut. Tak peduli dengan tatapan heran eommanya karena ia pulang setelah satu jam yang lalu berangkat dari sekolah. Kenapa membolos itu ke rumah? Bukankah lebih asyik nongkrong di cafe atau jalan-jalan di mall?!

Mengikuti adeul kesayangannya itu dari belakang. Sedikit aneh dengan sikap Youngmin yang tidak seperti biasanya.

“Oppa, kau sudah pulang? Cepat sekali?”


Kini dongsaeng perempuannya yang ia abaikan.

“Eomma, oppa wae?”


“Molla,”


Kembali mengikuti Youngmin ke kamarnya ditambah dengan anak perempuannya yang juga turt penasaarn dnegan perubahan sikap oppanya.

***

“Kwangmin, kenapa membolos, eoh? Kalau kau perlu uang, kau hanya bicara padaku, tak perlu membolos hanya untuk bekerja,”


Cerewet Shim ajussi, pemilik cafe tempat Kwangmin bekerja. Kwangmin tidak mengindahkan perkataan tersebut. Ia langsung pergi ke ruang ganti dan memakai seragamnya. Shim ajussi hanya menggelengkan kepalanya. Pegawainya yang satu itu memang sulit diatur.

“Ajussi..”


“Ya! Jangan panggil aku ajussi. Aku ini masih muda tahu! Panggil aku hyung!”


“Ne, Changmin hyung!” #hoho pacar pertama admin eksis XD


“Wae? Baru ditolak yeoja, eum? Jadi kau malas sekolah,”


“Ajussi tua bangka! Kenapa dipikiranmu hanya yeoja, eoh?!”


Pletak.

Satu jitakan mendarat mulus di kepalanya. Shim Changmin, pemilik jitakan maut itu tersenyum evil.

“Ya, hyung, aku serius,”


“Arra. Kau mau bilang apa, eoh?”


Kini, ia mulai menunjukkan wajah seriusnya. Kwangmin menceritakan semua yang dialaminya tadi. Shim ajussi hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu tersenyum.

“Ya hyung, kau dengar aku tidak?!”


Teriak Kwnagmin tepat di telinga Shim ajussi. Lalu ia meninggalkan bossnya itu dan pergi ke counter kembali berkutat dengan pekerjaannya. “Percuma aku cerita panjang lebar padanya,” ucapnya dalam hati.

“Lebih baik kau minta maaf padanya sebelum semuanya terlambat dan kau hanya bisa menyesal,”


Tiba-tiba Shim ajussi sudah berada di depan Kwangmin lalu pergi lagi.

***

“Aigoo, aku malas eomma, aku di rumah saja, ne?”

Rengek Youngmin pada eommanya. Ia malas untuk pergi kemanapun hari ini. Sejak kepulangannya dari sekolah, ia hanya menutup dirinya dnegan selimut super tebal bergambar Winnie The Pooh, favorite-nya.

“Tidak bisa, Minnie-ah. Appamu meminta kita semua untuk pergi. Ini klien penting appamu lho. Kau juga harus mengenalnya. Ia nanti akan jadi klienmu juga, eoh?”


Ucap wanita paruh baya itu. Ia menepuk punggung Youngmin agar bangkit dari tidurnya. Youngmin mendesah pelan lalu berdiri. Mulai mandi dan memakai pakaiannya.

Author POV End

***

Youngmin POV

Aku, Appa, Eomma dan Yongjin, dongsaengku, sudah berada  di rumah rekan kerja appa. Dengan malas ku langkahkan kakiku. Yongjin yang sedari tadi merangkul lenganku melepas rangkulannya ketika melihat seseorang. Aku melirik ke arahnya lalu pada orang itu. Ku rasa aku pernah melihat namja itu. Dimana ya?

Appa mulai bicara dengan rekan bisnisnya itu. Eomma juga nampak akrab dengan istrinya. Yongjin terlihat memperhatikan namja tadi dan entah siapa di namja yang duduk di sebrangku, ia terus menatapku tak suka.

“Hey, kau Youngmin anak baru itu yah?”


Tanya namja yang sedari tadi menjadi pusat perhatian adikku.

“Ne. Lee youngmin imnida,”


Aku memperkenalkan diri. Ku lihat Yongjin tampak memberikan death glare-nya padaku. Haha. Anak ini. Ia tak patut cemburu seperti itu, kan?!


“Aku sunbaemu di sekolah lho. Hyunseong imnida,”


“Hyung, kau tak perlu memperkenalkan diri pada orang itu. Dia yang membuat Minnie Winnie-ku menangis dan kabur pagi tadi,”


Ketus namja di depanku. Minnie Winnie? Aku sepertinya pernah mendengar panggilan ini. Ah, dia kan teman sebangkunya Kwangmin. Namja yang dikejar Kwangmin kemarin di kantin. Tapi tadi dia bilang aku buat Minnie Winnie-nya menangis? Eh, adikku tidak mungkin berpacaran dengan bocah ini kan?!

“Haha. Maafkan dongsaengku, ne? Dia selalu bersikap protektif jika itu menyangkut Kwangmin,”


“Eh?”


“Mereka itu sahabat sejak kecil,”


Huh. Aku bernafas lega. Lagipula itu tidak mungkin kan. Semanis apapun wajah namja di hadapanku ini, Kwangmin pasti tetap memilih wanita.

Karena bosan aku pergi ke taman belakang rumah ini. Yongjin mengabaikanku dan sibuk tebar pesona pada Hyunseong sunbae. Ku dengar langkah kaki di belakangku. Apa itu Yongjin?

“Apa yang kau lakukan pada Minnie Winnie?”


Eh? Minnie Winnie? Ah, Kwangmin maksudnya.

“Kau tak mendengarku?”


“Itu...”


Kujelaskan ceritanya dari awal pada Minwoo. Aku rasa dia bisa membantuku untuk ini. Bukankah mereka bersahabat? Biasanya seseorang lebih mudah mendengar penjelasan sahabatnya kan?!

Youngmin POV End

***

Author POV

Minwoo melangkahkan kakinya cepat. Ia tak sabar untuk masuk kelas dan memberitahukan berita penting pada Kwangmin. Ia benar-benar berharap sahabatnya itu mau mendengar perkataannya. Setengah berlari menyusuri lorong sekolah. Tak mengindahkan sapaan dari para penggemarnya yang berteriak histeris karena untuk pertama kalinya Minwoo bersikap dingin seperti ini.

Memasuki kelas yang sudah cukup ramai. Tak menemukan Kwangmin di dalamnya. Bertanya pada beberapa temannya. Segera berlari menuju Perpustakaan karena mereka bilang Kwangmin pergi kesana untuk memberikan buku yang seharusnya sudah ia berikan kemarin.

“Minnie Winnie!!!”


Seru Minwoo ketika mendapati Kwangmin keluar dari Perpustakaan. Kwangmin yang mendengar teriakan Minwoo menoleh dan melambaikan tangannya.

“Waeyo Minnie-ah?”


Tanyanya saat mereka berdua berhadapan. Minwoo yang masih ngos-ngosan *?* mulai mengatur nafasnya.

“Youngmin. Youngmin pulang ke Amerika lagi hari ini, Winnie!


Author POV End

***

Kwangmin POV

Aku menelusuri setiap celah di bandara. Berlarian kesana kemari mencari keberadaan Youngmin hyung. Aku harap pesawat menuju Amerika belum berangkat. Minwoo yang juga ikut berlari nampak sudah kelelahan. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu hyung. Aku benar-benar merindukannya. Aku tak mau menyesal seperti yang dikatakan Changmin hyung.

Beberapa kali meneriakan namanya. Tapi tak ada yang menjawab. Hyung, kau dimana?!

“Kwangie-ah,”


Ku dengar suara Youngmin hyung dari belakangku. Aku berbalik dan...

Kwangmin POV End

Youngmin POV

“Kwangie-ah,”


Aku memanggil namanya. Ia berbalik ke arahku.

“Hyung!”


Serunya lalu memelukku.

Jinja!

Aku tak percaya kalau ini akan terjadi. Sebelumnya aku merasa kalau rencana Minwoo ini takkan berhasil karena Kwangmin pasti benar-benar membenciku.

Ya. Ini semua rencana Minwoo. Mendengar ceritaku yang menurut Minwoo mengharukan membuatnya ingin membantuku. Berpura-pura kalau aku akan pergi ke Amerika hari ini. Mendesak Kwangmin agar menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

“Mianhe saengie-ah,”


Membalas pelukan Kwangmin erat. Tak ingin berpisah lagi. Sungguh. Aku menyayanginya. Ia harta paling berharga dalam hidupku. Takkan melepaskannya lagi. Takkan meninggalkannya lagi. Takkan berbuat bodoh lagi.

“Kajima hyung,”


“Ne!”


“Kau boleh membuangnya tapi jangan berikan ini lagi padaku,”


Menyodorkan gantungan Winni The Pooh padanya.

“Ani hyung. Aku takkan membuangnya. Mianhe,”


Memeluk Kwangmin lagi. Bogoshipo, Kwangie-ah!”

***

Aku dan Kwangmin pergi bersama ke sekolah. Setelah bilang apa yang terjadi sebenarnya, eomma meminta Kwangmin untuk jadi anaknya juga. Dan Yongjin, yeoja imut itu langsung tebar pesona pada Kwangmin. Dia bilang Kwang lebih tampan dibandingkan denganku. Ah, kami kan kembar!

“Hey kau lihat! Ketika mereka berjalan bersama, mereka benar-benar seperti kembar,”


Yeoja itu lagi.

“Ne. We’re really twins!”


Ucapku dan Kwangmin bersamaan. Mengedipkan sebelah mata kami. Sepertinya kami bukan hanya kembar wajah. Haha

Youngmin POV End

END

Boyfriend FacFiction - Mom and Me


Title : Mom and Me

Author : =DoRha=

Genre : Family

Lenght : One Shoot

Cast : No Minwoo a.k.a Kim Minwoo (Donghyun’s son)

Kim Donghyun a.k.a Kim Donghyun (Minwoo’s Father)

Choi Rara a.k.a Kim Rara (Donghyun’s wife a.k.a Minwoo’s step mother)

Dan yang malas saya sebutkan satu-satu #plakk

Note : Abal! Bagi yang ga mau baca mending baca sampe akhir dan bash saya! #author gila

HAPPY READING ^^

Minwoo’s POV

Aku menyusuri jalanan kompleks menuju rumah. Sebenarnya aku sangat malas untuk pulang. Tapi karena nyonya cerewet itu terus menelponku dan menyuruhku pulang, apa daya. Aku pulang juga. Lagi pula dari tadi Jo twins sudah mengusirku agar pergi dari rumah mereka. Teman macam apa mereka?! Temannya susah bukan dibantu malah diusir. Huh..

“Aish, Minwoo kau kemana saja, eoh?!” tanya nyonya cerewet itu a.k.a Choi Rara yang sekarang berganti marga menjadi Kim karena menikah dengan appaku! Kau dengar?! APPAKU!!!

Ck.

Miris sekali hidupku. Kau tahu, umurnya itu tak jauh beda denganku. Kami hanya terpaut 3 tahun. Aku 17 dan dia 20. Harusnya dia menjadi noonaku saja bukan!? Tapi entah apa yang appa miliki hingga nyonya cerewet ini sangat mencintainya dan ingin sekali menikah dengannya. Kim Donghyun, kalau saja kau bukan appaku, aku pasti sudah memenggalmu. Seandainya kau tahu kalau di sekolah aku sering mendapat ejekan karena dirimu dibilang pedofil. Oh My...

“Minwoo, kau makan malam dulu, ne? Appamu tidak pulang hari ini karena ada meeting diluar kota,” ucap nyonya cerewet itu padaku sambil berjalan dibelakangku. Aigoo, ia benar-benar seperti anak kecil kau tahu?! Jika appa ada di rumah, ia mengikuti appa kemanapun seperti anak kecil yang mengikuti induknya. Dan jika appa pergi, akulah korbannya!

“Minwoo, kau seharusnya menjawab jika orang lain bicara padamu,” ucapnya lagi. Ah, dasar cerewet.

“Memangnya kau bertanya padaku?” tanyaku.

“Memangnya tidak yah?! Tapi bukannya tadi aku memintamu untuk makan?” Ia memiringkan kepalanya dan menggigit jari telunjuknya. Kebiasaanya jika ia sedang berfikir. Ck. Dia bukan hanya kekanakan tapi dia juga bodoh.

“Ah, aku bingung. Tapi sebaiknya kau memberikanku jawaban atas permintaanku,” See? Benarkan kalau yeoja dihadapanku ini bodoh?!

“Memangnya kau minta apa?” tanyaku lagi. Menggodanya seperti ini adalah kesenangan sendiri untukku. Wajah bodohnya itu selalu membuatku ingin tertawa.

“Aku tidak minta apa-apa sih” ucapnya. “Tapi aku menyuruhmu makan, kan?” ia tampak ragu dengan perkataannya sendiri.

“Baiklah. Aku akan makan nanti,” seruku dari dalam kamar. Terlalu lama menunggunya berfikir akan membuatku mati cepat karena frustasi tahu!

Ku ganti seragamku dengan baju yang sudah disiapkan nyonya cerewet itu. Dia memang selalu menyiapkan perlengkapanku dengan appa. Seperti ibu sungguhan. Ah, dia memang eommaku sekarang.

Menuruni tangga karena kamarku yang berada di lantai dua. Ku lihat kalau nyonya cerewet itu sedang menyiapkan makanan di meja. Meski usianya masih muda, dalam urusan rumah tangga, dia cukup cakap. Memasak, membersihkan rumah, mencuci ia lakukan sendiri. Dulu, sebelum ia datang, aku dan appa pasti kerepotan. Appa paling tidak suka ada orang lain di rumahnya, jadi kami tak bisa menyewa pembantu.

“Minwoo-ah, kyeopta!” serunya riang. Ia segera menghampiriku dan menarikku duduk di kursi makan. Ia merogoh saku di celemeknya. Ia mengambil handphone ternyata.

“Ayo lihat kesini! Kau tampan sekali dengan baju yang baru aku dan appa belikan. Aku akan mengirim fotomu padanya,” ucapnya panjang lebar. Aku terpaksa tersenyum karena tak tega membiarkan wajahnya yang berseri-seri ini menjadi kusut karena satu perkataanku yang menyakitkan. Ah, kau perlu tahu hal lain tentangnya. Ia sedikit sensitif dengan kata-kata kasar. Ia akan menangis dalam waktu lama jika kau mengucapkan kata-kata kasar padanya.

“Sudah. Appamu pasti senang sekali,” Ia memasukan handphonya kembali dan ikut duduk bersamaku.

“Ayo makan!”

***

“Yuhuuu! Minwoo!!!” Kudengar suara nyonya cerewet di telingaku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada nyonya cerewet itu disini. Ah, benar juga. Masa ia nyonya cerewet itu ada disini. Dia pasti sedang kuliah sekarang.

Pletak

Sebuah jitakan maha dahsyat mendarat di kepalaku.

Argh.. Siapa yang melakukan ini.

“Ya! Adeul! Sudah aku bilang untuk membalas sapaan dari orang lain!” Ku dengar lagi suara nyonya cerewet itu. Kini aku menengok ke belakang.

Kyaaaa!!!

Ia benar-benar seperti hantu. Ada dimana-mana!

“Kau! Kenapa ada disini?” Tanyaku, sedikit berteriak. Kaget melihat ia sudah ada di sekolahku.

“Hehe. Aku mau mengajakmu belanja. Let’s Go!” Ia merangkul pundakku dan mengajakku menuju mobil barunya yang appa belikan sebulan lalu karena dia mendapat drive license. Ck.

Kami sudah berada di pusat perbelanjaan sekarang. Seperti yang kalian ketahui, menemani yeoja belanja adalah hal terburuk setelah kalah bermain game! Dan kini aku sedang merasakannya. Berjalan kesana kemari mencari barang yang ingin ia beli. Tapi sampai detik ini, setelah dua jam berputar-putar, ia sama sekali belum membeli apapun! BELUM MEMBELI APAPUN!!!

Untung saja sebelum ia memulai acara belanjanya, ia sudah mengisi perutku dengan banyak makanan. Hingga aku takkan berbicara banyak dan kembali menghabiskan energiku.

“Chagiya, apa ini bagus untuk appa?” Ia memperlihatkan kemeja lengan panjang bermotif kotak.

“Appa itu sudah tua. Tidak cocok dengan baju seperti ini,” ketusku. Aku benar-benar lelah.

“Jinja?! Bagaimana kalau polos seperti ini?”

“Appa sudah punya banyak di rumah,”

“Yang ini?”

“Tidak,”

“Ini?”

“Tidak,”

“Ah, yang ini?”

“Tidak,”

“Kalau begitu kau saja yang pilih!” bentaknya kesal. Ia menggembungkan pipinya imut. Ck, nyonya cerewet ini. Pegawai toko ini hanya terkekeh melihat kami. Ah, kau membuatku malu nyonya cerewet.

“Yang ini saja!” Aku mengambil baju asal.

“Minwoo pabo! Ini kan yang tadi aku tunjukan padamu!” Ia mendengus kesal. Mengerucutkankan bibirnya lalu membayar baju-baju yang dipilihnya tadi. Semoga setelah ini kami bisa pulang.

Ternyata ia masih belum mau pulang. Sekarang ia mencari baju untukku. Ck. Aku bisa membeli bajuku sendiri. Tidak perlu diantar seperti ini. Mengelilingi mall satu kali lagi. Ini lebih melelahkan dibanding berlatih dance 5jam nonstop!

“Aku ingin pulang,” rengekku akhirnya.

“Ne? Tidak bisa chagi,” ucapnya.

“Wae?” tanyaku.

“Kan kita mau makan malam di luar bareng appamu. Makanya aku ajak kau kesini biar tidak kesal menunggu di rumah. Lagipula tinggal se-jam lagi. Ayo kau cari baju saja. Biar bisa ganti,” jawabnya panjang dan lebar dan tinggi dan luas dan...

Sekarang aku tengah berada diantara seorang yeoja bodoh dan namja gila. Benar-benar membuatku tak berselera untuk makan. Meskipun wajah appaku tidak setua umurnya, tetap saja dia sudah tua. Tidak perlu bermesraan seperti anak remaja yang sedang kasmaran seperti ini. Dan yeoja ini, apa dia tidak malu jalan sama om-om. Yah meskipun ini om-om sudah menjadi suami sahnya.

“Chagi, kenapa ga dimakan?” tanya nyonya cerewet ini.

“Mau eomma suapin?!” tawarnya dengan mata berbinar seperti memenangkan undian senilai jutaan won.
“Aku tidak lapar,” seruku seraya memalingkan wajahku.

“Tapi nanti kau sakit. Makan sedikit saja, ne?” Ia menyodorkan makanannya ke mulutku. Aku melirik appa yang tengah terkekeh. Aish appa, harusnya kau menolong anakmu ini!

“Shireo!” Aku menepisnya menyebabkan sendok itu terjatuh ke lantai.

“Minwoo..” suaranya bergetar ketika mengucapkan namaku. Lalu berlari meninggalkanku dan appa yang terpaku tak tahu harus melakukan apa.

“Mianhe appa,” ucapku akhirnya.

“Gwenchana. Kita sama-sama tahu kan kalau dia itu sensitif?! Kau teruskan makanmu, appa akan mengejar Rara,”
Aku pulang sendiri karena appa dan nyonya cerewet itu pergi entah kemana. Lagi-lagi aku harus berjalan sendiri ke rumah. Melangkahkan kakiku pelan. Aku merasakan kakiku melayang. Terlalu lelah berkeliling mall, mungkin.

“Masuklah!” Ku tengok sumber suara. Nyonya cerewet itu dengan mobil barunya. Segera aku berlari dan masuk ke dalam mobil. Rumahku masih cukup jauh jika harus berjalan seperti tadi.

“Mianhe,” ucapku memecah keheningan yang tercipta sejak nyonya cerewet ini menginjak pedal gasnya. Ia tidak membalas ucapanku.

“Apa kau marah?” tanyaku. Ia masih diam.

“Kau bilang jika ada orang bertanya kau harus menjawabnya. Kenapa sekarang kau tak menjawab pertanyaanku?” tanyaku lagi. Ia masih teguh dengan pendiriannya. Aku menyerah. Mungkin ia benar-benar marah padaku.

***

Jam weker di sebelahku sudah menunjukkan angka 6. Tumben sekali nyonya cerewet itu belum berkoar memanggilku. Biasanya jam segini aku sudah harus rapi dan berada di meja makan. Tapi membangunkanku saja tidak. Apa dia lupa kalau ada namja imut yang sedang menunggunya di kamar ini?!

“Minwoo! Ayo sarapan!” ucap appa setelah berhasil membuka pintu kamarku. Padahal ku kira nyonya cerewet itu yang datang. Aku segera turun dan duduk di kursi makan.

Nyonya cerewet itu tidak masak apapun hari ini. Ia hanya menyiapkan roti dengan selai strawberry dan susu. Aku juga tidak tahu keberadaannya sekarang. Ia tidak sarapan bersama kami. Ah, dia benar-benar marah ternyata. Padahal biasanya dia sudah kembali dengan kebiasaannya yang cerewet dan menyebalkan. Eh?! Kenapa aku jadi merindukannya begini?!

Aku berangkat sekolah diantar oleh appa. Appa bilang nyonya cerewet itu sudah pergi ke kampusnya pagi-pagi sekali. Ini bukan kebiasaan nyonya cerewet itu sama sekali. Dia tidak pernah berangkat mendahului kami. Jikapun ia harus pergi pagi, ia akan pergi bersama kami. Tak peduli jika ia harus terlambat. Karena yang terpenting baginya adalah kami, keluarganya.

***

Sudah tiga hari sejak ia marah padaku. Ia sama sekali tak mau bicara padaku. Jika kami berpapasan ia segera pergi menghindariku. Saat makan juga. Ia lebih suka diam tak menanggapi ucapanku atau appa. Benar-benar bukan Rara yang ku kenal. Meski aku tahu dia sangat sensitif, dia juga paling mudah memaafkan orang lain. Tak perlu minta maaf juga dia akan tetap bersikap baik padamu. Tapi...

“Minwoo-Ah, waeyo?” Tanya appa padaku. Aku hanya menggeleng pelan dan melanjutkan kegiatanku, mengganti-ganti channel.

“Kau tidak pusing mengganti channel teru seperti itu?” Tanya appa lagi. Lagi-lagi, aku hanya menggeleng pelan. Aku sama sekali tak memperhatikan tivi ini appa.

“Kau memikirkan Rara, eoh?” Tanya appa lagi. Ku gelengkan kepala lagi.

“Lalu kau kenapa?”

Ku tinggalkan appa di ruang tengah dan pergi ke kamarku. Sepertinya appa ketularan nyonya cerewet itu. Ia kan biasanya tak pernah memperhatikan aku seperti itu. Kenapa sekarang tiba-tiba ia peduli padaku?

Ku hempaskan tubuhku di single bed yang nyonya cerewet itu belikan saat ia belanja beberapa bulan lalu. Jika ku pikir lagi, banyak sekali benda di rumah ini yang ia ganti. Beberapa hal yang tidak ia ganti hanya tata letak dan foto-foto eomma. Seandainya eomma masih ada disini, mungkin appa tak perlu menikah dengannya.

Tok tok tok

Pintu kamarku di ketuk. Terdengar suara appa mengajakku makan siang diluar. Mungkin ini kesempatan bagus untukku minta maaf pada nyonya cerewet itu.

Kuganti bajuku dengan baju yang dibelikan nyonya cerewet itu kemarin. Semoga saja ini bisa meluluhkan hatinya. Dia kan paling suka jika aku memakai barang pemberian darinya. Haha. Kau benar-benar jenius Kim Minwoo!!

***

Makan siang kali ini menjadi makan siang paling buruk dalam hidupku. Kami semua saling diam. Meski beberapa kali appa membuka pembicaraan, tak ada satupun dari aku atau nyonya cerewet itu yang menjawabnya. Terdengar dengusan kesal dari hembusan nafas appa. Jangan sampai appa marah lagi.

“Ya! Mau sampai kapan kalian seperti ini?” Tanya appa sedikit ketus. Meletakkan sendok dan garpunya kasar. Aku hanya diam. Nyonya cerewet itu juga. Tapi kulihat matanya mulai berkaca. Ingin menangiskah?!

“Masih diam?” sinis appa. Aku menundukkan wajahku. Aku tak tahu harus bicara apa.

“Kim Minwoo, kau tak mau bicara?” Tanya appa lagi. Aku masih diam.

“Kim Rara?”

Aku bangkit dari dudukku dan pergi meninggalkan mereka. Entahlah. Aku malas berada disana. Udara disana membuatku sesak.

Minwoo POV End

Rara POV

Makan siang kali ini makan siang paling panjang seumur hidupku. Minwoo diam saja kursinya sedangkan Donghyun oppa membuka pembicaraan yang membuatku malas untuk terlibat. Ah, sampai kapan ini akan terjadi?

“Ya! Mau sampai kapan kalian seperti ini?” Tanya Donghyun oppa ketus. Aku diam saja. Rasanya ingin menangis saat ini juga. Tapi kalau tidak ingat Minwoo akan meledekku si cengeng, aku hanya bisa menahan tangisku sekarang.

“Masih diam?” sinis Donghyun oppa. Aku menundukkan wajahku. Aku benar-benar ingin menangis.

“Kim Minwoo, kau tak mau bicara?” Tanya Donghyun oppa lagi. Dengan pandanganku yang mulai kabur karena air di pelupuk mataku, ku lihat masih saja diam.

“Kim Rara?” Aku? AH, aku harus bicara appa. Aku sendiri tak tahu kenapa atmosfer disekitar sini terasa tak baik.
Air mataku jatuh ketika ku kedipkan mataku. Minwoo langsung pergi. Ah, sudah ku duga kalau Minwoo benci dengan sikapku yang cengeng. Tapi aku bisa apa. Aku sudah berusaha  menahan  tangis ini. Tetap saja terjatuh. Ku hapus airmata ini dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemana-mana.

“Hei, kau menangis?” tanya Donghyun oppa. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Ia mencim kedua mataku.

“Gwenchana, Minwoo tidak benar-benar marah padamu,” ucapnya kemudian. Aku hanya mengangguk.

Aku bangkit dari dudukku.

“Mau kemana?”

“Aku harus mencari Minwoo oppa. Dia belum makan apapun sejak kemarin,”

Ku langkahkan kakiku keluar restoran, mencari keberadaan Minwoo.

Rara POV End

Minwoo POV

Kriiiuuukkk..

Aduh. Aku lapar sekali. Sejak selamam aku belum makan apapun. Itu semua karena nyonya cerewet itu. Masa dia tidak masak apapun. Tadi pagi juga hanya ada roti. Aku benci saat dia marah seperti ini. Aku jadi kelaparan.

“Ini,” seseorang menyodorkan kotak makan padaku. Aku mendongkak. Kutemukan nyonya cerewet itu sedang tersenyum padaku. Aku mengerjapkan mataku. Mengucek mataku pelan. Aku mimpi, eoh?

“Ya! Aku sudah pegal! Ambil ini!” Ia menaruh kotak itu di pangkuanku. Kulihat ia punya kotak yang sama. Apa dia sengaja membelikannya untukku?! Tapi kan dia sedang marah padaku.

“Tidak dimakan?” Ia mengerjapkan matanya imut.

“Ye? Ani. Selamat makan!” ucapku.

Aku memakan makanan itu pelan. Rasanya sedikit canggung setelah beberapa hari ini tidak bicara padanya.

“Minwoo-ah, mianhe,” lirihnya. Aku menoleh ke arahnya. Ia menaruh sumpitnya diatas kotak itu. Memandang kotak itu hambar.

“Aku tahu. Aku seharusnya tidak boleh memaksamu menerimaku. Aku bahkan belum pantas menjadi seorang istri, apalagi ibu,”

Deg...

Apa maksudnya?

Aku memang agak sedikit kecewa ketika appa mengenalkan ia sebagai kekasihnya. Apalagi, aku sudah kenal nyonya cerewet ini sebelumnya. Tapi aku juga tak berhak melarang mereka kan? Eomma sudah meninggal sejak aku masih kecil. Appa pasti merasa kesepian setelah ditinggal eomma. Ketika memperkenalkan dia, appa kelihatan senang sekali. Jadi aku bisa apa?!

“Tapi aku mencintai appamu dan kau juga. Aku sayang kalian berdua,”

“Kau boleh membenciku jika itu membuatmu senang. Tapi kau harus tahu, kalau aku benar-benar menyayangimu. Bukan karena kau adalah anak Donghyun oppa, tapi karena kau, bocah kecil yang selalu menggangguku,”

Nyonya cerewet! Aku tak pernah membencimu, kau tahu?! Hanya saja aku sedikit cemburu karena kau malah menyukai appaku bukan aku. Seandainya kau tahu kalau sebenarnya sejak dulu aku menyukaimu. Sungguh, ketika appa mengenalkanmu sebagai kekasihnya aku shock, kecewa dan tentu saja cemburu. Tapi bukan berarti aku tidak menerimamu, nyonya cerewet. Bukan berarti aku membencimu.

“Hah. Seharusnya aku mengikuti kata appa untuk tidak menikah dengan appamu. Aku tidak tahu kalau kau akan benar-benar membenciku seperti ini,”

Ia tersenyum miris.

“Eomma,”

Ia mendongkakkan kepalanya. Terkejut, mungkin.

“Kau ingin aku menyebutmu eomma kan?”

Ia menoleh padaku. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutan.

“Baiklah. Aku akan memanggilmu eomma,”

Ia mengerjapkan matanya lagi. Aish, ia lebih mirip bocah berusia 5 tahun dibanding yeoja berusia 20 yang sudah memiliki suami dan anak. Dan aku lebih cocok menjadi oppanya jika seperti ini.

Hup..

Ia memelukku.

“Chagiya! Saranghae!!!” serunya dari balik punggungku. Aku rasa, kami lebih mirip sepasang kekasih dibanding ibu dan anak. #evil laugh

Minwoo POV End

Rara POV

“Minwoo-ah, mianhe,” lirihku. Aku menaruh sumpitku diatas kotak makanan. Memandang kotak itu hambar.

“Aku tahu. Aku seharusnya tidak boleh memaksamu menerimaku. Aku bahkan belum pantas menjadi seorang istri, apalagi ibu,”

Ucapku.

Aku benar-benar sadar dengan masalah ini. Umurku baru saja memasuki 20 tahun. Hanya terpaut tiga tahun darinya yang sudah berusia 17. Lebih mudah diterima jika ia adalah dongsaengku.

“Tapi aku mencintai appamu dan kau juga. Aku sayang kalian berdua,”

Akuku. Aku benar-benar menyayangi mereka berdua. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau aku akan mencintai appa dari bocah nakal ini. Sampai tiba hari itu, ketika aku dipertemukan dengan anaknya. Aku kaget luar biasa karena melihat bocah jail itu ada di rumah Donghyun oppa.

“Kau boleh membenciku jika itu membuatmu senang. Tapi kau harus tahu, kalau aku benar-benar menyayangimu. Bukan karena kau adalah anak Donghyun oppa, tapi karena kau, bocah kecil yang selalu menggangguku,”

Mencoba berbagi perasaanku sesungguhnya. Aku sudah menganggapnya dongsaengku bahkan sebelum aku bertemu dengan Donghyun oppa. Dia adalah anak manis yang sering bermain di rumah Jo bersaudara, tetanggaku.

 “Hah. Seharusnya aku mengikuti kata appa untuk tidak menikah dengan appamu. Aku tidak tahu kalau kau akan benar-benar membenciku seperti ini,”

Aku tersenyum miris. Mengingat betapa appa melarangku menikah karena usia Donghyun oppa yang hanya lebih muda beberapa tahun dengan appa. Appa bilang, ia lebih cocok menjadi pamanku dibanding suami.

“Eomma,”

Aku mendongkakkan kepala mendengar Minwoo memanggilku eomma. Sejak menikah dengan appanya, Minwoo tidak pernah lagi menyebut namaku, apalagi memanggilku eomma.

“Kau ingin aku menyebutmu eomma kan?”

Aku menoleh ke arahnya. Ia nampak tersenyum tipis.

“Baiklah. Aku akan memanggilmu eomma,”

Aku mengerjapkan mata. Tak percaya dengan apa yang ia katakan. Eomma. Ia akan memanggilku eomma?! Mimpi apa aku semalam?

Hup..

Aku memeluknya. Aku benar-benar senang.

“Chagiya! Saranghae!!!”

Seruku dibalik punggungnya. Aku berjanji kalau aku akan jadi Eomma yang baik. Aku akan menghilangkan sikap manja dan cengengku. Aku takkan membuatmu marah dan malu lagi karena memiliki eomma yang umurnya hanya terpaut beberapa tahun darimu.

Yaksok, Minwoo-ah...

Rara POV End

Author POV

Seorang namja tampan berjalan mendekati Minwoo dan Rara. Tersenyum melihat anak dan istrinya yang berpelukan. Kim Donghyun. Ya, dia Kim Donghyun. Namja tampan yang dari wajahnya hanya berusia  25 tahun. Tak menyangka kalau umurnya yang sebenarnya sudah 40an dan memiliki anak seusia Minwoo.

“Tak mau berbagi pelukan denganku?!” Menyilangkan tangannya di depan dada. Merasa diabaikan karena kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh mereka berdua.

Rara melepas pelukannya dan menatap Donghyun. Minwoo juga menatap appanya itu dan tersenyum.

“Aish, kalian masih diam?” Melangkahkan kakinya menghampiri Minwoo dan Rara yang diam ditempatnya. Kaget, molla.
Bangkit dan berlari meraih lengan kekar itu, bersamaan. Memeluk namja yang mereka kasihi.

***

“Tak peduli lagi jika aku tak bisa menggapaimu. Karena sekarang kau yang paling dekat denganku. Choi Rara. Ani, Kim Rara. Saranghae!”


=Kim Minwoo=


“Terima kasih karena sudah menerimaku. Meski aku tahu dia tak mungkin terganti. Tapi aku mencintaimu, mencintai appamu. Mencintai kalian. Saranghae!”


=Choi Rara, eh, Kim Rara=


“Terima kasih karena menjadi bagian indah dihidupku, Kim Rara dan Kim Minwoo. Dan untukmu, istriku, semoga tenang disana. Saranghae!”


=Kim Donghyun= (yang ikut eksis doang) XD

END